Buku Polri Presisi Diluncurkan, Rekam Jejak Jenderal Sigit Dibedah
Kamis, 05 Maret 2026 - 12:40 WIB
loading...
A
A
A
Di mata rakyat, lanjut dia, Polri adalah wajah negara yang paling konkret: apakah negara benar-benar melindungi, atau justru melukai kepercayaan publik. "Di bawah kepemimpinan nasional Presiden Prabowo Subianto, bangsa ini diarahkan pada delapan agenda strategis yang dikenal sebagai Asta Cita—sebuah ikhtiar besar untuk memperkuat kedaulatan, pertahanan dan keamanan, pembangunan ekonomi, serta keadilan sosial," ujarnya.
Melalui buku Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat, dia mengaku berupaya menghadirkan pembacaan yang jernih dan argumentatif tentang arah transformasi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Bagi Nasky, Polri bukan hanya sekedar institusi penegak hukum, melainkan pilar strategis negara yang menentukan tegak atau runtuhnya kepercayaan publik terhadap hukum dan keadilan.
Dia menambahkan, negara yang besar tidak diukur dari luas wilayahnya, melainkan dari tegaknya hukum. Dia menambahkan, negara yang berdaulat tidak dibangun di atas ketakutan, tetapi di atas keadilan. Dan keadilan hanya akan hidup apabila penegakan hukum berdiri kokoh—tidak tunduk pada tekanan, tidak goyah oleh kekuasaan.
Maka itu, Nasky menilai transformasi Polri melalui paradigma Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) bukanlah sekadar proyek administratif. Ia merupakan pernyataan politik hukum negara bahwa keamanan tidak boleh dipisahkan dari keadilan, bahwa kekuatan tidak boleh dilepaskan dari hukum, dan bahwa kewibawaan negara harus lahir dari kepercayaan rakyat.
"Di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Polri diarahkan menjadi institusi yang modern, terbuka, demokratis, responsif, dan adaptif terhadap perubahan zaman," ujarnya.
Dia melanjutkan, tantangan yang dihadapi bangsa ini tidak lagi terbatas pada kejahatan konvensional, melainkan juga kejahatan siber, kejahatan terorganisasi, radikalisme, konflik sosial, serta disrupsi teknologi yang menguji ketahanan hukum negara.
"Di medan inilah Polri Presisi diuji: apakah ia hanya kuat secara struktur, atau benar-benar adil dalam fungsinya. Buku ini menempatkan Polri bukan hanya sebagai penjaga ketertiban, melainkan sebagai penjaga masa depan negara. Tanpa kepolisian yang profesional dan dipercaya, demokrasi akan kehilangan makna, pembangunan kehilangan fondasi, dan hukum kehilangan wibawa," imbuhnya.
Melalui buku Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat, dia mengaku berupaya menghadirkan pembacaan yang jernih dan argumentatif tentang arah transformasi Polri di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Bagi Nasky, Polri bukan hanya sekedar institusi penegak hukum, melainkan pilar strategis negara yang menentukan tegak atau runtuhnya kepercayaan publik terhadap hukum dan keadilan.
Dia menambahkan, negara yang besar tidak diukur dari luas wilayahnya, melainkan dari tegaknya hukum. Dia menambahkan, negara yang berdaulat tidak dibangun di atas ketakutan, tetapi di atas keadilan. Dan keadilan hanya akan hidup apabila penegakan hukum berdiri kokoh—tidak tunduk pada tekanan, tidak goyah oleh kekuasaan.
Maka itu, Nasky menilai transformasi Polri melalui paradigma Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) bukanlah sekadar proyek administratif. Ia merupakan pernyataan politik hukum negara bahwa keamanan tidak boleh dipisahkan dari keadilan, bahwa kekuatan tidak boleh dilepaskan dari hukum, dan bahwa kewibawaan negara harus lahir dari kepercayaan rakyat.
"Di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Polri diarahkan menjadi institusi yang modern, terbuka, demokratis, responsif, dan adaptif terhadap perubahan zaman," ujarnya.
Dia melanjutkan, tantangan yang dihadapi bangsa ini tidak lagi terbatas pada kejahatan konvensional, melainkan juga kejahatan siber, kejahatan terorganisasi, radikalisme, konflik sosial, serta disrupsi teknologi yang menguji ketahanan hukum negara.
"Di medan inilah Polri Presisi diuji: apakah ia hanya kuat secara struktur, atau benar-benar adil dalam fungsinya. Buku ini menempatkan Polri bukan hanya sebagai penjaga ketertiban, melainkan sebagai penjaga masa depan negara. Tanpa kepolisian yang profesional dan dipercaya, demokrasi akan kehilangan makna, pembangunan kehilangan fondasi, dan hukum kehilangan wibawa," imbuhnya.
Lihat Juga :