Nisfu Sya‘ban dan Krisis Adab di Tengah Polarisasi Umat

Senin, 02 Februari 2026 - 09:11 WIB
loading...
A A A
Namun, penting dicatat bahwa tidak pernah ada ijma‘ tentang bentuk ibadah khusus di malam Nisfu Sya‘ban. Imam besar penduduk Madinah seperti Imam Malik tidak mengamalkannya dan menolak pengkhususan ibadah tertentu,6 (lihat: Ibn ‘Abd al-Barr, al-Istidhkār, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jil. 2, hlm. 62. ) sementara Imam al-Awza‘i, imam fiqh negeri Syam, mengakui keutamaan malamnya tetapi tidak menyukai praktik berjamaah yang dibakukan.

Ibnu Taimiyah menegaskan posisi moderat dalam persoalan ini: keutamaan malam Nisfu Sya‘ban memiliki dasar, tetapi tidak ada dalil sahih yang mewajibkan atau membakukan bentuk ibadah tertentu.7 (lihat: Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, Riyadh: Majma‘ al-Malik Fahd, jil. 23, hlm. 131–133. ) Karena itu, ia menolak sikap saling mengingkari dalam masalah ijtihadi semacam ini.8 (Ibid.)

Yang menarik, perbedaan ini tidak pernah berubah menjadi konflik identitas. Imam Malik tidak membid‘ahkan ulama Syam. Ulama Syam tidak menganggap Madinah “kurang sunnah”. Ikhtilaf tetap berada dalam koridor adab dan ilmu.

Bandingkan dengan kondisi hari ini. Nisfu Sya‘ban tidak lagi dipahami sebagai perbedaan ijtihadiyah, tetapi dipakai sebagai alat klasifikasi sosial: siapa tradisionalis, siapa puritan, siapa dianggap lurus, siapa dianggap sesat. Inilah titik di mana masalah sebenarnya muncul—bukan pada amalan, tetapi pada cara beragama.

Praktik Nisfu Sya’ban di Indonesia

Pada akhirnya, polemik seputar Nisfu Sya‘ban di Indonesia tidak boleh berhenti pada romantisasi tradisi atau sekadar seruan toleransi yang hampa dari kejujuran ilmiah. Ketika praktik ibadah mahdhah—seperti shalat khusus dengan bilangan tertentu, doa-doa dengan niat panjang umur dan kelapangan rezeki, serta keyakinan bahwa malam Nisfu Sya‘ban adalah saat penetapan seluruh takdir dan ajal manusia—secara tegas ditolak oleh otoritas ulama sebesar Imam an-Nawawi dan Syaikh ‘Athiyyah Shaqr, maka persoalan ini bukan lagi khilafiyah ringan, melainkan ujian serius bagi integritas keilmuan umat. Mengabaikan koreksi tersebut berarti membiarkan tradisi menggeser dalil, dan sentimen kolektif mengalahkan metodologi ilmiah yang selama berabad-abad menjadi penyangga Ahlus Sunnah.

Namun pada saat yang sama, koreksi ilmiah yang sahih tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap umat awam, sebab kesalahan mereka lahir dari pewarisan tradisi, bukan dari kesengajaan menyalahi agama. Di titik inilah adab beragama menemukan maknanya: berani mengatakan yang benar dengan dalil yang jujur, sekaligus menjaga hikmah dakwah agar kebenaran tidak berubah menjadi alat polarisasi. Tanpa keseimbangan ini, umat tidak hanya kehilangan ketepatan beragama, tetapi juga kehilangan kebijaksanaan dalam merawat persatuan.

Defisit Adab di Tengah Banjir Dalil

Umat Islam modern tidak kekurangan dalil, tetapi sering kekurangan adab. Media sosial mempercepat polarisasi: potongan ceramah menggantikan kajian utuh, emosi mengalahkan metodologi, dan klaim kebenaran menggeser kerendahan hati ilmiah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sidang Lengkap IV Dewan...
Sidang Lengkap IV Dewan Hisbah 2026, Ketum Persis: Fatwa Harus Jadi Solusi Umat
Said Aqil Siradj: Kebangkitan...
Said Aqil Siradj: Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
Kepengurusan Baru Disahkan,...
Kepengurusan Baru Disahkan, PB Mathla'ul Anwar Tancap Gas Naik Level
LPOI Gelar Konsolidasi...
LPOI Gelar Konsolidasi untuk Perdamaian dan Peradaban Humanis
Tegaskan Perang Iran...
Tegaskan Perang Iran Vs AS-Israel Bukan Masalah Mahzab, Dubes Iran Ajak Umat Islam Bersatu
Kemenag Terbitkan Panduan...
Kemenag Terbitkan Panduan Takbiran di Bali Jika Berbarengan dengan Hari Raya Nyepi
Khotbah Iduladha di...
Khotbah Iduladha di Lapangan Masjid Agung Al Azhar, Din Syamsuddin Tekankan Pentingnya Persatuan Umat Islam
Pembangunan Masjid Nurlaila...
Pembangunan Masjid Nurlaila Naga di Manggarai Barat Perkuat Spiritual Masyarakat
Apakah Kemuliaan Malam...
Apakah Kemuliaan Malam Lailatul Qadar hanya Diberikan pada Umat Muslim Saja? Begini Penjelasannya
Rekomendasi
Perkuat Jaringan di...
Perkuat Jaringan di Jatim, XLSMART Perluas 5G Blanket Coverage di 8 Kabupaten/Kota
UNJ Dampingi Penguatan...
UNJ Dampingi Penguatan Kapasitas Guru PKBM Ghaisan Cendekia
AS Berambisi Caplok...
AS Berambisi Caplok 3 Pulau Terluar Iran, Bunuh Diri atau Raih Kemenangan Taktis?
Berita Terkini
Amien Desak Prabowo...
Amien Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Alumni KPK Masuk Tim...
Alumni KPK Masuk Tim Khusus Usut Kasus Febrie Adriansyah, Budi Prasetyo: Progres yang Positif
Prabowo Pimpin Rapat...
Prabowo Pimpin Rapat 5 Jam soal Koperasi Desa Merah Putih di Istana, Ini Hasilnya
Di Forum BRICS 2026,...
Di Forum BRICS 2026, KSPSI AGN Dorong AI Berpihak pada Pekerja
Kejagung Ralat Pernyataan,...
Kejagung Ralat Pernyataan, Status Febrie Adriansyah Tetap Tersangka di 3 Sprindik Baru
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved