Konflik Thailand - Kamboja, Menanti Peran Indonesia sebagai Penjaga Keseimbangan ASEAN
Kamis, 11 Desember 2025 - 13:10 WIB
loading...
A
A
A
Lalu apa yang bisa dilakukan negara kita? Indonesia harus terus mendorong konsultasi bilateral dengan memfasilitasi kenetralan. Dalam teori mediasi Zartman & Touval, mediator yang tidak memihak (insider-partial) seperti Indonesia sering lebih efektif karena dipercaya oleh kedua belah pihak.
Indonesia juga diharapkan mendorong aktifnya mekanisme High Council ASEAN. Hal ini selaras dengan konsep preventive diplomacy dari PBB: menangani potensi konflik sebelum mencapai titik krisis. Lalu, Indonesia wajib memastikan memastikan panggung olahraga sebagai tempat yang aman.
Pendekatan ini mengikuti kerangka sports peacebuilding, yang menempatkan atlet sebagai aktor perdamaian yang membutuhkan ruang aman untuk berkompetisi. Indonesia pun selayaknya mampu memperkuat diplomasi publiknya. Diplomasi publik adalah bagian dari soft power yang mampu membangun persepsi positif tentang peran Indonesia sebagai penengah.
ASEAN sering digambarkan sebagai keluarga besar. Namun seperti keluarga mana pun, tidak semua anggotanya selalu akur. Konflik Thailand–Kamboja mengingatkan kita bahwa kedamaian bukanlah kondisi statis; ia harus dijaga, dirawat, dan diperbarui terus-menerus.
Penarikan atlet Kamboja dari SEA Games adalah gejala, bukan sumber masalah. Kenyataan itu seharusnya sudah cukup untuk menggugah kawasan. Indonesia, dengan reputasinya sebagai mediator, tidak bisa berpangku tangan. Justru saat-saat inilah kapasitas diplomasi Indonesia diuji dan berpotensi kembali menjadi inspirasi.
Di dunia yang serba gaduh, Indonesia tidak perlu berteriak. Terkadang, diplomasi yang paling efektif adalah diplomasi yang paling tenang. Namun tenang bukan berarti diam. Karena di Asia Tenggara, menjaga harmoni adalah kerja tanpa henti dan Indonesia telah lama menjadi salah satu penjaganya.
Indonesia juga diharapkan mendorong aktifnya mekanisme High Council ASEAN. Hal ini selaras dengan konsep preventive diplomacy dari PBB: menangani potensi konflik sebelum mencapai titik krisis. Lalu, Indonesia wajib memastikan memastikan panggung olahraga sebagai tempat yang aman.
Pendekatan ini mengikuti kerangka sports peacebuilding, yang menempatkan atlet sebagai aktor perdamaian yang membutuhkan ruang aman untuk berkompetisi. Indonesia pun selayaknya mampu memperkuat diplomasi publiknya. Diplomasi publik adalah bagian dari soft power yang mampu membangun persepsi positif tentang peran Indonesia sebagai penengah.
Tetangga Tak Bisa Dipilih, Tapi Bisa Dirangkul
ASEAN sering digambarkan sebagai keluarga besar. Namun seperti keluarga mana pun, tidak semua anggotanya selalu akur. Konflik Thailand–Kamboja mengingatkan kita bahwa kedamaian bukanlah kondisi statis; ia harus dijaga, dirawat, dan diperbarui terus-menerus.
Penarikan atlet Kamboja dari SEA Games adalah gejala, bukan sumber masalah. Kenyataan itu seharusnya sudah cukup untuk menggugah kawasan. Indonesia, dengan reputasinya sebagai mediator, tidak bisa berpangku tangan. Justru saat-saat inilah kapasitas diplomasi Indonesia diuji dan berpotensi kembali menjadi inspirasi.
Di dunia yang serba gaduh, Indonesia tidak perlu berteriak. Terkadang, diplomasi yang paling efektif adalah diplomasi yang paling tenang. Namun tenang bukan berarti diam. Karena di Asia Tenggara, menjaga harmoni adalah kerja tanpa henti dan Indonesia telah lama menjadi salah satu penjaganya.
(shf)
Lihat Juga :