Beban Asimetris Jusuf Kalla dalam Ruang Demokrasi Emosional

Rabu, 15 April 2026 - 13:00 WIB
loading...
Beban Asimetris Jusuf...
Ramdansyah menjadi narasumber di KAHMI Centre di Kamis, 11 Juni 2015. Foto: Istimewa
A A A
Ramdansyah
Praktisi Hukum dan Ketua Bidang di Majelis Nasional KAHMI

DEMOKRASI kita sedang tidak baik-baik saja—bahkan cenderung kehilangan arah. Ruang publik yang semestinya menjadi arena pertukaran gagasan rasional justru berubah menjadi panggung ledakan emosi. Alih-alih memperdebatkan argumen, publik kini lebih sibuk memperkuat sentimen emosi.

Gagasan tentang ruang publik, sebagaimana dirumuskan oleh Jürgen Habermas (1962), berangkat dari sebuah idea luhur. Ia adalah ruang di mana warga menggunakan akal budi secara terbuka untuk membahas kepentingan bersama. Ruang ini bukan sekadar tempat berbicara, melainkan arena rasional-kritis—tempat argumen diuji, bukan sekadar dipertontonkan.

Namun, ruang itu kini tidak lagi ditopang oleh nalar deliberatif, melainkan oleh gelombang emosi yang beredar cepat di ruang digital. Dalam lanskap seperti ini, hukum tidak lagi berdiri sebagai penyeimbang yang jernih, melainkan kerap terseret oleh persepsi publik—bahkan sebelum fakta diuji.

Kasus yang melibatkan Jusuf Kalla menjadi ilustrasi nyata. Dalam waktu hampir bersamaan, ia melaporkan dugaan pencemaran nama baik terkait tuduhan aliran uang Rp5 miliar, sekaligus dilaporkan atas dugaan penistaan agama. Dua laporan ini berbeda secara substansi, tetapi berbagi pola yang sama: keduanya lahir, membesar, dan “diadili” terlebih dahulu dalam ruang emosi publik.

Fenomena ini bukan kasus tunggal, melainkan gejala yang lebih menusuk dalam demokrasi digital kita. Di titik inilah hukum tidak lagi bekerja dalam ruang steril. Ia tidak hanya diuji oleh norma, tetapi juga oleh tekanan opini yang cepat, masif, dan kerap tidak terverifikasi.

Emosi sebagai Instrumen Perebutan Atensi


Di ruang publik, argumen tidak pernah sepenuhnya netral. Ia adalah arena kontestasi—tempat ide, identitas, dan kepentingan saling berkelindan dan bertarung. Di era digital, arena ini tidak lagi berada di jalanan, mimbar, atau ruang debat formal, melainkan berpindah ke layar gawai yang kita genggam setiap hari.

Tuduhan isu agama, label sebagai bohir dugaan ijazah palsu, serta serangan reputasi terhadap Jusuf Kalla menjadi alat mobilisasi yang efektif. Terlebih setelah ia menyarankan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, untuk menunjukkan ijazah asli ke publik—sebuah upaya meredakan keresahan dan menyelesaikan polemik tuduhan ijazah palsu.

Martha Nussbaum (2013) mengingatkan, emosi memang bagian dari politik—tetapi tanpa etika, ia mudah menjelma menjadi instrumen kebencian.

Dalam logika ini, kebenaran menjadi sekunder. Tidak lagi penting apakah tuduhan terhadap Kalla itu benar atau salah. Yang menentukan adalah seberapa besar ia mampu mengguncang emosi publik.

Demokrasi pun bergeser: dari ruang pencari kebenaran menjadi arena perebutan atensi. Ia menjelma menjadi pertunjukan opini yang lebih menekankan citra ketimbang substansi.

Atensi sebagai Komoditas


Dalam konteks ini, emosi tidak lagi sekadar pelengkap argumen, melainkan mesin utama politik. Algoritma platform digital secara sistematis mendorong konten yang memicu kemarahan, ketakutan, dan kebencian—karena itulah yang menjaga keterlibatan pengguna.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Gugat Penetapan Capres...
Gugat Penetapan Capres 2014 dan 2019, Bonatua Bawa Novum Baru ke PTUN
Polisi Sebut Pelimpahan...
Polisi Sebut Pelimpahan Roy Suryo dan Tifa Sesuai Prosedur KUHAP
Momen Pelimpahan Roy...
Momen Pelimpahan Roy Suryo ke Kejaksaan, Sempat Adu Mulut Tolak Pakai Baju Tahanan
Keluarga Roy Suryo dan...
Keluarga Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Ajukan Penangguhan Penahanan
Dilimpahkan ke Kejari...
Dilimpahkan ke Kejari Jaksel, Roy Suryo: Allahu Akbar, Terus Semangat!
Berkas Perkara Roy Suryo...
Berkas Perkara Roy Suryo Setinggi 1 Meter, Kuasa Hukum: Ijazah Jokowi Kembali Menelan Korban
Tegas! Roy Suryo dan...
Tegas! Roy Suryo dan Dokter Tifa Menolak Restorative Justice dalam Kasus Ijazah Jokowi
Polda Metro: Penangguhan...
Polda Metro: Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tanggung Jawab Jaksa
Rekomendasi
Hadapi Perubahan Dunia...
Hadapi Perubahan Dunia Kerja, Generasi Muda Perlu Dibekali Soft Skills Sejak Dini
BAZNAS DKI Jakarta Buka...
BAZNAS DKI Jakarta Buka Lowongan Kerja, Ini Syarat dan Posisi yang Dibuka
Ini Respons KPAI usai...
Ini Respons KPAI usai Didatangi Ruben Onsu yang Adukan Polemik Hak Asuh Anak
Berita Terkini
GIC: Ziarah Kapolri...
GIC: Ziarah Kapolri Bentuk Penghormatan Tulus terhadap Tokoh Bangsa Tanpa Kecuali
Prabowo Bertemu Profesor...
Prabowo Bertemu Profesor Imperial College London di Istana, Bahas Apa?
iPhone XS Mantan Kepala...
iPhone XS Mantan Kepala Dinas Perizinan Jogja Dilelang KPK: Laku Rp34 Juta, tapi Belum Dilunasi Pemenang Lelang
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved