Menuju Status Negara Maju di Tengah Ketidakpastian Global
Selasa, 20 Januari 2026 - 12:45 WIB
loading...
A
A
A
Risiko terhadap kenaikan harga minyak dunia baru akan meningkat jika pemerintah AS menduduki Venezuela yang mengganggu ekspor minyakmya. Di mana, berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), sekitar 68 persen ekspor minyak Venezuela ke China, 23 persen ke AS, 4,0 persen ke Spanyol, dan 4,0 persen ke Kuba.
Artinya, pemerintah China akan mencari sumber pasokan minyak dari negara produsen minyak lainnya. Hal ini akan menambah permintaan ke pasar yang berpotensi mendongkrak harga minyak dunia.
Risiko terbesar terhadap perekonomian nasional dan global justru bersumber dari potensi perang Iran - AS. Pengalaman perang Timteng sejak 1970-an hingga saat ini, seperti revolusi Iran, perang Iran-Irak, perang Timteng 1991, Arab spring dan embargo minyak Timteng atas keterlibatan UE mendukung Israel dalam perang Yom Kippur membuat harga minyak dunia naik secara drastis.
Hasil simulasi Fitch Rating tahun 2023, memperkirakan bahwa terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik menjadi 120 dollar AS per barrel. Atau, naik kurang lebih 88,12 persen dari harga minyak saat ini, sekitar 63,788 dollar AS per barrel pada Kamis, 15 Januari 2026.
Di mana, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,4 persen dan mendongkrak inflasi secara global sebesar 0,1 – 0,8 persen. Efek kenaikan harga minyak dunia relatif kecil di AS dibandingkan UE. Sementara, inflasi di Emerging Market Economies (EMEs) Asia kurang sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia (Fitch Rating, 2023).
Singkatnya, ketidakpastian geopolitik global menaikkan persepsi risiko terhadap perekonomian global dan nasional. Risiko perekonomian nasional bertambah karena secara domestik juga terjadi peningkatan defisit fiskal hingga mendekati batas aman 3,0 persen. Di mana, hampir setengah dari pendapatan negara digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Jika perekonomian nasional terperangkap pertumbuhan 5,0 persen yang telah terjadi selama satu dekade terakhir, maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 triliun dollar AS dan maksimum 3,889 triliun dollar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia sekitar 1,396 triliun dollar AS.
Pada saat yang sama, GDP per kapita Indonesia sebesar 4.924,510 dollar AS tahun 2024. Dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dollar AS tahun 2030 dan 12.003,715 dollar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju.
Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar tidak mengalami perangkap pertumbuhan 5,0 persen? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dollar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dollar AS?
Artinya, pemerintah China akan mencari sumber pasokan minyak dari negara produsen minyak lainnya. Hal ini akan menambah permintaan ke pasar yang berpotensi mendongkrak harga minyak dunia.
Risiko terbesar terhadap perekonomian nasional dan global justru bersumber dari potensi perang Iran - AS. Pengalaman perang Timteng sejak 1970-an hingga saat ini, seperti revolusi Iran, perang Iran-Irak, perang Timteng 1991, Arab spring dan embargo minyak Timteng atas keterlibatan UE mendukung Israel dalam perang Yom Kippur membuat harga minyak dunia naik secara drastis.
Hasil simulasi Fitch Rating tahun 2023, memperkirakan bahwa terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik menjadi 120 dollar AS per barrel. Atau, naik kurang lebih 88,12 persen dari harga minyak saat ini, sekitar 63,788 dollar AS per barrel pada Kamis, 15 Januari 2026.
Di mana, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,4 persen dan mendongkrak inflasi secara global sebesar 0,1 – 0,8 persen. Efek kenaikan harga minyak dunia relatif kecil di AS dibandingkan UE. Sementara, inflasi di Emerging Market Economies (EMEs) Asia kurang sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia (Fitch Rating, 2023).
Agenda Jangka Panjang
Singkatnya, ketidakpastian geopolitik global menaikkan persepsi risiko terhadap perekonomian global dan nasional. Risiko perekonomian nasional bertambah karena secara domestik juga terjadi peningkatan defisit fiskal hingga mendekati batas aman 3,0 persen. Di mana, hampir setengah dari pendapatan negara digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Jika perekonomian nasional terperangkap pertumbuhan 5,0 persen yang telah terjadi selama satu dekade terakhir, maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 triliun dollar AS dan maksimum 3,889 triliun dollar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia sekitar 1,396 triliun dollar AS.
Pada saat yang sama, GDP per kapita Indonesia sebesar 4.924,510 dollar AS tahun 2024. Dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dollar AS tahun 2030 dan 12.003,715 dollar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju.
Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar tidak mengalami perangkap pertumbuhan 5,0 persen? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dollar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dollar AS?