Saat Timur Tengah Retak, Modal Mencari Rumah Baru

Rabu, 18 Maret 2026 - 14:04 WIB
loading...
Saat Timur Tengah Retak,...
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific. Foto: Istimewa
A A A
Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific

Setiap perang besar selalu memindahkan sesuatu: kapal, harga, dan pada akhirnya modal. Selama dua dekade terakhir, Teluk menjual dirinya sebagai oasis stabilitas—tempat uang global merasa aman membangun bandara, hotel, pusat logistik, sampai data center. Kini narasi itu retak. Reuters melaporkan perang telah menutup sebagian besar ruang udara, mengacaukan logistik, menekan pariwisata, mengganggu bisnis ritel dan manufaktur, bahkan merusak infrastruktur digital seperti data center di kawasan Teluk.

Dalam laporan lain, Reuters mengutip Tourism Economics bahwa konflik ini dapat memangkas 23 sampai 38 juta kunjungan wisata ke kawasan dan menghapus US$34 miliar sampai US$56 miliar belanja wisata. Itu bukan sekadar jeda. Itu koreksi brutal atas premi “stabilitas” yang selama ini dinikmati kawasan tersebut.

Di titik itulah Asia Tenggara mulai tampak bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai tempat berlindung. Bukan karena kawasan ini bebas risiko—itu mirip dongeng pengantar tidur—melainkan karena dibandingkan dengan kawasan perang, ia menawarkan kombinasi yang lebih waras: pertumbuhan, tenaga kerja, pasar domestik, dan jarak yang relatif dekat ke rantai pasok Asia. Indonesia punya alasan khusus untuk ikut disebut.

Kementerian Investasi mencatat realisasi FDI 2025 sebesar Rp900,9 triliun, naik tipis 0,1 persen, dengan pemulihan pada kuartal IV. Kenaikannya memang belum spektakuler, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal: di tengah dunia yang berisik, Indonesia belum kehilangan daya tariknya.

Lebih menarik lagi, Indonesia tidak lagi hanya menjual tambang dan pasar konsumsi. Pemerintah sedang menyusun strategi AI nasional untuk menarik investasi asing di bidang kecerdasan buatan dan infrastruktur digital. Tercatat sovereign wealth fund INA memprioritaskan data center, layanan kesehatan, dan energi terbarukan, termasuk melalui platform hyperscale data center DayOne di Batam.

Jadi, ketika pusat-pusat digital di Teluk mulai dipandang lebih rentan akibat konflik, Indonesia sebenarnya sudah punya alasan untuk menawarkan diri sebagai alternatif—bukan pengganti total Dubai atau Riyadh, tentu saja, tetapi sebagai bagian dari peta baru penempatan modal digital Asia.

Namun, di sinilah kita harus menahan diri dari euforia murahan. Modal global tidak pindah hanya karena ada perang; ia pindah kalau menemukan tempat baru yang tidak kalah efisien dan lebih dapat dipercaya. Dan di sinilah pekerjaan rumah Indonesia masih menganga. Reuters baru-baru ini mengingatkan bahwa pasar Indonesia sempat diguncang aksi jual besar dan muncul ancaman penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI karena kekhawatiran atas tata kelola dan transparansi.

Itu poin yang tidak boleh disapu ke bawah karpet merah investasi. Investor bisa memaafkan kekurangan infrastruktur. Mereka jauh lebih sulit memaafkan ketidakpastian aturan, tata kelola yang tambal-sulam, dan lembaga pengawas yang tampak sibuk setelah kejadian, bukan sebelum kejadian. Artinya, peluang dari krisis global ini nyata, tetapi tidak otomatis jatuh ke pangkuan.

Indonesia harus bergerak dengan logika yang tajam. Pertama, stabilitas makro harus tetap dijaga, sebab data center, manufaktur presisi, dan infrastruktur AI tidak suka kurs yang liar dan inflasi yang suka berulah. Di sini fondasi makro Indonesia masih relatif membantu: BI menyebut inflasi tetap dalam koridor sasaran dan cadangan devisa akhir Februari 2026 berada pada level 6,1 bulan impor.

Kedua, kepastian pasokan listrik dan konektivitas data harus diperlakukan sebagai agenda investasi inti, bukan urusan sambilan. Ketiga, reformasi tata kelola pasar keuangan harus dipercepat, karena modal digital global datang membawa due diligence, bukan doa.

Ada satu ironi yang menarik. Krisis minyak memang bisa memperlambat ekonomi, menekan fiskal, dan membuat semua orang lebih murung. Tetapi justru dalam momen seperti itu kualitas strategi nasional diuji. Negara yang hanya sibuk memadamkan api akan kelelahan.

Negara yang mampu memadamkan api sambil menata ulang ruang tamunya akan menyambut tamu baru ketika debu perang turun. Indonesia punya modal untuk itu: pasar besar, posisi geostrategis, dorongan hilirisasi, agenda AI yang mulai dibentuk, dan sovereign fund yang sudah membaca arah angin. Yang belum selalu ada adalah konsistensi eksekusi. Nah, setan kecilnya memang di situ.

Jadi, dari perang ini Indonesia memang lebih dulu merasakan risikonya lewat minyak, kurs, dan logistik. Tetapi berhenti di sana adalah cara berpikir korban. Cara berpikir negara yang matang adalah ini: menahan pukulan jangka pendek, lalu merebut perpindahan modal jangka menengah.

Timur Tengah yang memanas sedang mengajari pasar satu pelajaran lama: uang selalu mencari pelabuhan yang lebih tenang. Pertanyaannya bukan apakah modal akan bergerak. Pertanyaannya: apakah Indonesia sudah cukup rapi untuk menjadi rumah, bukan sekadar tempat transit?
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Rekomendasi
Jelang Lawan Senegal,...
Jelang Lawan Senegal, Kante Ultimatum Mbappe Cs
71 Kali Gempa Susulan...
71 Kali Gempa Susulan Terjadi Pascagempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
Ruben Onsu Siap Gugat...
Ruben Onsu Siap Gugat Hak Asuh Anak dari Sarwendah
Berita Terkini
Kemenag Susun Kosa Isyarat...
Kemenag Susun Kosa Isyarat Istilah Fikih dan Teologi Islam untuk Disabilitas
Wali Kota Agustina Tegaskan...
Wali Kota Agustina Tegaskan Kerukunan Jadi Kekuatan Utama Membangun Kota Semarang
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
BPIP Sebut 228 Putra-Putri...
BPIP Sebut 228 Putra-Putri Terbaik Jalani Verifikasi Paskibraka Tingkat Pusat 2026
Elza Syarief Mendadak...
Elza Syarief Mendadak Mundur sebagai Pengacara Sony Sonjaya, Alasannya Merasa Dibohongi
Sudewo Klaim Namanya...
Sudewo Klaim Namanya Dicatut Soal Pemerasan Jabatan Perangkat Desa, KPK: Publik Bisa Cermati Dakwaan
Infografis
Jakarta Beri Diskon...
Jakarta Beri Diskon BPHTB 50 Persen bagi Pembeli Rumah Pertama
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved