Said Aqil Siradj: Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
Minggu, 05 Juli 2026 - 21:55 WIB
loading...
Mantan Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam tidak cukup diwujudkan melalui semaraknya syiar dan simbol keagamaan. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam tidak cukup diwujudkan melalui semaraknya syiar dan simbol-simbol keagamaan. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah membangun iman yang benar dan tertanam kuat di dalam hati.
Pesan tersebut disampaikan dalam tausiahnya pada acara Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Majelis Rasulullah dan iNews TV, Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: Membaca Dinamika Menuju Muktamar ke-35 NU
Dalam kesempatan itu, Said Aqil mengajak umat Islam melakukan refleksi terhadap kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, kehidupan keagamaan tampak semakin semarak dengan berbagai kegiatan syiar Islam, pembangunan masjid, majelis taklim, serta berbagai aktivitas dakwah. Namun, pada saat yang sama berbagai bentuk penyimpangan moral juga masih terjadi.
"Hari ini syiar Islam begitu semarak, tetapi kemaksiatan juga semakin marak. Korupsi masih merajalela, ketidakjujuran masih banyak terjadi, dan berbagai penyimpangan moral masih menjadi persoalan bangsa. Ini menjadi bahan renungan bagi kita semua," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa syiar yang berkembang sering kali masih bersifat simbolik dan belum sepenuhnya melahirkan transformasi moral yang nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa akar persoalannya terletak pada kualitas keimanan. Iman tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat, tetapi harus bersemayam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Baca juga: Gandeng JK hingga Said Aqil, Din Syamsuddin Inisiasi Aliansi Global untuk Kemanusiaan
"Iman bukan sekadar di bibir dengan mengucapkan syahadat. Iman harus masuk ke dalam hati, menghidupkan kesadaran, membentuk akhlak, dan melahirkan amal saleh," tegasnya.
Lebih lanjut, Said Aqil menjelaskan bahwa qalb (hati) memiliki beberapa tingkatan yang menggambarkan kedalaman spiritual seseorang.
Tingkatan pertama adalah bashirah, yaitu penglihatan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk. Bashirah menjadi cahaya hati yang membimbing manusia dalam mengambil keputusan yang benar.
Tingkatan berikutnya adalah dhamir atau hati nurani. Pada tingkat ini, hati tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mendorong seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Menurut beliau, dhamir merupakan pusat kesadaran moral yang mengarahkan manusia agar hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, etika, dan kemanusiaan.
Beliau juga menjelaskan bahwa hati nurani memiliki beberapa dimensi, di antaranya dhamir dini (kesadaran keagamaan), dhamir qanuni (kesadaran hukum), serta dimensi moral yang menjadi pengawas batin dalam setiap tindakan manusia.
Adapun tingkatan yang lebih dalam adalah fuad, yaitu hati yang paling jujur. Fuad tidak dapat berdusta terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, fuad akan menghadirkan kegelisahan, penyesalan, dan dorongan untuk kembali kepada jalan Allah. Sebaliknya, hati yang terus-menerus mengabaikan suara fuad akan semakin keras dan kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.
Menurut Said Aqil, pembinaan iman harus diarahkan pada penguatan dimensi batin tersebut agar syiar Islam tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata.
"Syiar yang kita bangun jangan hanya bersifat simbolik. Yang dibutuhkan umat adalah syiar yang hakiki, yaitu syiar yang mampu membentuk akhlak, kejujuran, amanah, serta melahirkan masyarakat yang berintegritas," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan keagamaan atau banyaknya simbol-simbol Islam yang tampak di ruang publik, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam perilaku umat.
Menutup tausiahnya, Said Aqil mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum hijrah batin, memperkuat iman, membersihkan hati, serta membangun integritas pribadi sehingga lahir masyarakat yang religius, jujur, adil, dan berakhlak mulia.
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang dirangkaikan dengan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tersebut diharapkan menjadi momentum memperkokoh keimanan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membangun komitmen bersama dalam mewujudkan kemajuan umat dan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam tausiahnya pada acara Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan oleh Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Majelis Rasulullah dan iNews TV, Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: Membaca Dinamika Menuju Muktamar ke-35 NU
Dalam kesempatan itu, Said Aqil mengajak umat Islam melakukan refleksi terhadap kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, kehidupan keagamaan tampak semakin semarak dengan berbagai kegiatan syiar Islam, pembangunan masjid, majelis taklim, serta berbagai aktivitas dakwah. Namun, pada saat yang sama berbagai bentuk penyimpangan moral juga masih terjadi.
"Hari ini syiar Islam begitu semarak, tetapi kemaksiatan juga semakin marak. Korupsi masih merajalela, ketidakjujuran masih banyak terjadi, dan berbagai penyimpangan moral masih menjadi persoalan bangsa. Ini menjadi bahan renungan bagi kita semua," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa syiar yang berkembang sering kali masih bersifat simbolik dan belum sepenuhnya melahirkan transformasi moral yang nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa akar persoalannya terletak pada kualitas keimanan. Iman tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat, tetapi harus bersemayam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Baca juga: Gandeng JK hingga Said Aqil, Din Syamsuddin Inisiasi Aliansi Global untuk Kemanusiaan
"Iman bukan sekadar di bibir dengan mengucapkan syahadat. Iman harus masuk ke dalam hati, menghidupkan kesadaran, membentuk akhlak, dan melahirkan amal saleh," tegasnya.
Lebih lanjut, Said Aqil menjelaskan bahwa qalb (hati) memiliki beberapa tingkatan yang menggambarkan kedalaman spiritual seseorang.
Tingkatan pertama adalah bashirah, yaitu penglihatan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk. Bashirah menjadi cahaya hati yang membimbing manusia dalam mengambil keputusan yang benar.
Tingkatan berikutnya adalah dhamir atau hati nurani. Pada tingkat ini, hati tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mendorong seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Menurut beliau, dhamir merupakan pusat kesadaran moral yang mengarahkan manusia agar hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, etika, dan kemanusiaan.
Beliau juga menjelaskan bahwa hati nurani memiliki beberapa dimensi, di antaranya dhamir dini (kesadaran keagamaan), dhamir qanuni (kesadaran hukum), serta dimensi moral yang menjadi pengawas batin dalam setiap tindakan manusia.
Adapun tingkatan yang lebih dalam adalah fuad, yaitu hati yang paling jujur. Fuad tidak dapat berdusta terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, fuad akan menghadirkan kegelisahan, penyesalan, dan dorongan untuk kembali kepada jalan Allah. Sebaliknya, hati yang terus-menerus mengabaikan suara fuad akan semakin keras dan kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.
Menurut Said Aqil, pembinaan iman harus diarahkan pada penguatan dimensi batin tersebut agar syiar Islam tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata.
"Syiar yang kita bangun jangan hanya bersifat simbolik. Yang dibutuhkan umat adalah syiar yang hakiki, yaitu syiar yang mampu membentuk akhlak, kejujuran, amanah, serta melahirkan masyarakat yang berintegritas," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan keagamaan atau banyaknya simbol-simbol Islam yang tampak di ruang publik, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam perilaku umat.
Menutup tausiahnya, Said Aqil mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum hijrah batin, memperkuat iman, membersihkan hati, serta membangun integritas pribadi sehingga lahir masyarakat yang religius, jujur, adil, dan berakhlak mulia.
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang dirangkaikan dengan Semarak Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII tersebut diharapkan menjadi momentum memperkokoh keimanan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta membangun komitmen bersama dalam mewujudkan kemajuan umat dan bangsa.
(shf)
Lihat Juga :