Santri dan Literasi Keuangan: Potensi Besar yang Belum Dioptimalkan

Jum'at, 13 Maret 2026 - 15:59 WIB
loading...
Santri dan Literasi...
Dr. Samiyono, M.Pd., Dosen Universitas Darunnajah. Foto/UDN.
A A A
Dr. Samiyono, M.Pd., Dosen Universitas Darunnajah, Pakar Manajemen Pembiayaan Pendidikan

Bayangkan sebuah skenario: lebih dari 42.000 pondok pesantren di Indonesia secara bersamaan melepas jutaan santrinya pulang kampung tiap Lebaran. Mereka membawa serta semangat, doa orang tua, dan berkah musim raya yang tidak sedikit nilainya. Kini bayangkan jika separuh dari mereka—hanya separuh—pulang dengan satu kebiasaan finansial yang tepat.

Dampaknya terhadap ekonomi umat bisa lebih besar dari program subsidi mana pun. Itu bukan utopia. Tapi ia membutuhkan satu hal yang kerap diabaikan dalam kurikulum pesantren maupun sekolah: pendidikan karakter keuangan. Bukan sekadar teori menabung, melainkan pembentukan pola pikir dan watak yang menjadi fondasi kekayaan sejati.

Inflasi Diam-Diam yang Menggerus Rezeki Idulfitri


Sebelum membahas cara membangun kekayaan, kita perlu memahami ancaman yang bekerja diam-diam. Badan Pusat Statistik mencatat momentum Ramadan–Idulfitri secara konsisten mendorong inflasi bulanan hingga kisaran 1,96 persen (BPS, Maret 2025)—jauh di atas ratarata bulan biasa. Harga pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga naik bersamaan, tepat ketika daya beli masyarakat sedang tinggi-tingginya.

Limpahan rezeki yang diterima pun tergerus sebelum sempat dikelola dengan bijak.
Di sisi lain, survei Otoritas Jasa Keuangan tahun 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan remaja usia 15–17 tahun baru menyentuh 51,7 persen.

Hampir separuh generasi muda kita— termasuk para santri—tidak memiliki peta untuk menavigasi kondisi ini. Mereka menerima rezeki, tapi tidak tahu cara menjaganya dari gerusan inflasi, apalagi menumbuhkannya menjadi aset yang berarti.

Dua Kutub Pola Pikir yang Menentukan Nasib Finansial


Riset perilaku keuangan global menegaskan satu temuan yang konsisten: perbedaan antara orang kaya dan orang miskin bukan terutama pada jumlah uang yang mereka miliki, melainkan pada cara mereka berpikir tentang uang. Pola pikir ini terbentuk jauh sebelum seseorang memiliki portofolio investasi—bahkan sebelum ia memiliki rekening tabungan pertamanya.

Mereka yang terjebak dalam pola pikir konsumtif memandang uang sebagai alat pemuas keinginan sesaat—mengejar gaya hidup di luar kemampuan, berhutang untuk konsumsi, dan tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran pengeluaran. Sebaliknya, mereka yang berpola pikir produktif memandang uang sebagai benih: setiap rupiah yang diterima dievaluasi—mana yang ditanam, mana yang diamalkan, dan mana yang boleh dinikmati. Perbedaan dua kutub pola pikir ini, bila dibiarkan, akan terakumulasi menjadi jurang kekayaan yang semakin lebar seiring waktu.
Tujuh Karakter yang Mendahului Kekayaan

Kekayaan bukan tujuan akhir—ia adalah hasil dari karakter yang dibangun dengan sabar. Berikut tujuh karakter mendasar yang secara konsisten ditemukan pada mereka yang berhasil membangun kekayaan, sekaligus memiliki akar kuat dalam nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mendagri Minta Pemda...
Mendagri Minta Pemda Perkuat Pasokan dan Distribusi demi Jaga Inflasi Tetap Terkendali
Mendagri Minta Pemda...
Mendagri Minta Pemda Perkuat Pengendalian Inflasi agar Tetap di Bawah Target Pemerintah
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Biaya Nongkrong Kian...
Biaya Nongkrong Kian Mahal, Bikin Orang Enggan Bertemu
Inflasi Jakarta Terjaga...
Inflasi Jakarta Terjaga pada Level 0,41%, Terendah di Pulau Jawa
Inflasi Juni 2026 Capai...
Inflasi Juni 2026 Capai 3,34%, Harga BBM dan Tiket Pesawat Jadi Pendorong
Rekomendasi
Tak Selalu Aman, Sendok...
Tak Selalu Aman, Sendok Kayu Juga Bisa Jadi Sarang Bakteri dan Jamur
Purbaya Bebaskan Bea...
Purbaya Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Komponen Pesawat Udara
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Berita Terkini
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Pengamat Soroti Rumor...
Pengamat Soroti Rumor Privat di Kasus Febrie: Jangan Geser Fokus dari Substansi Hukum
Hangat dan Haru, Prabowo...
Hangat dan Haru, Prabowo Jamu Perwira TNI-Polri dan Orang Tua di Istana Usai Praspa 2026
Hari Anak Nasional ke-42,...
Hari Anak Nasional ke-42, saatnya Negara Membangun Prasyarat Perlindungan Anak
Febrie Adriansyah Mangkir...
Febrie Adriansyah Mangkir dari Pemeriksaan Kejagung, Dipanggil Ulang Besok
Dokter Tifa Siap Terima...
Dokter Tifa Siap Terima Apa Pun Putusan Sela Hari Ini
Infografis
Slavko Vincic, Wasit...
Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 yang Pelit Kartu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved