Pemikiran Aktuaris KH. Sofwan Manaf: Pesantren dan Pengelolaan Keuangan

Selasa, 23 Desember 2025 - 08:04 WIB
loading...
A A A
Aset-aset lembaga tidak terpelihara dengan baik. Gedung kusam, fasilitas rusak, infrastruktur terabaikan. Namun di sisi lain, para pengelolanya hidup sejahtera. Gaji besar, tunjangan melimpah, sementara organisasi yang mereka kelola perlahan ambruk.

"Mereka berpikir 'menikmati'," tulis beliau dalam sebuah refleksi. "Gaji pengelola besar, operasional organisasi tidak signifikan, pemeliharaan dan ekspansi tidak ada."

Dari keprihatinan itulah lahir rumus 35-35-30.

Pertama, 35 persen untuk jasa: gaji ustaz, honor staf, dan semua orang yang mengabdi di pesantren. Kedua, 35 persen untuk konsumsi dan operasional: kebutuhan harian hingga semesteran, mulai dari makan santri, listrik, air, transportasi, hingga pemeliharaan fasilitas. Ketiga, 30 persen untuk ekspansi: dana masa depan lembaga yang beliau sebut "khizanatullah", meliputi investasi usaha, pembelian aset, serta pembangunan permanen.

Rumus ini diterapkan dari pendapatan kotor, bukan pendapatan bersih. Artinya, sebelum uang dipakai untuk apa pun, alokasi sudah ditentukan lebih dulu.

Lebih Dahulu dari "Profit First"


Pada 2025, Universitas Darunnajah (UDN) mengadakan pelatihan keuangan dengan mengundang Heppy Trenggono, Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) sebagai pembicara. Saat sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya soal sistem 35-35-30 yang diterapkan Darunnajah.

Heppy Trenggono langsung bereaksi.

"Itu pemikiran orang kaya," katanya. "Itu namanya "Profit First"—di mana organisasi mengambil lebih awal keuntungan kas untuk investasi dan ekspansi jangka panjang."

"Profit First" adalah konsep yang dipopulerkan Mike Michalowicz dalam bukunya yang terbit 2014. Edisi bahasa Indonesia baru diterbitkan Renebook pada September 2023.

KH. Sofwan Manaf sudah menerapkan prinsip serupa sejak 1997—tujuh belas tahun sebelum buku itu terbit. Inspirasinya bukan dari sekolah bisnis mana pun, melainkan dari kisah Nabi Yusuf.

Formula ini juga sejalan dengan konsep "Triple Bottom Line" yang dipopulerkan John Elkington pada 1994, yang menekankan keseimbangan tiga aspek: ekonomi, sosial, dan pengembangan. Alokasi 35 persen untuk jasa menunjukkan komitmen pada aspek sosial. Alokasi 35 persen untuk konsumsi menjaga stabilitas operasional. Sementara 30 persen untuk ekspansi memastikan pertumbuhan berkelanjutan.

Dari Tiga Santri Menjadi Puluhan Cabang


Darunnajah punya sejarah panjang yang penuh lika-liku.

Cikal bakalnya dimulai 1938, ketika KH. Abdul Manaf Mukhayyar—ayah KH. Sofwan Manaf—mendirikan Madrasah Al-Islamiyah di Petunduan, Palmerah, Jakarta. Awalnya sederhana ingin mengajari mengaji adik-adik dan keponakan beliau.

Modal yang dipakai seadanya. Namun pengorbanannya luar biasa. Bahkan emas kawin berupa berlian milik istrinya, Bu Tsuraya binti Saumin, dipakai untuk membeli tanah seluas 600 meter persegi pada 1942.

Madrasah ini sempat tergusur pada 1959 karena proyek pembangunan kompleks olahraga Senayan untuk Asian Games 1962. Tidak patah semangat, para pendiri mengusahakan tanah wakaf di Ulujami.

Pada 1 April 1974, Pesantren Darunnajah resmi berdiri di Ulujami dengan tiga santri pertama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Tangis Celine Evangelista...
Tangis Celine Evangelista saat Antar Jemima Guri ke Pesantren
Kemenag Cabut Izin Pesantren...
Kemenag Cabut Izin Pesantren Ibadurrahman Buntut Kasus Kekerasan Seksual
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Rekomendasi
Bukan Mobil Termahal,...
Bukan Mobil Termahal, tapi Inilah Kendaraan yang Paling Dibanggakan Wuling di Museumnya
China Tembakkan Rudal...
China Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua Berkemampuan Nuklir, 6 Negara Protes
SYAFIF 2026 di Banjarmasin,...
SYAFIF 2026 di Banjarmasin, Prudential Syariah Gencarkan Literasi Keuangan
Berita Terkini
Praperadilannya Dikabulkan...
Praperadilannya Dikabulkan Sebagian oleh PN Jaksel, Roy Suryo Tersenyum Lebar
Polri Bakal Periksa...
Polri Bakal Periksa Kementerian ESDM Terkait Korupsi Pengadaan Batu Bara PLTU
Breaking News! Roy Suryo...
Breaking News! Roy Suryo Menang Praperadilan
Tingkatkan Kesiapsiagaan...
Tingkatkan Kesiapsiagaan Darurat Perairan, NHM Bekali Tim ERT Standar Open Water Dive
Jokowi Siap Hadiri Sidang...
Jokowi Siap Hadiri Sidang Kasus Fitnah Ijazah Palsu Jika Dipanggil Hakim
Bambang Pacul PDIP Kritik...
Bambang Pacul PDIP Kritik Pemerintah Utus Ketua MPR Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved