Kearifan Lokal Toleransi, Selaras dengan Nilai Pancasila

loading...
Kearifan Lokal Toleransi, Selaras dengan Nilai Pancasila
Seminar Nasional Peranan Nilai-nilai Pancasila Dalam Mencegah Sikap Intoleransi Dan Paham Radikalisme Pada Generasi Milenial.
A+ A-
KUDUS - Wakil Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono menyebut Pancasila telah mengalami perjalanan panjang baik sebagai dasar negara atau ideologi bangsa dan seluruh rangkaiannya.

Dalam perjalanan menemukan Pancasila juga dipengaruhi oleh kearifan lokal masing-masing pendukungnya. "Di Kudus, ini ada pengaruh para wali, yang menjadi kearifan masyarakat Kudus," cetus Hariyono yang menjadi pembuka Seminar Nasional Peranan Nilai-nilai Pancasila Dalam Mencegah Sikap Intoleransi Dan Paham Radikalisme Pada Generasi Milenial. Seminar ini merupakan kerja sama Magister Hukum Universitas Muria Kudus (UMK) dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila di Kudus, Rabu (16/9/2020).

Menurut Hariyono, dalam perjalanan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara telah mengalami dinamika baik politis maupun sosial budaya. Termasuk masih adanya pihak yang mempertanyakan kelahiran Pancasila bukan pada 1 Juni. "Ada yang bilang Pancasila lahir tanggla 22 Juni, 18 Agustus. Semua itu sebenarnya merupakan satu rangkaian. Tetapi lahirnya Pancasila sebagai dasar negara, pada 1 Juni," beber Hariyono.



Menyinggung intoleransi, Hariyono mengatakan intoleransi tidak hanya menyakiti pihak lain tetapi juga diri sendiri. Jika ada yang melakukan intoleransi sesungguhnya hanya menyakiti diri sendiri. Menanamkan nilai Pancasila pada anak sejak usia dini sambung Hariyono akan mengurangi sikap yang antiPancasila.

Hariyono tidak menafikan jika hingga saat ini masih ada pihak yang antiPancasila. Ia hanya menyebut jika terjadi hal itu maka wilayah tersebut tidak aman. Sehingga dalam kaitan itu tetap memerlukan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Menurut Hariyono sosialisasi Pancasila perlu melibatkan kearifan lokal.

Pada akhir sambutan Hariyono mengimbau kepada para peserta seminar Hariyono berpesan agar memahami hukum tidak hanya sebatas literatur. Mahasiswa hukum Universitas Muria Kudus dapat lebih mengembangkan hukum lebih luas lagi.



Sementara itu, Wakil Rektor IV Dr. Subarkah mengatakan, seminar nasional ini bertujuan untuk mengembangkan kearifan lokal. ”Sehingga diharapkan meminimalisir intoleransi dan radikalmisme,” jelasnya.

Subarkah menjelaskan salah satu kearifan lokal yang ada di Kudus yakni sikap toleransi. ”Pancasila harus dijadikan ruang pertemuan,” imbuhnya. Pancasila menjadi pertemuan adanya perbedaan.
(alf)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak