President Club Bersama PSAPI dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia Gelar Peluncuran Buku Karya Chappy Hakim
Minggu, 10 Mei 2026 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Chappy –sapaan akrabnya– menekankan bahwa kekuatan udara bukan lagi sekadar pelengkap dalam sistem pertahanan, namun salah satu instrumen utama dalam menjaga kedaulatan, keamanan, serta kepentingan nasional suatu negara.
Pembahasan dalam buku ini juga disusun begitu sistematis. Mulai dari landasan pemikiran serta teori kekuatan udara dari masa ke masa. Chappy membedah bagaimana teori-teori ini berkembang sejak awal abad ke-20 – saat teknologi penerbangan pertama kali digunakan untuk tujuan militer – hingga bertransformasi menjadi kekuatan yang sangat dominan di era modern saat ini.
Ia juga mampu memberikan penjelasan mendalam mengenai hubungan timbal balik antara kekuatan udara dengan pencapaian kepentingan nasional melalui berbagai studi kasus strategis. “Salah satu nilai jual utama dari buku ini adalah analisis tajam terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalannya dunia. Pak Chappy Hakim menggunakan sejumlah studi kasus penting untuk menunjukkan betapa besarnya dampak kekuatan udara terhadap strategi pertahanan dan tatanan keamanan global,” kata Kartini Nurdin, Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Peristiwa-peristiwa yang dibahas, antara lain: (1) serangan ke Pearl Harbor – sebuah bukti sejarah bagaimana kekuatan udara mampu memberikan efek kejut strategis yang melumpuhkan, (2) pemboman Hiroshima dan Nagasaki – contoh ekstrem penggunaan kekuatan udara sebagai penentu akhir dari sebuah konflik berskala besar, (3) serangan 11 September 2001 – sebuah pengingat modern akan kerentanan ruang udara dan bagaimana ancaman udara dapat mengubah arah kebijakan keamanan dunia.
“Lebih jauh lagi, buku ini secara khusus mengambil pelajaran dari dinamika Perang Iran-Amerika Serikat. Melalui perspektif ini, pembaca diajak untuk memahami bagaimana kekuatan udara diuji dalam konflik kontemporer yang melibatkan persinggungan teknologi, diplomasi, dan taktik militer yang sangat kompleks,” kata Kartini Nurdin.
Peluncuran buku ini turut menghadirkan Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan RI periode 2009–2014, sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, Purnomo menekankan pentingnya mengedepankan diplomasi dibandingkan pendekatan hard power dalam menjaga kedaulatan negara. Menurutnya, sebagai negara berkembang yang masih membutuhkan banyak kemitraan strategis, Indonesia perlu mengutamakan pendekatan diplomasi atau soft power, sehingga penggunaan kekuatan militer benar-benar menjadi pilihan terakhir.
Purnomo mengatakan, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, dirinya selalu membangun koordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri dalam merumuskan kebijakan pertahanan nasional. Meski demikian, ia juga menyoroti adanya sejumlah negara yang memilih pendekatan berbeda dengan mengedepankan strategi “attack first” sebelum diplomasi dilakukan. “Jadi posisinya, Kementerian Luar Negeri berada di depan, sementara Kementerian Pertahanan mengikuti,” ujar Purnomo.
Meski mengutamakan diplomasi, Purnomo menilai kemandirian pertahanan udara nasional tetap penting untuk dibangun sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara. Namun, menurutnya, membangun kekuatan pertahanan – dalam hal ini kekuatan TNI – bukan ditujukan untuk berperang, melainkan menjaga perdamaian. Ia bercerita bahwa tantangan terbesar dalam membangun pertahanan pada masa dirinya menjabat adalah keterbatasan anggaran karena Indonesia baru saja melewati krisis ekonomi 2008.
Sesi diskusi peluncuran buku ini tak kalah menarik. Diskusi menghadirkan Dr. Nasir Tamara, pakar politik Timur Tengah dan penulis buku Revolusi Iran, dengan moderator Tascha Liudmila, News Anchor Nusantara TV. Dalam paparannya, Dr Nasir Tamara membahas bagaimana perang modern antara Iran dan Amerika tidak selalu dilakukan secara langsung, tapi juga lewat operasi intelijen, kelompok sekutu, drone, serangan siber, dan pihak ketiga.
