Paradoks Persaudaraan Manusia di Asia Tenggara

Rabu, 04 Februari 2026 - 07:54 WIB
loading...
Paradoks Persaudaraan...
Dosen di Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII. Foto/Dok. Pribadi
A A A
Ridwan al-Makassary

Dosen di Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

DI ABAD ke-21, ancaman terbesar terhadap kemanusiaan bukanlah ketiadaan norma, melainkan kegagalan mengaplikasikan norma ke dalam praktik politik global dan regional. Planet bumi, sejatinya, telah memiliki sejumlah deklarasi, piagam, dan konsensus moral, jika dibaca dari lensa teori liberalisme dalam studi internasional, guna menjaga perdamaian dan martabat manusia.

Namun, serangan atas kedaulatan negara lain, konflik transnasional berbasis identitas, pengusiran paksa, dan polarisasi sosial terus terjadi berulang-ulang, bahkan di kawasan yang kerap dibanggakan sebagai ruang hidup multikultural. Di titik inilah gagasan human fraternity (persaudaraan manusia) menemukan urgensi, yaitu bukan sebagai slogan etis global, melainkan sebagai batu sandungan ujian bagi kawasan seperti Asia Tenggara. Pada 4 Februari tahun ini, hari Persaudaraan Manusia Internasional, penulis menawarkan refleksi untuk aksi ini.

Secara global, human fraternity memperoleh artikulasi penting melalui Document on Human Fraternity (Abu Dhabi, 2019), yang menegaskan bahwa agama seharusnya menjadi sumber perdamaian, bukan alat legitimasi konflik. Namun, dokumen tersebut baru bermakna jika dibaca secara kontekstual. Asia Tenggara membutuhkan lebih dari sekadar afirmasi moral, yaitu membutuhkan keberanian politik untuk menantang cara negara dan elite politik memproduksi “yang lain” sebagai ancaman bagi eksistensi.

Di Asia Tenggara, ujian terhadap persaudaraan manusia tampak nyata. Krisis kemanusiaan Rohingya di Myanmar menunjukkan bagaimana nasionalisme eksklusif dan instrumentalisasi identitas agama dapat berujung pada pelanggaran HAM berat.

Di Thailand Selatan dan Filipina Selatan, konflik berkepanjangan mengajarkan bahwa kegagalan mengelola perbedaan etnis-keagamaan acap bermula dari absennya keadilan politik dan pengakuan martabat komunitas lokal. Bahkan, di negara-negara yang relatif stabil, seperti Indonesia dan Malaysia, polarisasi berbasis identitas masih menjadi ancaman laten dalam kontestasi politik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: Indonesia-Belarus...
Prabowo: Indonesia-Belarus Sepakat Mendukung Perdamaian dan Stabilitas Dunia
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
KJRI Penang: Konektivitas...
KJRI Penang: Konektivitas BNCT Perkuat Rantai Pasok bagi Negara-negara Asean dan Asia
Waisak 2026, Menag:...
Waisak 2026, Menag: Dharma Menjaga Perdamaian Dunia
Menlu Sugiono: BRICS...
Menlu Sugiono: BRICS Harus Berperan Aktif Menjaga Perdamaian dan Stabilitas Global
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Perkuat Kolaborasi Kampus,...
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
Ini Teks Resmi 14 Poin...
Ini Teks Resmi 14 Poin Kesepakatan Damai AS dan Iran
Rekomendasi
Babak Baru Kasus Dugaan...
Babak Baru Kasus Dugaan Penganiayaan ART oleh Erin Wartia, Herawati Bawa Bukti ke Polisi
Layanan Super Cepat,...
Layanan Super Cepat, TASPEN Rampungkan 99,97% Klaim dan Targetkan Selesai H+1
Rayakan Hari Jadi, Ancol...
Rayakan Hari Jadi, Ancol Gratiskan Tiket Masuk pada 10 Juli Besok
Berita Terkini
Mantan Sekjen MPR Maruf...
Mantan Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono Kembali Diperiksa KPK di Kasus Gratifikasi
Dokter Tifa Sebut Dakwaan...
Dokter Tifa Sebut Dakwaan JPU Lemah: Sidang Tidak Bisa Lagi Dilanjutkan
Badko HMI Dukung Polri...
Badko HMI Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Batu Bara
Sidang Eksepsi, Dokter...
Sidang Eksepsi, Dokter Tifa Minta Hakim Nyatakan Dakwaan JPU Tak Dapat Diterima
Polri Usut 3 Kasus Besar...
Polri Usut 3 Kasus Besar Korupsi, Pakar: Siapa pun yang Menghalangi Harus Ditindak
Kasus Mafia Hukum dalam...
Kasus Mafia Hukum dalam Pemberantasan Korupsi
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved