Mengatasi Krisis Literasi, Menghidupkan Catur Pusat Pendidikan
Minggu, 05 April 2026 - 19:18 WIB
loading...
A
A
A
Selama ini Indonesia cenderung terjebak pada model pertama yaitu lebih mengejar angka, skor, dan kemampuan dasar tanpa membangun budaya literasi sebagai praktik hidup. Padahal, menurut Paulo Freire, literasi adalah proses “membaca dunia”, bukan sekadar membaca teks. Artinya, literasi adalah alat pembebasan, bukan sekadar kompetensi akademik.
Ekosistem yang Terfragmentasi
Mengapa literasi Indonesia sulit berkembang? Jawabannya bukan tunggal, melainkan sistemik. Secara sederhana, literasi di Indonesia masih belum berhasil atau masih gagal karena tidak ditopang oleh ekosistem yang utuh. Pertama, ketimpangan akses dan kualitas. Banyak daerah masih kekurangan bahan bacaan bermutu, perpustakaan aktif, dan ruang belajar yang mendukung.
Kedua, kualitas pembelajaran di sekolah. Praktik pembelajaran masih berorientasi hafalan, bukan pemahaman mendalam. Ini terlihat dari rendahnya kemampuan murid dalam menafsirkan teks kompleks pada PISA.
Ketiga, minimnya budaya membaca di keluarga. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca anak sangat ditentukan oleh lingkungan rumah. Keempat, pengaruh media digital. Era digital menghadirkan paradoks dimana informasi melimpah di satu sisi, tetapi di sisi lain kedalaman membaca justru menurun.
Menghidupkan Catur Pusat Pendidikan
Menarik bahwa kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah telah melibatkan ekosistem pendidikan yang disebut sebagai Catur Pusat Pendidikan. Catur pusat pendidikan meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Keputusan kementerian dikatakan positif karena pendekatan ini sering di masa lalu, hanya menjadi jargon, bukan strategi operasional. Padahal, catur pusat pendidikan dapat menjadi fondasi transformasi literasi nasional.
Banyak yang belum menyadari, keluarga merupakan fondasi literasi sejak dini sebagai sekolah pertama. Studi internasional menunjukkan bahwa anak yang dibacakan buku sejak dini memiliki kemampuan literasi lebih tinggi. Praktik baik dapat dilihat di Finlandia, dimana program family literacy menjadi bagian dari kebijakan nasional. Orang tua didorong membaca bersama anak setiap hari. Sebenarnya di Indonesia sudah ada beberapa gerakan seperti Gerakan Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Sayangnya gerakan-gerakan tersebut masih belum secara masif.
Ekosistem yang Terfragmentasi
Mengapa literasi Indonesia sulit berkembang? Jawabannya bukan tunggal, melainkan sistemik. Secara sederhana, literasi di Indonesia masih belum berhasil atau masih gagal karena tidak ditopang oleh ekosistem yang utuh. Pertama, ketimpangan akses dan kualitas. Banyak daerah masih kekurangan bahan bacaan bermutu, perpustakaan aktif, dan ruang belajar yang mendukung.
Kedua, kualitas pembelajaran di sekolah. Praktik pembelajaran masih berorientasi hafalan, bukan pemahaman mendalam. Ini terlihat dari rendahnya kemampuan murid dalam menafsirkan teks kompleks pada PISA.
Ketiga, minimnya budaya membaca di keluarga. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca anak sangat ditentukan oleh lingkungan rumah. Keempat, pengaruh media digital. Era digital menghadirkan paradoks dimana informasi melimpah di satu sisi, tetapi di sisi lain kedalaman membaca justru menurun.
Menghidupkan Catur Pusat Pendidikan
Menarik bahwa kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah telah melibatkan ekosistem pendidikan yang disebut sebagai Catur Pusat Pendidikan. Catur pusat pendidikan meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. Keputusan kementerian dikatakan positif karena pendekatan ini sering di masa lalu, hanya menjadi jargon, bukan strategi operasional. Padahal, catur pusat pendidikan dapat menjadi fondasi transformasi literasi nasional.
Banyak yang belum menyadari, keluarga merupakan fondasi literasi sejak dini sebagai sekolah pertama. Studi internasional menunjukkan bahwa anak yang dibacakan buku sejak dini memiliki kemampuan literasi lebih tinggi. Praktik baik dapat dilihat di Finlandia, dimana program family literacy menjadi bagian dari kebijakan nasional. Orang tua didorong membaca bersama anak setiap hari. Sebenarnya di Indonesia sudah ada beberapa gerakan seperti Gerakan Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Sayangnya gerakan-gerakan tersebut masih belum secara masif.
Lihat Juga :