Disiplin Kesadaran Jadi Kunci Ketahanan Manusia di Era AI
Rabu, 31 Desember 2025 - 20:07 WIB
loading...
Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal menyatakan tantangan terbesar manusia di era AI dan teknologi digital bukan semata soal kemampuan teknis melainkan ketahanan batin yang dibangun melalui disiplin kesadaran. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal menyatakan tantangan terbesar manusia di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan teknologi digital bukan semata soal kemampuan teknis melainkan ketahanan batin yang dibangun melalui disiplin kesadaran.
Menurut dia, perubahan akibat AI berlangsung sangat cepat dan masif memengaruhi dunia kerja, relasi sosial, hingga cara manusia memaknai dirinya sendiri. Namun, dia menilai transformasi diri yang sejati tidak lahir dari motivasi sesaat.
Baca juga: Open-Source Alibaba Terbukti Melebihi Kecerdasan AI Meta dan OpenAI
“Transformasi diri yang sejati tidak pernah lahir dari motivasi sesaat melainkan dari disiplin kesadaran yang dibangun secara konsisten,” ujar Syam di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Dalam pandangan Restorasi Jiwa Indonesia, disiplin kesadaran merupakan fondasi batin agar manusia tetap stabil di tengah ketidakpastian zaman. Tanpa fondasi tersebut, kecepatan perubahan justru berpotensi memicu kepanikan dan kehilangan arah hidup.
“Tanpa fondasi kecepatan perubahan justru memicu kepanikan, reaktivitas, dan kehilangan pusat diri,” katanya.
Syam menekankan bahwa disiplin dalam konteks ini bukanlah bentuk kekakuan atau tekanan terhadap diri sendiri melainkan ekspresi cinta pada diri. Disiplin kesadaran mencakup perawatan tubuh, penataan pikiran, pengakuan emosi, pemeliharaan relasi, serta spiritualitas yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.
“AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya,” ucapnya.
Langkah awal dalam membangun disiplin kesadaran adalah menciptakan jeda sebelum bereaksi. Banyak konflik dan keputusan keliru lahir dari respons spontan yang tidak jernih.
“Dengan menarik napas, merasakan tubuh, dan memberi jarak sekitar 10 detik sebelum merespons, seseorang sedang melatih kepemimpinan atas dirinya sendiri,” ujar Syam.
Selain itu, dia mendorong praktik audit energi harian sebagai cara sederhana membangun stabilitas batin. Melalui refleksi atas hal-hal yang menguatkan dan menguras energi, seseorang dapat mulai menyusun sistem hidup yang lebih selaras.
Dia juga menyoroti relasi manusia dengan teknologi. Ketika notifikasi dan algoritma menentukan ritme hidup, manusia berisiko kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.
“Dengan menjadwalkan waktu khusus untuk teknologi bukan hidup mengikuti iramanya manusia mengembalikan posisi alat sebagai pelayan, bukan pengendali,” ucapnya.
Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa nilai hidup hanya dapat diperkuat melalui tindakan konkret sehari-hari, bukan sekadar slogan. “Nilai bukan slogan atau pernyataan ideal melainkan perilaku yang diulang setiap hari,” kata Syam.
Dia menambahkan manusia yang mampu bertahan menghadapi gelombang perubahan adalah mereka yang memiliki sistem batin paling stabil, bukan sekadar alat paling canggih.
Menurut dia, perubahan akibat AI berlangsung sangat cepat dan masif memengaruhi dunia kerja, relasi sosial, hingga cara manusia memaknai dirinya sendiri. Namun, dia menilai transformasi diri yang sejati tidak lahir dari motivasi sesaat.
Baca juga: Open-Source Alibaba Terbukti Melebihi Kecerdasan AI Meta dan OpenAI
“Transformasi diri yang sejati tidak pernah lahir dari motivasi sesaat melainkan dari disiplin kesadaran yang dibangun secara konsisten,” ujar Syam di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Dalam pandangan Restorasi Jiwa Indonesia, disiplin kesadaran merupakan fondasi batin agar manusia tetap stabil di tengah ketidakpastian zaman. Tanpa fondasi tersebut, kecepatan perubahan justru berpotensi memicu kepanikan dan kehilangan arah hidup.
“Tanpa fondasi kecepatan perubahan justru memicu kepanikan, reaktivitas, dan kehilangan pusat diri,” katanya.
Syam menekankan bahwa disiplin dalam konteks ini bukanlah bentuk kekakuan atau tekanan terhadap diri sendiri melainkan ekspresi cinta pada diri. Disiplin kesadaran mencakup perawatan tubuh, penataan pikiran, pengakuan emosi, pemeliharaan relasi, serta spiritualitas yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.
“AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya,” ucapnya.
Langkah awal dalam membangun disiplin kesadaran adalah menciptakan jeda sebelum bereaksi. Banyak konflik dan keputusan keliru lahir dari respons spontan yang tidak jernih.
“Dengan menarik napas, merasakan tubuh, dan memberi jarak sekitar 10 detik sebelum merespons, seseorang sedang melatih kepemimpinan atas dirinya sendiri,” ujar Syam.
Selain itu, dia mendorong praktik audit energi harian sebagai cara sederhana membangun stabilitas batin. Melalui refleksi atas hal-hal yang menguatkan dan menguras energi, seseorang dapat mulai menyusun sistem hidup yang lebih selaras.
Dia juga menyoroti relasi manusia dengan teknologi. Ketika notifikasi dan algoritma menentukan ritme hidup, manusia berisiko kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.
“Dengan menjadwalkan waktu khusus untuk teknologi bukan hidup mengikuti iramanya manusia mengembalikan posisi alat sebagai pelayan, bukan pengendali,” ucapnya.
Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa nilai hidup hanya dapat diperkuat melalui tindakan konkret sehari-hari, bukan sekadar slogan. “Nilai bukan slogan atau pernyataan ideal melainkan perilaku yang diulang setiap hari,” kata Syam.
Dia menambahkan manusia yang mampu bertahan menghadapi gelombang perubahan adalah mereka yang memiliki sistem batin paling stabil, bukan sekadar alat paling canggih.
(jon)
Lihat Juga :