Pengasuh Ponpes Sembilangan: Kepanitiaan Muktamar ke-35 NU Pertaruhkan Marwah Jam'iyyah
Jum'at, 03 April 2026 - 16:40 WIB
loading...
A
A
A
Lora Shofwan menilai, sejak komposisi panitia muktamar dipublikasikan. Pesannya tegas NU bukan milik segelintir orang, apalagi untuk dimanfaatkan dalam event muktamar demi kepentingan politik praktis dan pragmatis. Keagungan muktamar terletak pada kemampuannya menegaskan arah, posisi, dan masa depan jam’iyyah NU.
"Independensi dan kedaulatan NU adalah jantung organisasi yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Padahal, para pendiri NU berpesan, jagalah jarak dengan penguasa dan kekuasaan agar jam’iyyah tetap sehat. Peliharalah kepercayaan dan akal sehat nahdliyyin. Kuatkan mereka dengan menjaga marwah jam’iyyah,” katanya.
Suara alarm ini bukan sekadar reaksi atas apa yang tampak di permukaan, melainkan juga peringatan terhadap kemungkinan gerakan tersembunyi di balik dinamika muktamar, rekayasa yang berjalan senyap namun berdampak besar.
"Kehati-hatian dalam membawa NU adalah keniscayaan. Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari dalam Mukadimah Qanun Asasi menegaskan Fa-innaha jam'iyyatu 'adlin wa amaanin wa ishlaahin wa ihsaanin. Wa innaha hulwatun bi afwaahil akhyari, ghushshatun 'alaa ghulaashimil asyrari. Sesungguhnya NU adalah organisasi yang berjalan lurus dan meluruskan, damai dan mendamaikan, serta berperan memperbaiki dan menyantuni. NU terasa manis di lidah orang-orang baik, namun terasa pahit bagi mereka yang dipenuhi kebencian," ucapnya.
Lora Shofwan menambahkan, apa yang diutarakan Nahdliyyin adalah pengingat kritis terhadap NU, khususnya terkait kepanitiaan muktamar, tidak semestinya dipandang sebagai sikap oposisi. Keterbukaan alam pikiran harus diiringi dengan keterbukaan nasihat demi kebaikan bersama.
“Ini adalah tanggung jawab moral kami di akar rumput, untuk memastikan jam’iyyah tidak tergelincir menjadi alat kepentingan praktis, pragmatis, atau bahkan sekadar kendaraan bagi ambisi kekuasaan,” katanya.
Lora Shofwan menegaskan, NU lahir dari rahim pesantren. Oleh karena itu, sudah semestinya penyelenggaraan agenda strategis internal seperti Konbes, Munas Alim Ulama, dan Muktamar ke-35 dilaksanakan di pesantren. Marwah keduanya harus terangkat secara bersamaan sebagai subkultur penting dalam peradaban Nusantara yang membentuk karakter bangsa Indonesia.
"NU berdiri di atas khittahnya, bergerak lurus di jalurnya, berjalan dengan keluhuran adab, serta hadir di tengah umat untuk memperbaiki dan menyantuni demi kemaslahatan. NU harus senantiasa menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan agar tetap mampu memberikan arah. NU bukan corong elit atau oligarki, dan bukan pula selimut propaganda bagi rezim yang abai terhadap penderitaan rakyat," tegasnya.
"Independensi dan kedaulatan NU adalah jantung organisasi yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Padahal, para pendiri NU berpesan, jagalah jarak dengan penguasa dan kekuasaan agar jam’iyyah tetap sehat. Peliharalah kepercayaan dan akal sehat nahdliyyin. Kuatkan mereka dengan menjaga marwah jam’iyyah,” katanya.
Suara alarm ini bukan sekadar reaksi atas apa yang tampak di permukaan, melainkan juga peringatan terhadap kemungkinan gerakan tersembunyi di balik dinamika muktamar, rekayasa yang berjalan senyap namun berdampak besar.
"Kehati-hatian dalam membawa NU adalah keniscayaan. Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari dalam Mukadimah Qanun Asasi menegaskan Fa-innaha jam'iyyatu 'adlin wa amaanin wa ishlaahin wa ihsaanin. Wa innaha hulwatun bi afwaahil akhyari, ghushshatun 'alaa ghulaashimil asyrari. Sesungguhnya NU adalah organisasi yang berjalan lurus dan meluruskan, damai dan mendamaikan, serta berperan memperbaiki dan menyantuni. NU terasa manis di lidah orang-orang baik, namun terasa pahit bagi mereka yang dipenuhi kebencian," ucapnya.
Lora Shofwan menambahkan, apa yang diutarakan Nahdliyyin adalah pengingat kritis terhadap NU, khususnya terkait kepanitiaan muktamar, tidak semestinya dipandang sebagai sikap oposisi. Keterbukaan alam pikiran harus diiringi dengan keterbukaan nasihat demi kebaikan bersama.
“Ini adalah tanggung jawab moral kami di akar rumput, untuk memastikan jam’iyyah tidak tergelincir menjadi alat kepentingan praktis, pragmatis, atau bahkan sekadar kendaraan bagi ambisi kekuasaan,” katanya.
Lora Shofwan menegaskan, NU lahir dari rahim pesantren. Oleh karena itu, sudah semestinya penyelenggaraan agenda strategis internal seperti Konbes, Munas Alim Ulama, dan Muktamar ke-35 dilaksanakan di pesantren. Marwah keduanya harus terangkat secara bersamaan sebagai subkultur penting dalam peradaban Nusantara yang membentuk karakter bangsa Indonesia.
"NU berdiri di atas khittahnya, bergerak lurus di jalurnya, berjalan dengan keluhuran adab, serta hadir di tengah umat untuk memperbaiki dan menyantuni demi kemaslahatan. NU harus senantiasa menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan agar tetap mampu memberikan arah. NU bukan corong elit atau oligarki, dan bukan pula selimut propaganda bagi rezim yang abai terhadap penderitaan rakyat," tegasnya.
(shf)
Lihat Juga :