Iran 2026: Ketika Negara Kehilangan Masa Depan Rakyatnya

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:13 WIB
loading...
Iran 2026: Ketika Negara...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

IRAN 2026, hari-hari ini, sedang menyaksikan ancaman krisis terbesar sejak 2022, yang telah menewaskan kurang lebih dari 500 jiwa, di tengah ancaman Trump mengintervensi guna mendukung barisan pelaku aksi (demonstran). Dalam hal ini, tidak ada yang lebih menyakitkan bagi sebuah negara yang menyaksikan keyakinan rakyatnya kepada pemerintahnya tergerus hebat: keyakinan negara melindungi rakyatnya, ekonomi bisa diselamatkan, dan juga masa depan masih ada harapan di balik layar sensor dan khutbah Jumat.

Singkatnya, Iran 2026 sedang dihantam protes massal, mogok ekonomi, pembangkangan sipil, hingga benturan bersenjata di beberapa provinsi. Krisis ini bukan lagi babak baru konfrontasi negara dan rakyat. Namun, ia dapat dilihat sebagai penagihan atas janji-janji masa depan dari rakyat, terutama generasi muda Iran dan perempuan, yang selama puluhan tahun disegel rapi oleh rezim yang berkuasa.

Generasi muda Iran adalah generasi digital yang terhubung dengan dunia melalui internet, Netflix, VPN, dan diaspora. Mereka umumnya adalah generasi Z yang menganggap martabat individu lebih penting daripada doktrin negara.

Ketika generasi seperti ini berhadapan dengan lembing kekuasaan negara yang ingin mendisiplinkan moral, pakaian, agama, dan bahkan mimpi mereka, maka konflik menyalin rupa menjadi eksistensial, bukan lagi sekadar isu ekonomi. Dengan ujaran lain, ketika generasi muda Iran yang tumbuh-kembang sebagai warga digital dengan horizon global, yang menginginkan mobilitas sosial, kebebasan berekspresi, dan kesempatan ekonomi.

Namun justru diuji batu ujian kesangsian pada kejatuhan ekonomi dan sensor moralistik. Karenanya, yang terbit bukan sekadar keluhan dan keputusasaan, melainkan amarah kolektif yang terstruktur dan menggelegar melalui demonstrasi masif.

Krisis Iran 2026, sejatinya, akar tunjang masalahnya adalah ekonomi yang remuk dan legitimasi politik yang keropos, termasuk karena boikot dan serangan Amerika Serikat dan Israel. Inflasi sedang bergerak seperti monster yang tak mengenal tidur, nilai Rial atas Dollar Amerika Serikat terjun bebas hingga rakyat dirundung kesulitan ekonomi. Ini adalah kondisi, jika merujuk Ted Gurr tentang konsep relative deprivation, yang meretas jurang antara harapan dan kenyataan.

Tidak diragukan, protes 2026 awalnya berakar pada ekonomi, yang ditandai dengan antrean panjang di pasar, harga bahan pokok yang tak masuk akal, dan juga pengangguran kaum terdidik. Namun, sejarah gerakan sosial mengajarkan bahwa kekecewaan ekonomi mudah bertransformasi menjadi perlawanan politik.

Dalam perspektif James C. Scott tentang moral economy, ketika negara gagal memenuhi kebutuhan dasar dan rasa keadilan, rakyat memperoleh legitimasi moral untuk menolak. Maka, tidak mengherankan ketika slogan tentang harga roti dan gas berubah menjadi tuntutan yang deras untuk mengakhiri sistem teokratis, sensor, dan represi moral yang mengungkung mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
Laut Merah Memanas,...
Laut Merah Memanas, Houthi Yaman Serang 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi
Rekomendasi
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
Pemberdayaan Masyarakat...
Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit
Ada Perusahaan Menolak...
Ada Perusahaan Menolak Didata Sensus Ekonomi 2026, Siap-siap! Dibina Kemenperin
Berita Terkini
Abdullah Alkatiri Yakin...
Abdullah Alkatiri Yakin JPU Tidak Bakal Mendakwa Ulang Dokter Tifa
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Hadiri Harlah ke-28...
Hadiri Harlah ke-28 PKB, Partai Perindo Ajak Kolaborasi Bangun Ekonomi Kerakyatan
Prabowo Singgung Londo...
Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved