Legislator PDIP: Pelemahan Rupiah Bukan Sekadar Dampak Tekanan Global
Selasa, 19 Mei 2026 - 08:50 WIB
loading...
A
A
A
Catatan legislatif menunjukkan BI telah membeli SBN senilai Rp332 triliun sepanjang 2025 dan menambah lagi sebesar Rp133 triliun pada tahun ini. Selain itu, batas pembelian dolar AS juga diperketat oleh bank sentral dari nilai Rp50.000 menjadi Rp25.000.
“Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak katakan di presentasi tekanan global sangat besar. Ini memang diakui tekanan global sangat besar. Tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik Pak,” ujar Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR dalam rapat tersebut.
Harris menjabarkan lebih lanjut mengenai sejumlah indikator internal yang sedang dihadapi oleh perekonomian nasional saat ini. “Ada masalah di fiskal, ada masalah di current account, ada arus modal keluar dalam jumlah besar dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tuturnya.
Kondisi pasar modal juga menjadi perhatian karena investor asing yang keluar dari bursa saham tidak mengalihkan dananya ke pasar surat utang negara, meskipun tingkat imbal hasil atau yield terpantau meningkat. “Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Tetapi why? Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” lanjutnya.
Situasi tersebut mengindikasikan adanya permasalahan sentimen yang cukup besar di kalangan pelaku pasar. “Seharusnya mereka hanya mengimbangi portofolio antar instrumen di dalam rupiah. Ini saat ini tidak terjadi. Sehingga ada isu kepercayaan di sini yang cukup besar,” pungkasnya.
“Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak katakan di presentasi tekanan global sangat besar. Ini memang diakui tekanan global sangat besar. Tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik Pak,” ujar Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR dalam rapat tersebut.
Harris menjabarkan lebih lanjut mengenai sejumlah indikator internal yang sedang dihadapi oleh perekonomian nasional saat ini. “Ada masalah di fiskal, ada masalah di current account, ada arus modal keluar dalam jumlah besar dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tuturnya.
Kondisi pasar modal juga menjadi perhatian karena investor asing yang keluar dari bursa saham tidak mengalihkan dananya ke pasar surat utang negara, meskipun tingkat imbal hasil atau yield terpantau meningkat. “Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Tetapi why? Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” lanjutnya.
Situasi tersebut mengindikasikan adanya permasalahan sentimen yang cukup besar di kalangan pelaku pasar. “Seharusnya mereka hanya mengimbangi portofolio antar instrumen di dalam rupiah. Ini saat ini tidak terjadi. Sehingga ada isu kepercayaan di sini yang cukup besar,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :