Kebijakan Fiskal atau Moneter ?

Senin, 08 Desember 2025 - 08:54 WIB
loading...
Kebijakan Fiskal atau...
Candra Fajri Ananda, Wakil Ketua Badan Supervisi OJK. Foto/Dok.SindoNews
A A A
Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi OJK

DI SETIAP fase pembangunan ekonomi, isu pengurangan kemiskinan, penyaluran subsidi yang tepat sasaran, dan upaya menjaga inflasi pada tingkat rendah selalu menjadi prioritas utama pemerintah. Ketiga sasaran tersebut tidak hanya mencerminkan komitmen negara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menunjukkan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi sebagai fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pasalnya, ketika publik menyaksikan dinamika perekonomian nasional yang semakin kompleks, muncul pertanyaan mendasar, strategi apa yang akan dijalankan pemerintah untuk memastikan tujuan-tujuan tersebut dapat tercapai dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat luas?

Pada konteks pengurangan kemiskinan, teori ekonomi kesejahteraan dan literatur mengenai pro-poor growth menekankan bahwa belanja publik yang diprioritaskan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial memiliki peran signifikan dalam menurunkan tingkat kemiskinan melalui peningkatan kualitas hidup dan kapasitas ekonomi kelompok rentan.

Akan tetapi, efektivitas implementasi kebijakan tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam menyediakan sumber pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan. Di titik inilah penerimaan negara, khususnya yang berasal dari perpajakan, menjadi instrumen kunci, karena dalam teori keuangan publik pajak dipandang sebagai sumber utama pendanaan barang publik dan program sosial.

Meskipun perubahan struktur dan besaran pajak harus mempertimbangkan implikasi distribusional yang mungkin timbul. Oleh sebab itu, perancangan sistem perpajakan yang adil, perluasan basis pajak, dan optimalisasi penerimaan negara merupakan komponen strategis yang tidak dapat dipisahkan dari upaya mengentaskan kemiskinan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi makro.

Di sisi lain, kita juga mengenal adanya kebijakan moneter yang juga merupakan instrumen utama dalam pengelolaan stabilitas ekonomi makro yang dilaksanakan oleh otoritas moneter, khususnya bank sentral, melalui pengaturan jumlah uang beredar, penentuan suku bunga kebijakan, dan pengelolaan likuiditas sistem keuangan.

Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas nilai mata uang, mengendalikan laju inflasi, serta menciptakan kondisi finansial yang kondusif bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pentingnya kebijakan moneter terletak pada pengaruh langsung perubahan variabel moneter terhadap daya beli masyarakat, tingkat konsumsi, keputusan investasi, dan kinerja sektor riil secara keseluruhan, sehingga efektivitasnya menjadi prasyarat utama dalam menjaga keseimbangan dan ketahanan perekonomian nasional.

Secara konseptual, keterpaduan antara kebijakan fiskal (meliputi belanja pemerintah, subsidi, dan perpajakan) dengan kebijakan moneter (termasuk pengaturan jumlah uang beredar, suku bunga, dan likuiditas) merupakan prasyarat utama bagi tercapainya keseimbangan makroekonomi.

Model IS–LM menunjukkan bahwa interaksi antara pasar barang sebagai ranah kebijakan fiskal dan pasar uang sebagai ranah kebijakan moneter menentukan tingkat pendapatan nasional dan suku bunga, sehingga ketidaksinkronan antara keduanya dapat memicu ketidakseimbangan seperti inflasi tinggi atau tekanan pada stabilitas pasar keuangan.

Artinya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak dapat dicapai melalui pendekatan kebijakan yang terfragmentasi, melainkan melalui sinergi strategis antara kebijakan fiskal dan moneter yang dirancang dalam kerangka policy mix yang terkoordinasi. Integrasi kedua instrumen tersebut menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi, menurunkan kemiskinan, serta memastikan efektivitas subsidi dan stabilitas harga dalam jangka panjang.

Temuan empiris di berbagai negara, termasuk Indonesia, membuktikan bahwa koordinasi fiskal dan moneter menghasilkan kinerja ekonomi yang lebih optimal dibandingkan pelaksanaan kebijakan secara independen, serta memainkan peran penting dalam mengatasi kegagalan pasar dalam mendistribusikan kesejahteraan secara merata.

Karena itu, penguatan integrasi kebijakan menjadi agenda prioritas untuk mendukung ketahanan ekonomi dan mewujudkan tujuan konstitusional berupa kesejahteraan umum dan keadilan sosial.

Dilema Kebijakan Moneter


Dalam perumusan kebijakan moneter, pemerintah dan bank sentral kerap menghadapi dilema mendasar yang mencerminkan prinsip trade-off sebagaimana tergambar dalam segitiga Time–Cost–Quality pada manajemen proyek.

Dalam kajian ekonomi internasional, dilema ini dikenal sebagai The Impossible Trinity atau Policy Trilemma, konsep yang dikembangkan oleh Robert Mundell dan Marcus Fleming, yang menegaskan bahwa suatu negara tidak dapat mencapai secara simultan tiga tujuan kebijakan, yaitu independent monetary policy, fixed exchange rate, dan free capital movement.

