Kebijakan Jangan Menimbulkan Kegaduhan

Rabu, 25 Maret 2026 - 20:22 WIB
loading...
Kebijakan Jangan Menimbulkan...
Hendarman - Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor.
A A A
HENDARMAN
Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor

Di tengah lanskap pembangunan yang kian rumit dan saling terhubung, ada satu dimensi penting yang sering terabaikan yaitu bahwa kebijakan publik sejatinya bukan hanya dokumen administratif, melainkan cerminan sekaligus penanda kepercayaan. Setiap kebijakan yang dirilis pemerintah pada dasarnya sedang “ditafsirkan” oleh masyarakat luas. Yang dinilai bukan semata substansi kebijakan, tetapi juga proses kelahirannya, apakah telah disusun secara matang, transparan, dan komunikatif, atau justru sebaliknya. Ketika kebijakan muncul secara tiba-tiba, mengalami perubahan berulang, atau disampaikan tanpa penjelasan yang memadai, dampaknya tidak berhenti pada kebingungan publik, melainkan dapat berkembang menjadi kegaduhan yang menggerus kepercayaan publik terhadap Pemerintah.

Fenomena ini bukan sesuatu yang asing. Berulang kali kita menyaksikan kebijakan yang pada awalnya dirancang untuk menjawab persoalan justru berujung pada polemik berkepanjangan. Persoalannya sering kali tidak terletak pada niat atau bahkan substansi kebijakan itu sendiri, melainkan pada lemahnya proses yang menopang lahirnya kebijakan tersebut. Di sinilah titik krusialnya, sejatinya legitimasi kebijakan tidak hanya dibangun dari apa yang diputuskan, tetapi sangat ditentukan oleh bagaimana keputusan itu dirumuskan. Artinya apakah melalui proses yang partisipatif, berbasis bukti, dan konsisten, atau melalui pendekatan yang terburu-buru dan minim dialog.

Kualitas kebijakan publik menjadi fondasi utama dalam membentuk dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah. Kebijakan yang tampak inkonsisten, mudah berubah, atau hadir secara mendadak cenderung memunculkan persepsi ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya mengkritisi isi kebijakan, tetapi juga mulai meragukan kapasitas, keteguhan, dan arah kepemimpinan para pengambil keputusan. Ketika kepercayaan mulai tergerus maka yang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas kebijakan, melainkan juga legitimasi Pemerintah itu sendiri di mata masyarakat.

Pentingnya Legitimasi
Kebijakan publik yang disusun melalui proses yang terbuka, ditopang oleh data yang kuat, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan pada umumnya memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh masyarakat. Keterbukaan memberi kesempatan bagi publik untuk menelusuri dan memahami logika dibalik setiap keputusan. Penggunaan data yang akurat dan relevan memperkuat landasan argumentasi sehingga kebijakan tidak dipersepsikan sebagai keputusan yang spekulatif atau sekadar asumsi. Sementara itu, pelibatan para pemangku kepentingan menjadi jembatan penting agar kebijakan tetap berpijak pada realitas empiris dan tidak terlepas dari kebutuhan nyata di lapangan.

Dari sudut pandang teoretis, kondisi ini dapat dipahami melalui konsep yang dikenal sebagai credibility thesis. Perspektif ini menekankan bahwa keberhasilan suatu kebijakan atau institusi sangat bergantung pada sejauh mana publik mempercayainya. Kepercayaan tersebut tidak muncul secara instan, melainkan dibangun melalui persepsi atas legitimasi, keterbukaan, dan rasa keadilan yang dirasakan masyarakat. Dengan demikian, kebijakan yang secara teknis sudah tepat sekalipun mungkin tidak otomatis efektif apabila tidak dipandang memiliki legitimasi oleh publik. Dalam praktiknya, dimensi persepsi ini sering kali menjadi faktor penentu antara kebijakan yang berjalan mulus dan kebijakan yang justru menuai resistensi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AHY Ingatkan Kader Demokrat...
AHY Ingatkan Kader Demokrat Hasilkan Kebijakan yang Berpihak kepada Rakyat
Jabat Ketum DPP Pemuda...
Jabat Ketum DPP Pemuda Lira, Sultoni: Dukung Kebijakan Prorakyat, tapi Tetap Kritis
Kebijakan Berdasarkan...
Kebijakan Berdasarkan Kebutuhan (Siapa)?
Kebijakan Tidak Tepat...
Kebijakan Tidak Tepat Implementasi
Kawal Kebijakan Publik...
Kawal Kebijakan Publik Berbasis Bukti, BSKDN Perkuat Peran Analis Daerah
Media Talk 2026, BSKDN:...
Media Talk 2026, BSKDN: Komunikasi Kebijakan di Era Digital Harus Diperkuat
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Wakapolda Papua Barat:...
Wakapolda Papua Barat: Tata Kelola Kebijakan Sebaiknya Berbasis Risiko
Rekomendasi
Pemerintah Paksa Daerah...
Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Anang Hermansyah Kompak...
Anang Hermansyah Kompak Wisuda Bareng Ashanty dan Azriel di UNAIR, Raih Gelar S2 dan S3
Berita Terkini
Jelang Muktamar PBNU,...
Jelang Muktamar PBNU, Gus Muhaimin Sentil Pihak yang Main-main di NU untuk Keluar
Kritisi Parpol Koalisi,...
Kritisi Parpol Koalisi, Deddy PDIP: Jika Tidak Nyaman dengan Situasi Politik, Silakan Keluar dari Pemerintahan
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Kapolri: Kegiatan Sebelum Diserahkan ke Kejaksaan
Ajak Elite Politik Jaga...
Ajak Elite Politik Jaga Stabilitas Politik dan Konsisten Bersikap, Misbakhun: Jangan Ambigu
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Ribuan Desa Belum Teraliri...
Ribuan Desa Belum Teraliri Listrik, Menteri Bahlil Siapkan Anggaran Rp10 Triliun
Infografis
Waspada 8 Gejala Awal...
Waspada 8 Gejala Awal Hipertensi, Jangan Dianggap Sepele
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved