Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:59 WIB
loading...
A A A
Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh berbagai perbedaan, donor darah menjadi salah satu sedikit ruang kemanusiaan yang masih mempertemukan orang-orang dalam tindakan solidaritas yang nyata. Namun persoalannya, solidaritas tidak selalu bertahan lama. Banyak orang bersedia berdonor sekali, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Di sinilah persoalan retensi pendonor menjadi sangat penting.

Mengapa Donor Baru Sering Menghilang?


Banyak orang menganggap kampanye Hari Donor Darah Sedunia hanya menghasilkan perhatian sesaat. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Floris J. Kranenburg dan rekan-rekannya dalam penelitian The Effect of World Blood Donor Day on Digital Information Seeking and Donor Recruitment (2017) menemukan bahwa kampanye Hari Donor Darah Sedunia mampu meningkatkan pencarian informasi, kunjungan ke situs donor darah, serta pendaftaran donor baru secara signifikan. Ketika Belanda menjadi tuan rumah kampanye global tahun 2016, jumlah donor baru meningkat sekitar 54,6 persen dibandingkan periode normal.
Temuan tersebut membuktikan bahwa kampanye publik masih efektif untuk menarik pendonor baru. Akan tetapi, keberhasilan merekrut pendonor baru belum tentu menjamin keberlanjutan stok darah. Tantangan sesungguhnya muncul setelah seseorang melakukan donor pertamanya.

Jawaban atas persoalan tersebut ditemukan oleh Eva-Maria Merz, Eamonn Ferguson, dan Anne van Dongen dalam penelitian Psychosocial Characteristics of Blood Donors Influence Their Voluntary Nonmedical Lapse (2018). Selama hampir delapan tahun mereka mengikuti lebih dari 2.300 donor baru di Belanda. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar sepertiga pendonor berhenti mendonorkan darah bukan karena alasan kesehatan, melainkan karena faktor psikologis dan sosial.

Ada yang tidak lagi merespons ajakan donor. Ada pula yang merasa donor darah bukan bagian penting dari kehidupannya. Temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan pasokan darah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mempertahankan donor lama dibandingkan sekadar merekrut donor baru.

Dari perspektif keberlanjutan, satu orang yang mendonorkan darah secara rutin selama bertahun-tahun sering kali lebih bernilai daripada puluhan orang yang hanya datang sekali.

Ketika Rasa Takut Mengalahkan Niat Baik


Salah satu penyebab paling umum mengapa seseorang tidak kembali berdonor adalah rasa takut. Ketakutan terhadap jarum suntik, kekhawatiran merasa lemas setelah donor, atau pengalaman yang kurang menyenangkan saat proses donor dapat meninggalkan kesan yang kuat. Hal-hal yang tampak sederhana tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap keputusan seseorang untuk kembali atau tidak.

Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam donor darah. Nancy Consedine dalam kajiannya Fear, Anxiety, Worry, and Breast Cancer Screening Behavior (2004) menunjukkan bahwa rasa takut sering menjadi penghambat utama perilaku kesehatan jangka panjang. Ketika kecemasan tidak dikelola dengan baik, pengetahuan mengenai manfaat suatu tindakan sering kali tidak cukup untuk mendorong seseorang melakukannya secara berulang.

Karena itu, membangun loyalitas pendonor tidak cukup dilakukan melalui kampanye besar atau pesan pengingat berkala. Sering kali alasan seseorang kembali bukan karena teknologi pelayanan yang canggih, melainkan karena ia merasa dihargai, dilayani dengan baik, dan diperlakukan sebagai sesama manusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Warga hingga Anggota...
Warga hingga Anggota Denhanud Adisutjipto Antusias Ikut Donor Darah di HUT ke-4 Next Hotel Yogyakarta
Rayakan HUT ke-4, Next...
Rayakan HUT ke-4, Next Hotel Yogyakarta Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Aksi Kemanusiaan Cermati...
Aksi Kemanusiaan Cermati Fintech Group Bantu Jaga Ketersediaan Darah Nasional
Rekomendasi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Austria Taklukkan Yordania...
Austria Taklukkan Yordania 3-1, Debut Manis di Piala Dunia 2026
Wakili Kaum Muda, Joshua...
Wakili Kaum Muda, Joshua SEVENTEEN Akan Berpidato di Markas UNESCO Paris
Berita Terkini
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Kapolda Riau Gaungkan...
Kapolda Riau Gaungkan Polisi Penjaga Peradaban di Dies Natalis Ke-80 STIK Polri
Kemenhaj Ajukan Tambahan...
Kemenhaj Ajukan Tambahan Anggaran Rp1,8 Triliun untuk Tahun 2027
Infografis
Syarat Sah Hewan Kurban,...
Syarat Sah Hewan Kurban, Tidak Boleh Cacat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved