Senjakala Oposisi dalam Labirin Koalisi Permanen

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:39 WIB
loading...
Senjakala Oposisi dalam...
Erik Ardiyanto, Dosen Universitas Paramadina. Foto/Istimewa
A A A
Erik Ardiyanto
Dosen Universitas Paramadina

Konsolidasi Elite di Atas Kepentingan Rakyat


MEMASUKI triwulan pertama tahun 2026, wajah politik Indonesia menampilkan sebuah anomali yang unik sekaligus mencemaskan. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, narasi besar yang dibangun adalah "Persatuan Nasional". Retret-retret politik yang dilakukan di Hambalang dan berbagai pertemuan formal antar-pimpinan partai politik tidak lagi sekadar membicarakan bagi-bagi kursi kabinet, melainkan telah mengerucut pada pembentukan apa yang disebut sebagai "Koalisi Permanen".

Argumen pemerintah sangat pragmatis: Indonesia membutuhkan stabilitas ekstrem untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global, ancaman krisis pangan, dan transisi energi. Namun, di balik orkestrasi harmoni tersebut, kita sedang menyaksikan prosesi pemakaman perlahan fungsi pengawasan dalam demokrasi. Jika koalisi permanen ini benar-benar terwujud secara absolut, maka tahun 2026 akan dicatat sebagai tahun di mana "checks and balances" resmi menjadi artefak sejarah.

Fenomena ini dapat dibedah menggunakan kacamata teori Kartel Politik yang dikembangkan oleh Richard Katz dan Peter Mair (1995). Dalam konteks Indonesia 2026, partai-partai politik tampaknya telah bersepakat bahwa persaingan ideologis adalah "biaya mahal" yang harus dihindari. Sebagai gantinya, mereka membentuk kartel untuk memastikan bahwa sumber daya negara tetap terdistribusi secara merata di antara mereka sendiri.

Dalam kartel politik, perbedaan antara partai pemerintah dan partai oposisi menjadi kabur. Partai tidak lagi bersaing untuk menawarkan kebijakan alternatif kepada rakyat, melainkan berkolaborasi untuk meminimalkan risiko politik. Ketika sebuah kebijakan—katakanlah terkait pajak atau investasi—digulirkan oleh eksekutif, partai-partai di parlemen yang seharusnya menjadi pengkritik justru bertindak sebagai pemadam kebakaran yang meredam gejolak di tingkat massa. Inilah yang disebut sebagai "negara partai" (party-state), di mana kepentingan elite partai menyatu dengan struktur kekuasaan negara.

Paradoks Presidensiil Multipartai


Kondisi politik Indonesia saat ini berada dalam "jalan tengah yang berbahaya". Secara formal, kita mempertahankan sistem presidensiil dengan mandat langsung dari rakyat dan masa jabatan yang tetap (fixed term). Namun, secara praktis, sistem ini dipaksa beroperasi dalam struktur multipartai ekstrem yang sangat terfragmentasi.

Scott Mainwaring (1990), dalam karya klasiknya Presidentialism, Multipartism, and Democracy, memberikan peringatan keras bahwa kombinasi presidensiil dan multipartai cenderung menghasilkan "imobilisme" atau kemacetan politik. Presiden yang tidak memiliki dukungan mayoritas di parlemen akan selalu terjebak dalam negosiasi tanpa akhir, yang sering kali berujung pada kelumpuhan pemerintahan atau bahkan pemakzulan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kelakar Bahlil di Hadapan...
Kelakar Bahlil di Hadapan Prabowo: Koalisi Aman
Indonesia Butuh Koalisi...
Indonesia Butuh Koalisi Advokasi untuk Percepat Adopsi Inovasi Kesehatan
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Kritisi Parpol Koalisi,...
Kritisi Parpol Koalisi, Deddy PDIP: Jika Tidak Nyaman dengan Situasi Politik, Silakan Keluar dari Pemerintahan
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
2 Anggota DPR Amerika...
2 Anggota DPR Amerika Serikat Mundur karena Skandal Seks
BNP Menang Pemilu Bangladesh,...
BNP Menang Pemilu Bangladesh, Raih 209 dari 297 Kursi
Rekomendasi
Konsisten Jaga Kinerja...
Konsisten Jaga Kinerja dan Daya Saing, MARK Raih Penghargaan Nasional
Hasil Piala AFF Wanita...
Hasil Piala AFF Wanita 2026: Timnas Indonesia Sikat Timor Leste 2-0 di Laga Pembuka
Kemahalan, FIFA Masih...
Kemahalan, FIFA Masih Kesulitan Jual Tiket Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Polisi Dalami Temuan...
Polisi Dalami Temuan Emas Batangan hingga Uang saat Geledah Rumah di Sentul
Kardinal Orlando Quevedo...
Kardinal Orlando Quevedo Dianugerahi Harmony in Diversity Award Perdana
Terungkap, Polisi Amankan...
Terungkap, Polisi Amankan 15 Saksi saat Geledah 12 Lokasi
Beberkan Bukti Penggeledahan...
Beberkan Bukti Penggeledahan tapi Belum Tetapkan Tersangka, Polda Metro Jaya: Masih Pendalaman
Polri Belum Tetapkan...
Polri Belum Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Batu Bara-Asabri
PTUN Tolak Gugatan PLK,...
PTUN Tolak Gugatan PLK, Pemprov Jabar Selangkah Lagi Amankan Aset SMAN 1 Bandung
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved