Beban Asimetris Jusuf Kalla dalam Ruang Demokrasi Emosional

Rabu, 15 April 2026 - 13:00 WIB
loading...
A A A
Akibatnya, keadilan tidak hanya harus ditegakkan, tetapi juga harus berjuang melawan persepsi yang telah terbentuk di benak publik.

Dalam situasi seperti ini, netralitas hukum menjadi dipertanyakan. Ia tampak bergerak bukan karena kekuatan bukti, melainkan karena tekanan opini. Padahal, hukum seharusnya menjadi ruang terakhir yang bebas dari bias emosi.

Jika tren ini terus dibiarkan, kita tidak sedang memperkuat demokrasi—kita justru sedang menggerus fondasinya secara perlahan. Demokrasi tanpa nalar adalah keramaian tanpa arah. Hukum tanpa jarak dari emosi adalah keadilan yang rapuh.

Beban Asimetris Jusuf Kalla?


Kasus Jusuf Kalla seharusnya tidak dilihat semata sebagai konflik hukum, tetapi sebagai cermin bagaimana kita memproses kebenaran di era digital. Apakah kita masih memberi ruang bagi verifikasi dan akal sehat, atau justru menyerahkan segalanya pada kecepatan emosi?

Kalla tidak dapat dibebani secara asimetris untuk menyampaikan pesan religiusnya dalam bahasa sekuler.

Carrie Anne Platt dan Zoltan P. Majdik (2012) menyebut adanya “beban asimetris” dalam deliberasi publik Habermas. Dalam ruang publik rasional terdapat ketimpangan, di mana warga religius dipaksa “menerjemahkan” argumen mereka ke dalam bahasa sekuler, sementara warga sekuler tidak memiliki kewajiban yang sama.

Tentunya, Negara tidak boleh netral terhadap disorientasi ini. Hukum harus bekerja berdasarkan norma, bukan tekanan. Platform digital harus bertanggung jawab atas algoritma yang memperkuat emosi. Dan elite politik harus berhenti memanfaatkan isu sensitif sebagai alat mobilisasi.

Jika tidak, demokrasi akan berubah wajah: dari deliberatif menjadi performatif. Politik tidak lagi sekadar soal kebijakan, melainkan juga soal identitas sosial dan “selfie politik”, di mana viralitas menjadi legitimasi baru.

Kembalikan Nalar dalam Berdemokrasi


Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana kita sampai pada titik di mana emosi lebih dipercaya daripada nalar. Jika hukum terus berjalan di bawah bayang-bayang persepsi yang terburu-buru, maka keadilan akan kehilangan pijakan moralnya.

Demokrasi yang sehat menuntut jarak—jarak antara reaksi dan refleksi, antara opini dan kebenaran. Sebagaimana tersirat dalam pemikiran Habermas, demokrasi yang sehat mensyaratkan satu hal mendasar: ruang bagi rasionalitas untuk bekerja.

Tanpa itu, kita hanya akan mewarisi ruang publik yang gaduh tetapi hampa—di mana setiap orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar memahami.

Ketika percakapan kehilangan kedalaman, demokrasi pun kehilangan arah.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPN IARMI: Kritik Harus...
DPN IARMI: Kritik Harus Objektif, Jangan Giring Opini Menyesatkan
Sidang Ijazah Jokowi,...
Sidang Ijazah Jokowi, Tim Advokasi Roy Suryo Minta KY Awasi Hakim: Khawatir Ada Intervensi
Persoalkan Penetapan...
Persoalkan Penetapan Tersangka, Sidang Praperadilan Kedua Roy Suryo Digelar Hari Ini
Dilaporkan Roy Suryo...
Dilaporkan Roy Suryo ke Polisi, Lechumanan: Saya Kepengin Cepat Diperiksa
Indonesia Menggugat:...
Indonesia Menggugat: Perlawanan Dokter Tifa dalam Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu Joko Widodo
Dokter Tifa Sebut Dakwaan...
Dokter Tifa Sebut Dakwaan Kasus Ijazah Jokowi Salah Objek dan Salah Orang, Minta Hakim Tolak JPU
Kasus Ijazah Jokowi,...
Kasus Ijazah Jokowi, Hakim Jadwalkan Putusan Praperadilan ke-2 Roy Suryo pada 20 Juli 2026
Persoalkan Penerapan...
Persoalkan Penerapan Pasal 32 UU ITE, Roy Suryo Minta Status Tersangka Tidak Sah
Praperadilan Roy Suryo...
Praperadilan Roy Suryo Dikabulkan Sebagian, Polda Metro: Tak Serta Merta Penyidikan Jadi Tidak Sah
Rekomendasi
28 Perguruan Tinggi...
28 Perguruan Tinggi Malaysia Buka Peluang Studi bagi Mahasiswa Indonesia
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Jerman 2026, Alex Kecelakaan di Tikungan 13
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
Berita Terkini
Febrie Adriansyah Dicegah...
Febrie Adriansyah Dicegah ke Luar Negeri
Baleg DPR Sangkal Kabar...
Baleg DPR Sangkal Kabar RUU Perampasan Aset Dicoret dari Prolegnas Prioritas 2026
Saatnya Koperasi Naik...
Saatnya Koperasi Naik Kelas
Momen Kapolri dan Jaksa...
Momen Kapolri dan Jaksa Agung Foto Bareng Menko Polkam, Panglima TNI, serta Kepala BIN
Prabowo: Yang Merasa...
Prabowo: Yang Merasa Indonesia Suram, Silakan kalau Mau Cari Negara Lain
BEM PTNU: Komitmen Prabowo...
BEM PTNU: Komitmen Prabowo dalam Kasus Jampidsus Cerminkan Semangat Asta Cita
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved