Ketidakpastian Yang Pasti

Senin, 19 Januari 2026 - 06:53 WIB
loading...
Ketidakpastian Yang...
Candra Fajri Ananda, Wakil Ketua Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan. Foto/Dok. SINDOnews
A A A
Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi OJK

MEMASUKI awal tahun 2026, perekonomian global dihadapkan pada dinamika yang kian tak pasti dan sarat dengan berbagai risiko. Perekonomian global menunjukkan kondisi yang relatif rentan, ditandai oleh perlambatan pertumbuhan dan meningkatnya frekuensi guncangan kebijakan serta geopolitik.

Dana Moneter Internasional (IMF) melalui World Economic Outlook Update yang dirilis pada 19 Januari 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia menurun secara bertahap dari 3,3% pada 2024 menjadi 3,2% pada 2025 dan kembali melemah menjadi 3,1% pada 2026. Proyeksi tersebut mengindikasikan bahwa proses pemulihan global masih berlangsung, namun kehilangan momentum yang signifikan.

Sejalan dengan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan World Economic Situation and Prospects 2026 memperkirakan pertumbuhan output global hanya mencapai 2,7% pada 2026, masih berada di bawah rata-rata pra-pandemi sebesar 3,2%, yang mencerminkan pemulihan ekonomi global yang berlangsung tidak merata antarwilayah. Dalam situasi ini, pasar keuangan dan pelaku usaha menjadi semakin sensitif terhadap sinyal kebijakan yang berpotensi memengaruhi ekspektasi biaya perdagangan, inflasi, serta stabilitas hubungan internasional.

Ketidakpastian global tersebut pun semakin diperkuat oleh statemen politik yang bernada konfrontatif, khususnya yang disampaikan oleh Donald Trump terkait kebijakan tarif dan tekanan terhadap mitra dagang. Ancaman pengenaan tarif terhadap negara-negara sekutu yang tidak sejalan dengan kepentingan politiknya, termasuk dalam isu geopolitik Greenland, dengan cepat direspons pasar sebagai tambahan risiko bagi tatanan perdagangan internasional dan hubungan trans-Atlantik.

Tingginya persepsi risiko ini tercermin pada Global Economic Policy Uncertainty Index yang dirilis oleh Federal Reserve Economic Data (FRED), yang tercatat mencapai 389,43 pada Oktober 2025, setelah sebelumnya berada pada level yang lebih tinggi yaitu 412,36 pada Juli 2025. Lonjakan ketidakpastian kebijakan tersebut mendorong perusahaan untuk menunda investasi, memperpendek horizon kontrak bisnis, serta melakukan penyesuaian dan pengamanan rantai pasok, yang pada akhirnya menekan produktivitas dan meningkatkan volatilitas harga komoditas maupun nilai tukar.

Dampak peningkatan ketidakpastian ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga tercermin secara nyata dalam kinerja ekonomi riil. Di Amerika Serikat, aktivitas manufaktur dilaporkan mengalami kontraksi pada kuartal IV 2025, sementara sektor tersebut mencatat kehilangan sekitar 68.000 lapangan kerja sepanjang 2025, seiring dengan tekanan tarif dan kebijakan imigrasi yang memperketat pasar tenaga kerja.

Di kawasan Eropa, PBB juga mengaitkan pelemahan prospek ekonomi dengan meningkatnya hambatan perdagangan, di mana pertumbuhan ekonomi Uni Eropa diproyeksikan turun dari 1,5% pada 2025 menjadi 1,3% pada 2026, di tengah tarif Amerika Serikat yang lebih tinggi dan ketidakpastian global yang berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa kejutan negatif dari statemen politik bekerja melalui mekanisme transmisi yang jelas, mulai dari peningkatan ketidakpastian kebijakan dan premi risiko hingga penundaan investasi dan perlambatan perdagangan global.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Kurban dan Pembangunan
Kurban dan Pembangunan
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 %, Lemhannas Soroti Pentingnya Strategi Mitigasi Global
Mitigasi Krisis
Mitigasi Krisis
Denny JA Nilai Prabowo...
Denny JA Nilai Prabowo Sedang Bangun Fondasi Indonesia Baru
Profesional Nahdliyin...
Profesional Nahdliyin Dukung Prabowo Wujudkan Ekonomi Patriotik
Caketum HIPMI Reynaldo:...
Caketum HIPMI Reynaldo: Pariwisata Penggerak Ekonomi Nasional
Mengulik Kerentanan...
Mengulik Kerentanan Ekonomi Nasional di Balik Angka Pertumbuhan 5,61 Persen
Jelang Berangkat Haji,...
Jelang Berangkat Haji, Purbaya Siapkan Doa Khusus untuk Ekonomi Nasional
Rekomendasi
AS Hendak Kerahkan Senjata...
AS Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Lebih Banyak Negara NATO, Bisa Bikin Rusia Murka
Toyota Mulai Uji Coba...
Toyota Mulai Uji Coba Mobil Hidrogen di Sirkuit Le Mans
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
Berita Terkini
Kejagung: Proyek Motor...
Kejagung: Proyek Motor Listrik BGN Rp1 Triliun Jatuh ke Vendor yang Tak Penuhi Syarat
Dadan Hindayana Tersangka...
Dadan Hindayana Tersangka Dugaan Korupsi MBG, PDIP Minta Pengawasan Diperketat
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi...
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi K3, Noel: Kalau Saya Terbukti Peras Pengusaha Hukum Mati
Berkas Roy Suryo Cs...
Berkas Roy Suryo Cs P21, Polda Metro Diminta Segera Lakukan Pelimpahan Tahap Dua
Dadan Hindayana Cs Terjerat...
Dadan Hindayana Cs Terjerat Korupsi, DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola di BGN
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved