Menelisik Dampak Perang terhadap Stabilitas APBN

Senin, 16 Maret 2026 - 07:05 WIB
loading...
A A A
Penetapan indikator tersebut berfungsi sebagai parameter penting dalam memperkirakan potensi penerimaan negara, kebutuhan belanja pemerintah, serta pembiayaan anggaran dalam satu tahun fiskal. Sehingga, ketepatan dan stabilitas asumsi makroekonomi menjadi faktor krusial dalam menjaga kredibilitas perencanaan fiskal sekaligus memastikan efektivitas APBN sebagai instrumen pengelolaan perekonomian nasional.

Di sisi lain, asumsi makroekonomi yang digunakan dalam penyusunan APBN pada dasarnya bersifat proyeksi yang sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global maupun domestik. Sehingga, ketika terjadi guncangan eksternal, seperti konflik geopolitik atau perang antarnegara, maka stabilitas berbagai indikator ekonomi dapat terganggu secara signifikan.

Seperti, ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada tahun 2026 mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$100 per barel, jauh melampaui asumsi harga minyak yang digunakan dalam perencanaan fiskal sekitar US$70 per barel, sementara nilai tukar rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp16.990 per dolar AS (Reuters, 2026). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan geopolitik dapat mengubah asumsi makro ekonomi, dengan kata lain tekanan APBN akan menjadi semakin berat.

Selain itu, konflik global juga berpotensi menghambat rantai pasok internasional (global supply chain), baik untuk barang jadi maupun barang antara (intermediate goods) yang menjadi input utama dalam proses produksi industri. Alhasil, dampak lanjutan dari gangguan rantai pasok tersebut ialah terganggunya aktivitas produksi di dalam negeri yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku impor maupun komponen industri global.

Kala pasokan input produksi menjadi terbatas atau mengalami kenaikan harga yang signifikan, kapasitas produksi domestik dapat menurun dan biaya produksi meningkat. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi menekan kinerja sektor industri serta memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

Secara umum, fundamental perekonomian Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Hal ini tercermin dari kinerja pertumbuhan ekonomi yang mencapai sekitar 5,11% pada tahun 2025 dan diproyeksikan tetap berada pada kisaran 5,3-5,4% pada tahun 2026. Artinya, stabilitas tersebut dapat menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga kesinambungan pembangunan dan pengelolaan keuangan negara.

Sejalan dengan hal tersebut, penjagaan stabilitas pasar domestik menjadi agenda strategis dalam kebijakan ekonomi nasional. Pasar domestik yang kuat berperan sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi, terutama ketika permintaan eksternal mengalami pelemahan akibat perlambatan ekonomi global atau gangguan perdagangan internasional.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu memastikan bahwa aktivitas ekonomi dalam negeri tetap berjalan secara stabil melalui penguatan konsumsi rumah tangga, keberlanjutan kegiatan produksi, serta perlindungan terhadap sektor-sektor yang memiliki keterkaitan luas dengan perekonomian nasional. Dalam konteks ini, kebijakan fiskal dan moneter harus diarahkan untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan kepercayaan pelaku usaha, serta memperkuat fondasi permintaan domestik.

Salah satu prasyarat utama dalam menjaga stabilitas pasar domestik adalah mempertahankan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya sangat dipengaruhi oleh stabilitas pendapatan dan keberlanjutan kesempatan kerja. Sehingga, upaya untuk mencegah terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
Bakal Hadiri Prosesi...
Bakal Hadiri Prosesi Pemakaman Ayatulloh Khamenei, Ketua MPR: Saya Diutus Presiden
Menlu dan Ketua MPR...
Menlu dan Ketua MPR Akan Hadiri Pemakaman Pemimpin Iran Ali Khamenei pada 9 Juli
Makna Pemakaman Ayatollah...
Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Fenomena Korupsi di...
Fenomena Korupsi di Era Pemerintahan Prabowo Subianto
Kemlu: Dubes RI untuk...
Kemlu: Dubes RI untuk Iran Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Trump Sebut Iran Sampah,...
Trump Sebut Iran Sampah, Ini Respons Teheran
Ayatollah Ali Khamenei...
Ayatollah Ali Khamenei Akan Dikuburkan Hari Ini di Tengah Serangan AS terhadap Iran
Kesepakatan Damai Batal!...
Kesepakatan Damai Batal! AS Gempur Balik Iran, Harga Minyak Ngamuk Lagi
Rekomendasi
Tingginya Antusiasme...
Tingginya Antusiasme Peserta saat Ikuti Perlombaan Antar Madrasah Diniyah yang Digelar MNC Lido dan MNC Peduli
Diduga Jadi Target Berikutnya,...
Diduga Jadi Target Berikutnya, Mas Den Akui Hidup dalam Ketakutan setelah Kehilangan Keluarga!
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Berita Terkini
Geledah Rumah di Sentul...
Geledah Rumah di Sentul Terkait 3 Kasus Korupsi, Polisi Sita Emas dan Uang Hampir Setengah Triliun
TNI Buka Suara soal...
TNI Buka Suara soal Pengamanan Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah, Tegaskan Atas Permintaan Kejaksaan
Jelang Muktamar NU ke-35,...
Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Dorong Kebangkitan Tradisi Menulis Kitab
Sidang Dokter Tifa Kembali...
Sidang Dokter Tifa Kembali Digelar Hari Ini, Akankah Jokowi Datang?
Perencanaan Matang dan...
Perencanaan Matang dan Value for Money Kunci Keberhasilan Modernisasi Alutsista
Sekjen Demokrat Buka...
Sekjen Demokrat Buka Suara soal Isu Capres Minimal Diusung 3 Partai: Belum Pernah Dibahas
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved