Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil

Minggu, 07 Juni 2026 - 13:48 WIB
loading...
A A A
Sebagai organisasi yang tumbuh dalam masyarakat plural, NU menyadari bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman agama, etnis, bahasa, dan budaya. Karena itu, NU menerima Pancasila sebagai dasar negara dan menolak gagasan pendirian negara Islam.

Bagi NU, Pancasila merupakan titik temu yang memungkinkan seluruh warga negara hidup bersama secara damai tanpa harus menghilangkan identitas keagamaan masing-masing. Dalam pandangan NU, keberagaman merupakan “sunnatullah”, yakni kenyataan sosial yang dikehendaki Tuhan.

Karena itu, pluralitas tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai fondasi kehidupan bersama. Pandangan ini menjadi dasar berkembangnya konsep Islam Nusantara yang menekankan corak Islam yang moderat, toleran, ramah budaya, dan menghargai tradisi lokal.

Islam Nusantara sesungguhnya bukan sekadar identitas kultural, melainkan paradigma keberagamaan yang menempatkan dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan sebagai dasar kehidupan publik. Dalam kerangka masyarakat sipil, paradigma ini memiliki arti penting karena memungkinkan identitas keagamaan berfungsi sebagai sumber solidaritas sosial, bukan sebagai alat eksklusi terhadap kelompok lain.

Di tengah meningkatnya politik identitas dan menguatnya berbagai bentuk radikalisme keagamaan, posisi NU menjadi semakin strategis dalam menjaga integrasi nasional. Melalui jaringan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, serta berbagai aktivitas sosialnya, NU berupaya membangun moderasi beragama dan toleransi sosial di tengah masyarakat.

Peran ini menjadi semakin penting ketika media sosial dan globalisasi mempercepat penyebaran berbagai ideologi transnasional yang berpotensi mengancam kohesi sosial Indonesia. Meski demikian, tantangan yang dihadapi NU tidaklah kecil. Sebagai organisasi dengan basis massa yang sangat besar.

NU menghadapi persoalan berupa fragmentasi elite, pragmatisme politik, serta kesenjangan antara wacana elite dan realitas akar rumput. Marcus Mietzner dan Burhanuddin Muhtadi menunjukkan bahwa meskipun elite NU secara konsisten mempromosikan pluralisme dan toleransi, sebagian basis sosialnya masih memperlihatkan kecenderungan konservatif terhadap kelompok minoritas tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa demokrasi dan pluralisme dalam tubuh NU merupakan proses yang terus berkembang dan belum sepenuhnya selesai.

Selain itu, kedekatan sebagian elite NU dengan pusat kekuasaan juga memunculkan kritik mengenai potensi melemahnya fungsi kontrol masyarakat sipil terhadap negara. Dalam teori civil society, independensi merupakan syarat penting agar organisasi masyarakat mampu menjalankan fungsi pengawasan dan kritik terhadap kekuasaan.

Karena itu, salah satu tantangan terbesar NU pada masa kini adalah menjaga keseimbangan antara keterlibatan politik dan independensi moral sebagai kekuatan masyarakat sipil. Namun demikian, pengalaman historis NU memperlihatkan bahwa agama, demokrasi, dan kebangsaan tidak harus berada dalam hubungan yang saling bertentangan.

Sebaliknya, ketiganya dapat membentuk sintesis sosial yang produktif ketika agama ditempatkan sebagai sumber etika publik yang mendorong keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pada akhirnya, Nahdlatul Ulama merupakan contoh penting mengenai bagaimana tradisi pesantren dapat berkembang menjadi fondasi masyarakat sipil yang kuat.

Melalui jaringan ulama, pesantren, budaya musyawarah, serta keterlibatannya dalam berbagai proses sosial-politik, NU telah menjelma menjadi salah satu pilar utama demokrasi Indonesia. Di tengah menguatnya populisme, politik identitas, dan polarisasi sosial pada tingkat global, peran NU sebagai penjaga moderasi, demokrasi, dan kebhinekaan menjadi semakin relevan.

Dengan segala dinamika dan tantangannya, NU terus memperlihatkan bahwa Islam dapat hadir sebagai kekuatan sosial yang tidak hanya memperkuat kehidupan keagamaan, tetapi juga menopang demokrasi, keadilan sosial, dan keutuhan bangsa Indonesia.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gus Yahya Siap Mencalonkan...
Gus Yahya Siap Mencalonkan Kembali Jadi Ketum PBNU di Muktamar NU ke-35
Syuriyah NU se-Lampung...
Syuriyah NU se-Lampung Minta Calon Ketum PBNU Tak Rangkap Jabatan
Forbes NU 26 Sampaikan...
Forbes NU 26 Sampaikan Sembilan Rekomendasi ke PBNU
Gus Aab Nilai NU Butuh...
Gus Aab Nilai NU Butuh Kiai Zulfa yang Mampu Hubungkan Turats dengan Persoalan Kekinian
Kiai Said Aqil Anggap...
Kiai Said Aqil Anggap Kitab Kiai Zulfa sebagai Ruh Perjuangan NU Masa Depan
Jelang Muktamar ke-35...
Jelang Muktamar ke-35 NU, Nama KH Zulfa Mustofa Masuk Bursa Calon Ketum PBNU
28 PCNU se-Jateng Dukung...
28 PCNU se-Jateng Dukung Muktamar Ke-35 NU Digelar di Ponpes Lirboyo
Wilayah dan Cabang Desak...
Wilayah dan Cabang Desak Perubahan Total PBNU, Minta Muktamar ke-35 NU Digelar di Jakarta
Akademisi: Riset Advokasi...
Akademisi: Riset Advokasi Kunci Perlindungan Warga Sipil
Rekomendasi
JPO Tendean Bakal Dibangun...
JPO Tendean Bakal Dibangun Lagi, Jangka Pendek Bikin Zebra Cross
Jaga Pasokan BBM di...
Jaga Pasokan BBM di Sumut: Pertamina Tindak Mobil Tangki Nakal, Terminal dan SPBU Siaga 24 Jam
IHSG Kembali ke Level...
IHSG Kembali ke Level 6 Ribuan usai Melesat 4,24%, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
Berita Terkini
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Alasan Bersedia Menjadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Pimpin Panen Raya di...
Pimpin Panen Raya di Malang, Prabowo: Bukti TNI Hadir Perkuat Kemandirian Pangan
Don Ritto Gunakan Rumah...
Don Ritto Gunakan Rumah Febrie Adriansyah di Sentul untuk Operasional Yayasan
Febrie Adriansyah Tidak...
Febrie Adriansyah Tidak Ditahan, Kuasa Hukum: Sudah Mengundurkan Diri, Artinya Kooperatif
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
ICW Soroti Mutasi ASN...
ICW Soroti Mutasi ASN Kementerian PU, Diduga Hanya Jadi Alat Balas Dendam
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved