Kurban, Filantropi, dan Cara Baru Merawat Sesama
Rabu, 27 Mei 2026 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS Al-Hajj: 37)
Ayat ini menyentuh inti persoalan. Yang sampai kepada Allah bukan daging. Bukan darah. Tetapi ketakwaan. Dan ketakwaan selalu memiliki wajah sosial.
Ia hadir ketika orang lapar mendapatkan makanan. Ia hadir ketika anak-anak memperoleh gizi yang layak. Ia hadir ketika kepedulian tidak berhenti menjadi rasa iba. Tetapi berubah menjadi sistem yang bekerja.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir seratus biji.”
(QS Al-Baqarah: 261)
Ayat ini berbicara tentang satu hal penting. Kebaikan seharusnya bertumbuh.Berlipat. Meluas. Bukan berhenti pada satu titik.
Mungkin di situlah masa depan filantropi Islam berada. Bukan hanya memberi. Tetapi memastikan pemberian itu terus bekerja. Bukan hanya menyentuh. Tetapi mengubah.
Kita saat ini hidup di zaman paradoks. Teknologi berkembang pesat. Logistik semakin canggih. Tapi sering kali kepedulian masih bekerja dengan cara lama.
Iduladha sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu. Nabi Ibrahim AS tidak hanya mengajarkan kepatuhan. Beliau mengajarkan keberanian melepaskan sesuatu yang dicintai demi nilai yang lebih besar.
Hari ini mungkin yang perlu kita korbankan bukan hanya hewan. Tetapi cara berpikir lama. Bahwa ibadah cukup selesai di tempat ibadah. Bahwa kepedulian cukup berhenti pada belas kasihan. Bahwa kurban hanya soal satu hari.
Kurban bisa menjadi arsitektur kepedulian. Ia dapat bergerak dari halaman masjid menuju daerah rawan pangan. Dari tempat pemotongan menuju wilayah bencana. Dari ritual menuju masa depan. Karena dunia sesungguhnya tidak sedang kekurangan kebaikan.
Yang sering kurang adalah kemampuan mengelolanya agar manfaatnya hidup lebih lama. Dan mungkin, Iduladha datang setiap tahun untuk mengingatkan kita tentang itu.
Wallahu a’lam bishawab.
(QS Al-Hajj: 37)
Ayat ini menyentuh inti persoalan. Yang sampai kepada Allah bukan daging. Bukan darah. Tetapi ketakwaan. Dan ketakwaan selalu memiliki wajah sosial.
Ia hadir ketika orang lapar mendapatkan makanan. Ia hadir ketika anak-anak memperoleh gizi yang layak. Ia hadir ketika kepedulian tidak berhenti menjadi rasa iba. Tetapi berubah menjadi sistem yang bekerja.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir seratus biji.”
(QS Al-Baqarah: 261)
Ayat ini berbicara tentang satu hal penting. Kebaikan seharusnya bertumbuh.Berlipat. Meluas. Bukan berhenti pada satu titik.
Mungkin di situlah masa depan filantropi Islam berada. Bukan hanya memberi. Tetapi memastikan pemberian itu terus bekerja. Bukan hanya menyentuh. Tetapi mengubah.
Kita saat ini hidup di zaman paradoks. Teknologi berkembang pesat. Logistik semakin canggih. Tapi sering kali kepedulian masih bekerja dengan cara lama.
Iduladha sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu. Nabi Ibrahim AS tidak hanya mengajarkan kepatuhan. Beliau mengajarkan keberanian melepaskan sesuatu yang dicintai demi nilai yang lebih besar.
Hari ini mungkin yang perlu kita korbankan bukan hanya hewan. Tetapi cara berpikir lama. Bahwa ibadah cukup selesai di tempat ibadah. Bahwa kepedulian cukup berhenti pada belas kasihan. Bahwa kurban hanya soal satu hari.
Kurban bisa menjadi arsitektur kepedulian. Ia dapat bergerak dari halaman masjid menuju daerah rawan pangan. Dari tempat pemotongan menuju wilayah bencana. Dari ritual menuju masa depan. Karena dunia sesungguhnya tidak sedang kekurangan kebaikan.
Yang sering kurang adalah kemampuan mengelolanya agar manfaatnya hidup lebih lama. Dan mungkin, Iduladha datang setiap tahun untuk mengingatkan kita tentang itu.
Wallahu a’lam bishawab.
(rca)
Lihat Juga :