Dalam sesi yang sama, Chappy Hakim juga menyoroti pentingnya membangun industri pertahanan nasional yang mandiri, khususnya di bidang teknologi udara, drone, dan sistem pertahanan strategis.
Pembahasan dalam buku ini juga disusun begitu sistematis. Mulai dari landasan pemikiran serta teori kekuatan udara dari masa ke masa. Chappy membedah bagaimana teori-teori ini berkembang sejak awal abad ke-20 – saat teknologi penerbangan pertama kali digunakan untuk tujuan militer – hingga bertransformasi menjadi kekuatan yang sangat dominan di era modern saat ini.
Ia juga mampu memberikan penjelasan mendalam mengenai hubungan timbal balik antara kekuatan udara dengan pencapaian kepentingan nasional melalui berbagai studi kasus strategis. “Salah satu nilai jual utama dari buku ini adalah analisis tajam terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalannya dunia. Pak Chappy Hakim menggunakan sejumlah studi kasus penting untuk menunjukkan betapa besarnya dampak kekuatan udara terhadap strategi pertahanan dan tatanan keamanan global,” kata Kartini Nurdin, Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Peristiwa-peristiwa yang dibahas, antara lain: (1) serangan ke Pearl Harbor – sebuah bukti sejarah bagaimana kekuatan udara mampu memberikan efek kejut strategis yang melumpuhkan, (2) pemboman Hiroshima dan Nagasaki – contoh ekstrem penggunaan kekuatan udara sebagai penentu akhir dari sebuah konflik berskala besar, (3) serangan 11 September 2001 – sebuah pengingat modern akan kerentanan ruang udara dan bagaimana ancaman udara dapat mengubah arah kebijakan keamanan dunia.
“Lebih jauh lagi, buku ini secara khusus mengambil pelajaran dari dinamika Perang Iran-Amerika Serikat. Melalui perspektif ini, pembaca diajak untuk memahami bagaimana kekuatan udara diuji dalam konflik kontemporer yang melibatkan persinggungan teknologi, diplomasi, dan taktik militer yang sangat kompleks,” kata Kartini Nurdin.
Membangun kekuatan udara untuk berdamai
Peluncuran buku ini turut menghadirkan Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan RI periode 2009–2014, sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, Purnomo menekankan pentingnya mengedepankan diplomasi dibandingkan pendekatan hard power dalam menjaga kedaulatan negara. Menurutnya, sebagai negara berkembang yang masih membutuhkan banyak kemitraan strategis, Indonesia perlu mengutamakan pendekatan diplomasi atau soft power, sehingga penggunaan kekuatan militer benar-benar menjadi pilihan terakhir.
Purnomo mengatakan, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, dirinya selalu membangun koordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri dalam merumuskan kebijakan pertahanan nasional. Meski demikian, ia juga menyoroti adanya sejumlah negara yang memilih pendekatan berbeda dengan mengedepankan strategi “attack first” sebelum diplomasi dilakukan. “Jadi posisinya, Kementerian Luar Negeri berada di depan, sementara Kementerian Pertahanan mengikuti,” ujar Purnomo.
Meski mengutamakan diplomasi, Purnomo menilai kemandirian pertahanan udara nasional tetap penting untuk dibangun sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara. Namun, menurutnya, membangun kekuatan pertahanan – dalam hal ini kekuatan TNI – bukan ditujukan untuk berperang, melainkan menjaga perdamaian. Ia bercerita bahwa tantangan terbesar dalam membangun pertahanan pada masa dirinya menjabat adalah keterbatasan anggaran karena Indonesia baru saja melewati krisis ekonomi 2008.
Konflik Iran–Amerika ubah wajah perang modern
Sesi diskusi peluncuran buku ini tak kalah menarik. Diskusi menghadirkan Dr. Nasir Tamara, pakar politik Timur Tengah dan penulis buku Revolusi Iran, dengan moderator Tascha Liudmila, News Anchor Nusantara TV. Dalam paparannya, Dr Nasir Tamara membahas bagaimana perang modern antara Iran dan Amerika tidak selalu dilakukan secara langsung, tapi juga lewat operasi intelijen, kelompok sekutu, drone, serangan siber, dan pihak ketiga.
Dalam sesi yang sama, Chappy Hakim juga menyoroti pentingnya membangun industri pertahanan nasional yang mandiri, khususnya di bidang teknologi udara, drone, dan sistem pertahanan strategis.
Lihat Juga :