KAEF Siapkan Ekosistem Terintegrasi, Perkuat Misi Indonesia Bebas TB pada 2030
Selasa, 14 Juli 2026 - 17:08 WIB
loading...
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto saat menghadiri Forum Nasional TB 2026 bertajuk National Policy and Implementation of the TB Program, Selasa (14/7/2026). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Upaya Indonesia mengakhiri Tuberkulosis (TB) tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat, tetapi juga membutuhkan ekosistem layanan kesehatan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) yang memiliki kapabilitas terintegrasi mulai dari produksi bahan baku dan obat jadi, distribusi, hingga layanan kesehatan, siap mendukung upaya pencapaian target eliminasi TB pada 2030 dan Indonesia bebas TB pada 2050.
Komitmen tersebut disampaikan di tengah tingginya beban penyakit TB di Indonesia. Berdasarkan Global TB Report 2024 dan data Kementerian Kesehatan 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB terbanyak kedua di dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1.090.000 kasus dan 125 ribu kematian setiap tahun. Menurut data Kemenkes pada 2024, sekitar 885 ribu kasus telah berhasil ditemukan dan dilaporkan.
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, mengatakan perusahaan memiliki ekosistem kesehatan terintegrasi yang mencakup produksi bahan baku dan obat, distribusi nasional, hingga layanan kesehatan yang mendukung penanganan TB secara menyeluruh.
"KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030," kata Hanadi saat menghadiri Forum Nasional TB 2026 bertajuk National Policy and Implementation of the TB Program, Selasa (14/7/2026).
Sebagai produsen farmasi nasional, Kimia Farma memiliki portofolio lengkap obat TB, baik untuk Tuberkulosis Sensitif Obat (DS-TB) maupun Tuberkulosis Resisten Obat (DR-TB). Sejumlah produk telah tersedia dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC) untuk pasien dewasa maupun anak.
Perusahaan juga terus mengembangkan inovasi terapi, termasuk memproduksi antibiotik Moxifloxacin yang mulai diluncurkan sejak 2025 sebagai bagian dari kesiapan mendukung regimen pengobatan TB yang lebih efektif.
Di sektor hulu, Kimia Farma didukung fasilitas produksi modern di Jakarta dan Banjaran dengan kapasitas lebih dari 500 juta tablet per tahun guna menjamin ketersediaan obat bagi program nasional.
Tak hanya di bidang produksi, Kimia Farma juga memperkuat deteksi dini melalui penyediaan teknologi diagnostik seperti alat uji TB LAMP dan layanan skrining berbasis X-Ray untuk mempercepat penemuan kasus.
Pada sisi distribusi, perusahaan mengandalkan jaringan 44 cabang yang menjangkau seluruh Indonesia, termasuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sehingga pasokan obat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan logistik TB dapat tersalurkan secara merata.
Sementara itu, layanan hilir diperkuat melalui lebih dari 1.000 apotek, lebih dari 350 klinik kesehatan, dan 65 laboratorium medis. Jaringan tersebut berperan mendukung kepatuhan pasien menjalani terapi, mempercepat rujukan klinis, serta mengintegrasikan data pasien secara real time ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan.
Menurut Hanadi, integrasi dari produksi, distribusi, diagnostik hingga pelayanan kesehatan menjadi modal utama Kimia Farma dalam mendukung agenda prioritas pemerintah.
"Integrasi end-to-end value chain ini adalah kontribusi KAEF sebagai mitra strategis pemerintah untuk mewujudkan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan Indonesia bebas TB pada tahun 2050," ujarnya.
Pemerintah sendiri telah menetapkan eliminasi TB sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional yang sejalan dengan strategi global End TB Strategy. Selain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, keberhasilan menekan TB dinilai akan berdampak langsung pada produktivitas, kualitas sumber daya manusia, serta ketahanan kesehatan nasional.
Melalui penguatan ekosistem kesehatan yang terintegrasi, Kimia Farma menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi produsen obat, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam mempercepat terwujudnya Indonesia bebas TB.
Komitmen tersebut disampaikan di tengah tingginya beban penyakit TB di Indonesia. Berdasarkan Global TB Report 2024 dan data Kementerian Kesehatan 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB terbanyak kedua di dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1.090.000 kasus dan 125 ribu kematian setiap tahun. Menurut data Kemenkes pada 2024, sekitar 885 ribu kasus telah berhasil ditemukan dan dilaporkan.
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, mengatakan perusahaan memiliki ekosistem kesehatan terintegrasi yang mencakup produksi bahan baku dan obat, distribusi nasional, hingga layanan kesehatan yang mendukung penanganan TB secara menyeluruh.
"KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030," kata Hanadi saat menghadiri Forum Nasional TB 2026 bertajuk National Policy and Implementation of the TB Program, Selasa (14/7/2026).
Sebagai produsen farmasi nasional, Kimia Farma memiliki portofolio lengkap obat TB, baik untuk Tuberkulosis Sensitif Obat (DS-TB) maupun Tuberkulosis Resisten Obat (DR-TB). Sejumlah produk telah tersedia dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC) untuk pasien dewasa maupun anak.
Perusahaan juga terus mengembangkan inovasi terapi, termasuk memproduksi antibiotik Moxifloxacin yang mulai diluncurkan sejak 2025 sebagai bagian dari kesiapan mendukung regimen pengobatan TB yang lebih efektif.
Di sektor hulu, Kimia Farma didukung fasilitas produksi modern di Jakarta dan Banjaran dengan kapasitas lebih dari 500 juta tablet per tahun guna menjamin ketersediaan obat bagi program nasional.
Tak hanya di bidang produksi, Kimia Farma juga memperkuat deteksi dini melalui penyediaan teknologi diagnostik seperti alat uji TB LAMP dan layanan skrining berbasis X-Ray untuk mempercepat penemuan kasus.
Pada sisi distribusi, perusahaan mengandalkan jaringan 44 cabang yang menjangkau seluruh Indonesia, termasuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sehingga pasokan obat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan logistik TB dapat tersalurkan secara merata.
Sementara itu, layanan hilir diperkuat melalui lebih dari 1.000 apotek, lebih dari 350 klinik kesehatan, dan 65 laboratorium medis. Jaringan tersebut berperan mendukung kepatuhan pasien menjalani terapi, mempercepat rujukan klinis, serta mengintegrasikan data pasien secara real time ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan.
Menurut Hanadi, integrasi dari produksi, distribusi, diagnostik hingga pelayanan kesehatan menjadi modal utama Kimia Farma dalam mendukung agenda prioritas pemerintah.
"Integrasi end-to-end value chain ini adalah kontribusi KAEF sebagai mitra strategis pemerintah untuk mewujudkan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan Indonesia bebas TB pada tahun 2050," ujarnya.
Pemerintah sendiri telah menetapkan eliminasi TB sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional yang sejalan dengan strategi global End TB Strategy. Selain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, keberhasilan menekan TB dinilai akan berdampak langsung pada produktivitas, kualitas sumber daya manusia, serta ketahanan kesehatan nasional.
Melalui penguatan ekosistem kesehatan yang terintegrasi, Kimia Farma menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi produsen obat, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam mempercepat terwujudnya Indonesia bebas TB.
(abd)
Lihat Juga :