Lewat Pameran Filateli, Wali kota Agustina dan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Tegaskan Pentingnya Merawat Memori Bangsa
Senin, 01 Juni 2026 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
Pada kesempatan tersebut, Wali kota Semarang juga mengabadikan momentum melalui penandatanganan Sampul Peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang. Melalui perangko dan sampul peringatan ini, Agustina ingin menitipkan pesan masa kini untuk masa depan tentang bagaimana Kota Semarang tumbuh melewati masa-masa sulit kolonialisme hingga menjadi kota yang maju.
Fadli Zon: Arsip dan Memori Bangsa Selalu Abadi
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam orasi ilmiahnya memaparkan narasi komprehensif mengenai episode sejarah Indonesia di masa pendudukan Jepang. Ia menjelaskan bahwa masa 3,5 tahun pendudukan Jepang merupakan salah satu periode penjajahan yang sangat keras dan kejam, mulai dari adanya kamp konsentrasi atau _interniran_ hingga kerja paksa atau _romusha_.
Fadli Zon menekankan bahwa perangko, dokumen, dan sensor Jepang yang terekam dalam arsip filateli menjadi saksi bisu geopolitik Perang Dunia II di teater Pasifik. "Yang fana adalah waktu, tetapi arsip dan memori bangsa akan selalu abadi. Mari kita merawat keabadian sejarah tersebut," tegas Fadli Zon, yang juga mengajak para akademisi dan generasi muda untuk hadir mengapresiasi pameran ini.
Di akhir acara, Pemkot Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir eksklusif berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan sebagai bagian dari upaya mencetak sejarah. Pameran filateli ini terbuka untuk umum dan akan berlangsung di Rumah Pohan mulai Minggu, 31 Mei hingga 7 Juni 2026 mendatang.
Fadli Zon: Arsip dan Memori Bangsa Selalu Abadi
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam orasi ilmiahnya memaparkan narasi komprehensif mengenai episode sejarah Indonesia di masa pendudukan Jepang. Ia menjelaskan bahwa masa 3,5 tahun pendudukan Jepang merupakan salah satu periode penjajahan yang sangat keras dan kejam, mulai dari adanya kamp konsentrasi atau _interniran_ hingga kerja paksa atau _romusha_.
Fadli Zon menekankan bahwa perangko, dokumen, dan sensor Jepang yang terekam dalam arsip filateli menjadi saksi bisu geopolitik Perang Dunia II di teater Pasifik. "Yang fana adalah waktu, tetapi arsip dan memori bangsa akan selalu abadi. Mari kita merawat keabadian sejarah tersebut," tegas Fadli Zon, yang juga mengajak para akademisi dan generasi muda untuk hadir mengapresiasi pameran ini.
Di akhir acara, Pemkot Semarang bersama Kementerian Kebudayaan membagikan suvenir eksklusif berupa amplop dan kartu pos filateli kepada para tamu undangan sebagai bagian dari upaya mencetak sejarah. Pameran filateli ini terbuka untuk umum dan akan berlangsung di Rumah Pohan mulai Minggu, 31 Mei hingga 7 Juni 2026 mendatang.
(unt)
Lihat Juga :