Keterbatasan untuk meraih ketiganya sekaligus menunjukkan bahwa setiap alternatif kebijakan mengandung konsekuensi dan pengorbanan yang memerlukan pertimbangan strategis dan prioritas yang jelas.

Trilemma tersebut mengharuskan pembuat kebijakan memilih dua tujuan yang dianggap paling penting, sehingga satu aspek harus dikorbankan. Apabila negara memilih mempertahankan fixed exchange rate dan free capital movement, maka kemandirian kebijakan moneter harus dilepaskan, karena suku bunga domestik harus mengikuti negara mitra kurs demi menjaga kestabilan nilai tukar, sebagaimana diterapkan Uni Eropa melalui mata uang Euro.

Sebaliknya, bila dipilih kombinasi independent monetary policy dan free capital movement, maka negara harus mengorbankan stabilitas nilai tukar dan menerapkan floating exchange rate, seperti yang dilakukan Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Alternatif ketiga adalah mempertahankan fixed exchange rate dan independent monetary policy dengan konsekuensi mengorbankan free capital movement melalui kontrol modal yang ketat, sebagaimana pernah diterapkan China serta dalam sistem Bretton Woods pasca Perang Dunia II.

Risiko paling signifikan muncul ketika negara berupaya mengejar ketiga tujuan tersebut secara bersamaan. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa upaya mempertahankan kurs tetap sambil membuka pasar modal dan tetap menjalankan kebijakan suku bunga independen berujung pada krisis keuangan besar, seperti Mexican Peso Crisis 1994–1995 dan Asian Financial Crisis 1997–1998. Tekanan pasar yang semakin meningkat membuat negara tidak mampu mempertahankan keseimbangan, sehingga transisi paksa menuju nilai tukar mengambang menjadi tidak terhindarkan.

Oleh sebab itu, The Impossible Trinity memberikan pelajaran penting bahwa kebijakan moneter harus dipilih berdasarkan prioritas pembangunan nasional dan disinergikan dengan kebijakan fiskal serta kondisi ekonomi domestik agar stabilitas makroekonomi dan tujuan pembangunan jangka panjang dapat dicapai secara berkelanjutan.

Sinergi Kebijakan Terpadu


Dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional, keberadaan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri atas pemerintah sebagai otoritas fiskal, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator industri keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai penjamin stabilitas perbankan, memiliki peran yang sangat strategis.

Mengingat kompleksitas sistem keuangan dan keterkaitannya dengan sektor riil, kebijakan ekonomi tidak dapat lagi dijalankan secara sektoral atau terfragmentasi. Setiap keputusan yang diambil oleh satu otoritas akan menimbulkan implikasi langsung maupun tidak langsung terhadap lembaga lainnya, sehingga koordinasi kebijakan menjadi keharusan, bukan pilihan.

Pasalnya, koordinasi yang bersifat formal atau prosedural saja tidak cukup. Pemangku kepentingan dalam KSSK perlu mendorong terbentuknya integrated policy atau kebijakan terpadu yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah dalam satu sektor tertentu.

Sebaliknya, kebijakan harus dirancang berdasarkan pandangan yang menyeluruh terhadap stabilitas makroekonomi, kesehatan sektor keuangan, perlindungan konsumen, dan keberlanjutan pembiayaan pembangunan. Hal ini penting mengingat sumber risiko ekonomi saat ini bersifat multidimensional, mulai dari volatilitas pasar keuangan, ketidakpastian global, disrupsi rantai pasok, hingga tekanan inflasi yang dapat berdampak simultan pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Oleh sebab itu, integrasi kebijakan antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan diperlukan untuk menghasilkan respons kebijakan yang komprehensif, adaptif, dan berorientasi jangka panjang. Tanpa kebijakan terpadu, respons kebijakan berpotensi bersifat parsial, saling bertentangan, atau bahkan menciptakan risiko baru melalui policy mismatch.

Dengan memperkuat sinergi dan menyusun kebijakan berbasis data dan analisis risiko lintas sektor, KSSK dapat memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional dan memastikan tujuan pembangunan ekonomi – termasuk stabilitas harga, perlindungan sektor keuangan, dan kesejahteraan Masyarakat – dapat dicapai secara berkelanjutan. Semoga.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Presiden Prabowo Fokus...
Presiden Prabowo Fokus pada Kebutuhan Dasar Rakyat dan Kesejahteraan Masyarakat
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
Rekomendasi
Pembuktian Irish Bella...
Pembuktian Irish Bella jadi Produser di Film Horor Dosa, Tayang 11 Juni
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
Yeho Gathering 2026,...
Yeho Gathering 2026, Merayakan 20 Tahun Perjalanan Sekolah
Berita Terkini
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Infografis
Makan Daging Kambing...
Makan Daging Kambing Menyebabkan Darah Tinggi, Mitos Atau Fakta?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved