Senjakala Oposisi dalam Labirin Koalisi Permanen

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:39 WIB
loading...
A A A
Di awal tahun 2026, Presiden Prabowo tampaknya memilih jalur "penjinakan" fragmentasi tersebut dengan cara yang sangat drastis: membangun koalisi permanen yang mencakup hampir seluruh spektrum kekuatan politik. Secara teoretis, ini adalah upaya untuk menciptakan apa yang disebut sebagai "Legislative Cartel". Dengan mengunci semua partai besar dalam satu kesepakatan kolektif, eksekutif sedang berupaya menghilangkan variabel ketidakpastian dalam setiap pengambilan keputusan politik.

Namun, narasi stabilitas ini menyimpan paradoks yang mematikan. Dalam sistem presidensiil yang sehat, legitimasi presiden tidak seharusnya dibeli dengan cara mengompensasi setiap partai politik melalui kursi kabinet. Ketika semua partai masuk ke dalam pemerintahan, garis pemisah antara cabang eksekutif dan legislatif yang merupakan ruh dari teori pemisahan kekuasaan (trias politica) Montesquieu menjadi runtuh.

Parlemen tidak lagi berfungsi sebagai lembaga pengawas, melainkan sekadar menjadi "kantor cabang" eksekutif di Senayan. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai "Executive Aggrandizement", yaitu pelebaran kekuasaan eksekutif secara perlahan dan sistematis dengan cara melemahkan lembaga-lembaga yang seharusnya mengontrolnya. Dalam konteks multipartai 2026, pelebaran ini tidak dilakukan melalui kekerasan, melainkan melalui "tirani konsensus". Semua partai setuju untuk tidak berbeda pendapat, karena perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman bagi jatah distribusi kekuasaan yang telah disepakati.

Lebih jauh lagi, sistem multipartai yang tanpa oposisi ini menciptakan biaya transaksi politik yang sangat tinggi bagi rakyat. Setiap kali pemerintah ingin meluncurkan kebijakan baru, mereka tidak perlu berdebat dengan argumen publik yang transparan, melainkan cukup meyakinkan para ketua umum partai dalam koalisi permanen tersebut. Akibatnya, demokrasi kita bergeser dari demokrasi warga negara (citizen democracy) menuju demokrasi para elite (elite democracy).

Fragmentasi yang awalnya diharapkan menjadi wadah bagi keberagaman aspirasi rakyat, kini justru disatukan secara paksa dalam satu wadah pragmatisme. Multipartai yang seharusnya menjadi kekuatan pengimbang, justru menjadi alat pemutus arus bagi suara-suara sumbang dari akar rumput. Jika presidensiil multipartai ini terus bergerak tanpa rem oposisi, kita tidak hanya akan menghadapi pemerintahan yang stabil, tetapi pemerintahan yang "terlalu stabil" bahayanya hingga tidak lagi mampu merasakan denyut penderitaan rakyat yang berada di luar lingkaran koalisi tersebut.

Pelemahan Fungsi Legislasi dan Pengawasan


Mari kita tinjau data legislasi sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026. Banyak undang-undang strategis yang disahkan dengan durasi pembahasan yang sangat singkat, sering kali melalui mekanisme "fast-track" dengan alasan kegentingan ekonomi atau sinkronisasi program Merah Putih. Tanpa adanya oposisi, perdebatan di ruang sidang komisi DPR hanya menjadi formalitas prosedural.

Esensi demokrasi bukan terletak pada kecepatan pengambilan keputusan, melainkan pada deliberasi. Deliberasi menuntut adanya sudut pandang yang berbeda, kritik yang tajam, dan alternatif solusi. Ketika seluruh anggota fraksi di DPR sudah terikat oleh komitmen koalisi permanen, maka fungsi legislatif sebagai pembuat undang-undang yang pro-rakyat telah terkooptasi oleh kepentingan eksekutif. Kita melihat kemunculan kebijakan yang sering kali "top-down", di mana partisipasi publik hanya dijadikan legitimasi kosmetik di akhir proses.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
PKB Minta PDIP Tegas...
PKB Minta PDIP Tegas soal Posisi terhadap Pemerintah: Jangan Abu-abu
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Rampai Nusantara Sangkal...
Rampai Nusantara Sangkal PSI Gagal Masuk Parlemen karena Jokowi
Mantan Komisioner KPU...
Mantan Komisioner KPU Bicara Ambang Batas Parlemen: Idealnya 0 %
Prabowo Beri Arahan...
Prabowo Beri Arahan Tertutup Retreat Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
2 Anggota DPR Amerika...
2 Anggota DPR Amerika Serikat Mundur karena Skandal Seks
BNP Menang Pemilu Bangladesh,...
BNP Menang Pemilu Bangladesh, Raih 209 dari 297 Kursi
Rekomendasi
Krisis Politik Inggris...
Krisis Politik Inggris Makin Parah, PM Keir Starmer Bersiap Mengundurkan Diri
Rusak Ruko hingga Pamer...
Rusak Ruko hingga Pamer Airsoft Gun di Jakut, Selebgram Adam Deni Ditangkap Polisi
Belanda Pesta Gol, Swedia...
Belanda Pesta Gol, Swedia Dibantai 5-1 di Houston
Berita Terkini
KSP: MBG Terus Berlanjut,...
KSP: MBG Terus Berlanjut, Tata Kelola dan Pengawasan Diperkuat
Perkuat Nasionalisme,...
Perkuat Nasionalisme, TNI Gelar Nobar Kebangsaan Piala Dunia 2026 di 1.500 Lokasi
Ungkap Kondisi Terkini...
Ungkap Kondisi Terkini Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Masih Terpasang Infus
Kuasa Hukum Prioritaskan...
Kuasa Hukum Prioritaskan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan saat Penyerahan ke Kejaksaan
Gelar Mimbar Mahasiswa,...
Gelar Mimbar Mahasiswa, BEM Persatuan Indonesia Sampaikan Lima Pernyataan Sikap
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved