Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Diluncurkan, Rekam Perjuangan Sebelum Reformasi 1998
Jum'at, 22 Mei 2026 - 13:52 WIB
loading...
A
A
A
Heroe menyatakan buku ini ditulis dari sudut pandang aktivis mahasiswa Universitas Janabadra (UJB). Penyusunannya melalui proses kolektif yang ketat. Kesaksian para aktivis lintas angkatan dikumpulkan lewat grup WhatsApp, lalu diverifikasi silang dengan dokumen internal gerakan, kliping koran sezaman, dan laporan berbagai lembaga baik nasional maupun internasional.
Heroe juga menegaskan bahwa Reformasi belum selesai. "Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi, penegakan hukum harus menjadi fokus nyata. Inilah akar masalah yang belum terselesaikan hingga hari ini," ujarnya.
Lihat video: 28 Tahun Reformasi: Kebebasan Dinilai Mundur, Bayang-Bayang Militerisasi Muncul Lagi
Buku setebal lebih dari 300 halaman itu juga merekam keterlibatan langsung mahasiswa dalam advokasi rakyat. Heru Sahararita, salah satu aktivis era ‘80an, dalam buku, menceritakan bagaimana mahasiswa ketika itu bergerak melakukan advokasi dalam berbagai kasus seperti kasus Kedung Ombo, kasus di Cilacap, hingga mendampingi warga di kampung-kampung di Yogyakarta sendiri.
Sementara itu, aktivis ‘98 Eko Prastowo, yang kini dikenal sebagai advokat dan pakar AI (kecerdasan buatan), menjelaskan buku ini ditulis dengan gaya naratif historis sehingga pembaca tidak perlu berkerut dahi saat membaca.
"Buku ini juga berusaha memotret bagaimana masyarakat saat itu. Karena mahasiswa dan kampus tidak terpisah dari realitas sehari-hari masyarakat. Apa yang terjadi di jalanan saat aksi, hubungan dengan warga sekitar mahasiswa tinggal, semua ada di sini. Termasuk cerita-cerita lucu yang dialami kawan-kawan," ungkapnya.
Heroe juga menegaskan bahwa Reformasi belum selesai. "Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi, penegakan hukum harus menjadi fokus nyata. Inilah akar masalah yang belum terselesaikan hingga hari ini," ujarnya.
Lihat video: 28 Tahun Reformasi: Kebebasan Dinilai Mundur, Bayang-Bayang Militerisasi Muncul Lagi
Buku setebal lebih dari 300 halaman itu juga merekam keterlibatan langsung mahasiswa dalam advokasi rakyat. Heru Sahararita, salah satu aktivis era ‘80an, dalam buku, menceritakan bagaimana mahasiswa ketika itu bergerak melakukan advokasi dalam berbagai kasus seperti kasus Kedung Ombo, kasus di Cilacap, hingga mendampingi warga di kampung-kampung di Yogyakarta sendiri.
Sementara itu, aktivis ‘98 Eko Prastowo, yang kini dikenal sebagai advokat dan pakar AI (kecerdasan buatan), menjelaskan buku ini ditulis dengan gaya naratif historis sehingga pembaca tidak perlu berkerut dahi saat membaca.
"Buku ini juga berusaha memotret bagaimana masyarakat saat itu. Karena mahasiswa dan kampus tidak terpisah dari realitas sehari-hari masyarakat. Apa yang terjadi di jalanan saat aksi, hubungan dengan warga sekitar mahasiswa tinggal, semua ada di sini. Termasuk cerita-cerita lucu yang dialami kawan-kawan," ungkapnya.
(cip)
Lihat Juga :