Faktor-Faktor Penentu Akhir Perang Israel-AS Vs Iran
Senin, 16 Maret 2026 - 12:52 WIB
loading...
A
A
A
Jika tujuan perang hanya terbatas pada penghancuran fasilitas militer tertentu atau menunda kemampuan nuklir Iran, maka perang berpotensi berlangsung relatif singkat. Namun, jika tujuan Isreal-AS adalah menjatuhkan rezim di Teheran, maka logika konflik akan berubah sepenuhnya.
Perang dengan tujuan maksimal jarang berakhir cepat, karena ia menyentuh inti eksistensi sebuah negara. Dalam hal ini, Israel-AS tampaknya memiliki tujuan berbeda dan berubah-rubah. Ini tampaknya tanda-tanda kelelahan bahkan kekalahan Israel-AS.
Kedua, adalah dukungan politik dalam negeri. Setiap perang pada akhirnya kembali ke pertanyaan sederhana, yaitu sampai sejauh mana masyarakat bersedia menanggung biaya perang? Dengan ujaran lain, siapapun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan untuk terus atau menghentikan perang sangat bergantung pada dukungan politisi dan rakyat.
Awal perang, Trump mungkin mendapatkan dukungan kuat. Namun pertanyaannya, seberapa lama publik Amerika akan mendukung perang yang tak kunjung usai? Sebaliknya, bagi Iran, serangan dari Isreal-AS justru bisa menjadi perekat sosial yang memadamkan api perselisihan internal. Sejarah mengajarkan, sejak dari perang Vietnam hingga Afghanistan, bahwa militer terkuat sekalipun pada akhirnya harus menyerah pada kelelahan domestik.
Ketiga, strategi perang yang digunakan. Iran bukanlah negara yang harus memenangkan perang secara konvensional untuk bertahan, oleh karena kalah persenjataan tempur. Untuk strategi perang, Iran menggunakan strategi perang Atrisi, yaitu membuat lawan kelelahan dengan mengeluarkan sumber daya yang banyak.
Strategi semacam ini tidak selalu bertujuan memenangkan perang secara cepat, tetapi memperpanjang konflik sehingga biaya yang harus ditanggung lawan menjadi semakin besar. Dalam perang seperti ini, waktu berubah menjadi senjata strategis sehingga yang paling kuat bertahan yang akan menang.
Keempat, ruang geografis konflik. Sebuah perang akan jauh lebih sulit dihentikan jika medan konfliknya meluas. Timur Tengah bukanlah ruang yang sederhana. Ia adalah jaringan konflik yang saling terhubung. Ketika perang antara Israel dan Iran mulai bersentuhan dengan berbagai aktor regional, maka konflik tersebut berpotensi berubah dari perang terbatas menjadi konflik kawasan. Ketika konflik membentang, tarik-menarik kepentingan global tak terhindarkan.
Perang dengan tujuan maksimal jarang berakhir cepat, karena ia menyentuh inti eksistensi sebuah negara. Dalam hal ini, Israel-AS tampaknya memiliki tujuan berbeda dan berubah-rubah. Ini tampaknya tanda-tanda kelelahan bahkan kekalahan Israel-AS.
Kedua, adalah dukungan politik dalam negeri. Setiap perang pada akhirnya kembali ke pertanyaan sederhana, yaitu sampai sejauh mana masyarakat bersedia menanggung biaya perang? Dengan ujaran lain, siapapun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan untuk terus atau menghentikan perang sangat bergantung pada dukungan politisi dan rakyat.
Awal perang, Trump mungkin mendapatkan dukungan kuat. Namun pertanyaannya, seberapa lama publik Amerika akan mendukung perang yang tak kunjung usai? Sebaliknya, bagi Iran, serangan dari Isreal-AS justru bisa menjadi perekat sosial yang memadamkan api perselisihan internal. Sejarah mengajarkan, sejak dari perang Vietnam hingga Afghanistan, bahwa militer terkuat sekalipun pada akhirnya harus menyerah pada kelelahan domestik.
Ketiga, strategi perang yang digunakan. Iran bukanlah negara yang harus memenangkan perang secara konvensional untuk bertahan, oleh karena kalah persenjataan tempur. Untuk strategi perang, Iran menggunakan strategi perang Atrisi, yaitu membuat lawan kelelahan dengan mengeluarkan sumber daya yang banyak.
Strategi semacam ini tidak selalu bertujuan memenangkan perang secara cepat, tetapi memperpanjang konflik sehingga biaya yang harus ditanggung lawan menjadi semakin besar. Dalam perang seperti ini, waktu berubah menjadi senjata strategis sehingga yang paling kuat bertahan yang akan menang.
Keempat, ruang geografis konflik. Sebuah perang akan jauh lebih sulit dihentikan jika medan konfliknya meluas. Timur Tengah bukanlah ruang yang sederhana. Ia adalah jaringan konflik yang saling terhubung. Ketika perang antara Israel dan Iran mulai bersentuhan dengan berbagai aktor regional, maka konflik tersebut berpotensi berubah dari perang terbatas menjadi konflik kawasan. Ketika konflik membentang, tarik-menarik kepentingan global tak terhindarkan.
Lihat Juga :