Neuropolitika, Kapitalisme Emosional dan Pilihan Politik

Sabtu, 06 Desember 2025 - 12:51 WIB
loading...
Neuropolitika, Kapitalisme...
Tifauzia Tyassuma, Dokter, Epidemiolog Perilaku dan Neuropolitika. Foto/Dok.SindoNews
A A A
Tifauzia Tyassuma

Dokter, Epidemiolog Perilaku dan Neuropolitika

BYUNG-CHUL Han, filsuf Korea Selatan–Jerman, dalam bukunya “Psychopolitics; Neoliberalisme and New Technology of Power” (2017) mengajukan tesis yang semakin relevan dalam konteks sosial dan politik hari ini. Di mana, kita hidup dalam era kapitalisme emosional, yakni fase ketika emosi bukan hanya bagian dari pengalaman manusia, tetapi telah menjadi komoditas, alat produksi, dan instrumen kekuasaan.

Mengelola emosi disebut Han sebagai teknologi baru dari kekuasaan dan kekuatan. Filsuf Korea Selatan–Jerman, dalam bukunya “Psychopolitics; Neoliberalisme and New Technology of Power” (2017) mengajukan tesis yang semakin relevan dalam konteks sosial dan politik hari ini.

Menurutnya, kekuasaan tidak lagi bekerja melalui aturan atau pengekangan fisik sebagaimana dalam masa biopolitik modernitas awal. Melainkan melalui pengelolaan suasana hati, rasa takut, marah, antusiasme, dan preferensi emosional warganya.

Istilah ini mula-mula diperkenalkan oleh sosiolog Eva Illouz—dalam bukunya “Cold intimacies ; the making of emotional Capitalism” pada awal 2000-an untuk menjelaskan bagaimana bahasa terapi dan psikologi mengalir ke ruang kerja, keluarga dan hubungan personal.

Namun, maknanya berkembang lebih jauh ketika Han menggunakannya untuk membaca konfigurasi kekuasaan kontemporer, di mana kapitalisme emosional bukan semata perubahan budaya atau retorika komunikasi. Melainkan modus pemerintahan baru yang bekerja melalui data emosional manusia.

Fenomena ini kini tampak jelas, terutama dalam pelbagai fenomena politik (dan juga ekonomi). Narasi politik semakin bergeser dari argumentasi programatik menjadi permainan sentimen. Dalam berbagai momentum pemilu, baik di Indonesia maupun di negara lain, pemilih tampak lebih tergerak oleh rasa takut, nostalgia, identitas kelompok, atau kedekatan emosional ketimbang evaluasi kebijakan atau rekam jejak.

Ruang politik tampak berubah menjadi panggung afeksi, bukan ruang deliberasi. Neurosains perilaku (Behavior Neuroscience) membantu menjelaskan pergeseran tersebut.

Riset Daniel Kahneman dan psikologi kognitif—dalam bukunya “Thinking fast and slow “ (2011) menunjukkan bahwa sebagian besar keputusan manusia dibuat oleh sistem saraf emosional (sistem-1) yang bekerja jauh lebih cepat daripada mekanisme berpikir reflektif (sistem-2).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hadiri Sidang Dokter...
Hadiri Sidang Dokter Tifa, Roy Suryo: Kita Tetap Bersama Tak Ada Perpecahan
UGM Dinilai Keliru Ajukan...
UGM Dinilai Keliru Ajukan Keberatan ke PTUN Jakarta, Bonjowi Hadirkan Saksi Ahli untuk Meluruskan
Sidang Ijazah Jokowi,...
Sidang Ijazah Jokowi, Kubu Dokter Tifa Desak JPU Serahkan BAP Ahli dan Daftar Barbuk
Dokter Tifa Ungkit 12...
Dokter Tifa Ungkit 12 Tahun Jokowi Jadi Pejabat: Tak Pernah Akui Lulusan UGM hingga Tak Diundang Reuni
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
JPU Harap Majelis Hakim...
JPU Harap Majelis Hakim Tolak Eksepsi Dokter Tifa, Minta Sidang Dilanjutkan ke Materi Pokok Perkara
Dokter Tifa Optimistis...
Dokter Tifa Optimistis Eksepsinya Dikabulkan Hakim
Roy Suryo Bakal Ajukan...
Roy Suryo Bakal Ajukan Praperadilan Jilid III soal Penerapan Pasal 35 UU ITE
Sidang Praperadilan,...
Sidang Praperadilan, Ahli Pidana Soroti Bukti Permulaan Penetapan Tersangka Roy Suryo
Rekomendasi
CKG 2026 Ungkap Penyakit...
CKG 2026 Ungkap Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi, Karies Gigi Jadi Masalah Terbanyak
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Podomoro University Cetak Wirausaha Berbasis Pasar Modal
Berita Terkini
Prabowo Ungkap Indonesia...
Prabowo Ungkap Indonesia Segera Punya Motor Listrik Nasional, Siap Diluncurkan dalam Hitungan Minggu
BGN Nunggak ke Pihak...
BGN Nunggak ke Pihak Ketiga Rp1,6 Triliun pada 2025, Ada untuk EO hingga Jasa Konsultan
AI Ubah Cara Mengelola...
AI Ubah Cara Mengelola Proyek, Kompetensi Project Manager Tetap Jadi Kunci Kepemimpinan
Prabowo Apresiasi Panen...
Prabowo Apresiasi Panen Raya Inisiasi TNI Serentak di 43 Titik Seluruh Indonesia
Secret Service hingga...
Secret Service hingga FBI Dilibatkan Uji Keaslian Dolar Sitaan Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
Don Ritto Pakai Rompi...
Don Ritto Pakai Rompi Pink, Resmi Jadi Tahanan Kejaksaan Agung
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved