Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Senin, 18 Mei 2026 - 16:12 WIB
loading...
A
A
A
Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca seolah mendengar langsung cerita kehidupan sang kiai. “Aku merantau mencari bekal ilmu. Sudah cukup mata menyaksikan beban hidup yang teramat berat dipikul oleh Ayah. Sebagai laki-laki, tidak sepantasnya aku menambah beban. Aku harus mengubah keadaan. Aku harus pergi meninggalkan kampung halaman. Selamat tinggal pulau garam,” demikian salah satu penggalan dalam buku tersebut.
Pilihan gaya semi novel membuat perjalanan hidup KH Helmi terasa lebih hidup dan emosional. Alur cerita disusun secara kronologis sehingga mudah diikuti pembaca umum, termasuk generasi muda yang mungkin tidak terbiasa membaca buku biografi tokoh pesantren.
Melalui pendekatan tersebut, pembaca diajak menyelami perjalanan seorang anak desa dari Madura yang tumbuh dalam keterbatasan hingga akhirnya mendirikan salah satu pesantren besar di Jawa Barat. Buku itu juga memperlihatkan bagaimana tekanan hidup dan kesulitan ekonomi justru membentuk karakter pengabdian dan ketekunan dalam berdakwah.
Lebih dari sekadar kisah pribadi, Mudiruna menghadirkan potret tentang bagaimana pendidikan pesantren dibangun melalui kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan yang panjang. Di tengah zaman yang bergerak cepat dan serba instan, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari proses yang sunyi.
Penulis berharap buku tersebut dapat menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda, agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi keterbatasan hidup. Sosok KH Helmi dinilai mencerminkan pesan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Apresiasi terhadap buku ini juga datang dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. Imam Besar Masjid Istiqlal itu menilai gaya penulisan Mudiruna membuat kisah tokoh pesantren menjadi lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat luas.
Pilihan gaya semi novel membuat perjalanan hidup KH Helmi terasa lebih hidup dan emosional. Alur cerita disusun secara kronologis sehingga mudah diikuti pembaca umum, termasuk generasi muda yang mungkin tidak terbiasa membaca buku biografi tokoh pesantren.
Melalui pendekatan tersebut, pembaca diajak menyelami perjalanan seorang anak desa dari Madura yang tumbuh dalam keterbatasan hingga akhirnya mendirikan salah satu pesantren besar di Jawa Barat. Buku itu juga memperlihatkan bagaimana tekanan hidup dan kesulitan ekonomi justru membentuk karakter pengabdian dan ketekunan dalam berdakwah.
Lebih dari sekadar kisah pribadi, Mudiruna menghadirkan potret tentang bagaimana pendidikan pesantren dibangun melalui kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan yang panjang. Di tengah zaman yang bergerak cepat dan serba instan, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari proses yang sunyi.
Penulis berharap buku tersebut dapat menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda, agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi keterbatasan hidup. Sosok KH Helmi dinilai mencerminkan pesan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Apresiasi terhadap buku ini juga datang dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. Imam Besar Masjid Istiqlal itu menilai gaya penulisan Mudiruna membuat kisah tokoh pesantren menjadi lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat luas.
Lihat Juga :