Haedar Nashir Ajak Umat Jadikan Ramadan sebagai Kanopi Sosial
Rabu, 18 Februari 2026 - 06:51 WIB
loading...
A
A
A
Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap, hubungan atau relasi sosial kemasyarakatan juga semakin baik dan menebar kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta. Maka berbagai urusan apapun itu jangan sampai mengganggu tujuan utama mencapai takwa.
Baca juga: Haedar Nashir Ingatkan Elite Jangan Sibuk Membangun Legasi yang Membebani Masa Depan Indonesia
Oleh karenanya, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat kemuliaannya. Haedar juga berpesan supaya Puasa Ramadan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadan.
“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan mrnebar segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.
Puasa Ramadan diharapkan menjaga dan memperbaiki akhlak harian serta akhlak publik seorang muslim. Muaranya puasa menjadi wahana perbaikan karakter dan kemampuan kaum muslim untuk menjadi umat terbaik. Menurut Haedar, jika umat Islam masih begini-begini saja yakni tidak naik kelas menjadi umat terbaik, maka kejayaan, martabat, dan perlombaan untuk menciptakan peradaban maju sulit dimenangkan.
Umat Islam juga tidak boleh menjadi fatalis, hanya menyerah pada nasib. Khususnya dalam konteks ekonomi yang hematnya masih memerlukan perjuangan dan kerja keras untuk bisa setara dengan peradaban yang lain.
“Meraih kualitas hidup umat Islan terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.
“Dalam konteks sosial yang lebih luas, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” ungkapnya. Haedar mengingatkan, bahwa puasa tak sebatas menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan nafsu dan hasrat yang merusak kerekatan sosial, termasuk mengajari muslim untuk bersabar.
Baca juga: Haedar Nashir Ingatkan Elite Jangan Sibuk Membangun Legasi yang Membebani Masa Depan Indonesia
Oleh karenanya, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat kemuliaannya. Haedar juga berpesan supaya Puasa Ramadan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadan.
“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan mrnebar segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.
Perbaikan Akhlak Pribadi dan Publik
Puasa Ramadan diharapkan menjaga dan memperbaiki akhlak harian serta akhlak publik seorang muslim. Muaranya puasa menjadi wahana perbaikan karakter dan kemampuan kaum muslim untuk menjadi umat terbaik. Menurut Haedar, jika umat Islam masih begini-begini saja yakni tidak naik kelas menjadi umat terbaik, maka kejayaan, martabat, dan perlombaan untuk menciptakan peradaban maju sulit dimenangkan.
Umat Islam juga tidak boleh menjadi fatalis, hanya menyerah pada nasib. Khususnya dalam konteks ekonomi yang hematnya masih memerlukan perjuangan dan kerja keras untuk bisa setara dengan peradaban yang lain.
“Meraih kualitas hidup umat Islan terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.
Puasa jadi Kanopi Sosial, Tak Sekadar Tahan Lapar dan Dahaga
“Dalam konteks sosial yang lebih luas, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” ungkapnya. Haedar mengingatkan, bahwa puasa tak sebatas menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan nafsu dan hasrat yang merusak kerekatan sosial, termasuk mengajari muslim untuk bersabar.
Lihat Juga :