Peneliti UHAMKA Soroti Dampak Perang Iran Terhadap Indonesia
Selasa, 07 April 2026 - 09:27 WIB
loading...
A
A
A
Emaridial menjelaskan dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global dan publik internasional tidak semata-mata merespons data, tetapi lebih dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul dan tertanam dalam ingatan.
“Dalam konteks ini, negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” katanya.
Lihat video: Stok BBM Aman Meski Perang Iran vs Israel Memanas?
Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sementara itu, Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting.
“Kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri,” ucapnya.
Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara bersamaan. Kondisi ini dinilai berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.
“Dalam konteks ini, negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” katanya.
Lihat video: Stok BBM Aman Meski Perang Iran vs Israel Memanas?
Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sementara itu, Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting.
“Kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan memiliki dampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya akan terasa dalam bentuk tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri,” ucapnya.
Di sisi lain, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara bersamaan. Kondisi ini dinilai berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.