Al-Suffah: Cikal Bakal Organisasi Pendidikan Islam Pertama
Kamis, 04 Desember 2025 - 12:04 WIB
loading...
A
A
A
Perhatikan bagaimana Al-Suffah beroperasi.
Pertama, ada santri. Para sahabat fakir yang tinggal di sana. Jumlah mereka naik-turun, kadang banyak kadang sedikit. Dalam Musnad Ahmad disebutkan, Aus bin Abi Aus menceritakan bahwa mereka duduk-duduk bersama Rasulullah di Suffah. Beliau bercerita kepada mereka dan mengingatkan mereka.
Kedua, ada guru. Rasulullah sendiri yang langsung mengajar dan membimbing mereka setiap hari.
Ketiga, ada kurikulum. Pelajaran akidah, akhlak, Al-Qur'an, dan tuntunan hidup Islami yang disampaikan secara langsung.
Keempat, ada sistem gotong royong. Masyarakat Madinah bahu-membahu menyuplai konsumsi para penghuni Al-Suffah, meski mereka sendiri tidak kaya. Penanggung jawab utamanya tetap Baginda Rasul.
Ini persis seperti yang kami tulis tentang pesantren sebagai organisme? Sel-selnya adalah para santri yang aktif dan hidup. Jaringannya adalah sistem pembelajaran yang saling terkait. Organnya adalah berbagai fungsi yang bekerja harmonis. Pengajaran, pemondokan, dan pembinaan.
Salah satu alumni paling cemerlang dari pesantren atau organisasi pendidikan Islam pertama ini adalah Abu Hurairah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijriah dan langsung bergabung dengan Al-Suffah.
Meski hanya sekitar empat tahun bersama Rasulullah, Abu Hurairah berhasil menjadi perawi hadis terbanyak dalam sejarah Islam dengan 5.374 hadis. Rahasianya? Ia selalu berada di dekat Rasulullah karena tinggal di Al-Suffah.
Dalam Shahih Muslim dikisahkan pengalaman mengharukan tentang Islamnya ibunda Abu Hurairah berkat doa Rasulullah. Mari kita simak.
Abu Hurairah bercerita bahwa ia telah berulang kali mengajak ibunya masuk Islam saat sang ibu masih musyrik. Suatu hari ia kembali mengajaknya, tetapi sang ibu justru mengatakan hal-hal yang tidak ia sukai tentang Rasulullah. Maka Abu Hurairah pun pergi menemui Rasulullah sambil menangis.
Ia memohon kepada Rasulullah untuk mendoakan ibundanya. Rasulullah lalu berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah."
Dengan hati penuh harap, Abu Hurairah bergegas pulang. Sampai di rumah, pintu terkunci. Ia mendengar gemericik air. Rupanya ibunya sedang mandi. Tak lama, pintu terbuka. Sang ibu berkata, "Wahai Abu Hurairah, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Pertama, ada santri. Para sahabat fakir yang tinggal di sana. Jumlah mereka naik-turun, kadang banyak kadang sedikit. Dalam Musnad Ahmad disebutkan, Aus bin Abi Aus menceritakan bahwa mereka duduk-duduk bersama Rasulullah di Suffah. Beliau bercerita kepada mereka dan mengingatkan mereka.
Kedua, ada guru. Rasulullah sendiri yang langsung mengajar dan membimbing mereka setiap hari.
Ketiga, ada kurikulum. Pelajaran akidah, akhlak, Al-Qur'an, dan tuntunan hidup Islami yang disampaikan secara langsung.
Keempat, ada sistem gotong royong. Masyarakat Madinah bahu-membahu menyuplai konsumsi para penghuni Al-Suffah, meski mereka sendiri tidak kaya. Penanggung jawab utamanya tetap Baginda Rasul.
Ini persis seperti yang kami tulis tentang pesantren sebagai organisme? Sel-selnya adalah para santri yang aktif dan hidup. Jaringannya adalah sistem pembelajaran yang saling terkait. Organnya adalah berbagai fungsi yang bekerja harmonis. Pengajaran, pemondokan, dan pembinaan.
Alumni Terbaik Al-Suffah
Salah satu alumni paling cemerlang dari pesantren atau organisasi pendidikan Islam pertama ini adalah Abu Hurairah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijriah dan langsung bergabung dengan Al-Suffah.
Meski hanya sekitar empat tahun bersama Rasulullah, Abu Hurairah berhasil menjadi perawi hadis terbanyak dalam sejarah Islam dengan 5.374 hadis. Rahasianya? Ia selalu berada di dekat Rasulullah karena tinggal di Al-Suffah.
Dalam Shahih Muslim dikisahkan pengalaman mengharukan tentang Islamnya ibunda Abu Hurairah berkat doa Rasulullah. Mari kita simak.
Abu Hurairah bercerita bahwa ia telah berulang kali mengajak ibunya masuk Islam saat sang ibu masih musyrik. Suatu hari ia kembali mengajaknya, tetapi sang ibu justru mengatakan hal-hal yang tidak ia sukai tentang Rasulullah. Maka Abu Hurairah pun pergi menemui Rasulullah sambil menangis.
Ia memohon kepada Rasulullah untuk mendoakan ibundanya. Rasulullah lalu berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah."
Dengan hati penuh harap, Abu Hurairah bergegas pulang. Sampai di rumah, pintu terkunci. Ia mendengar gemericik air. Rupanya ibunya sedang mandi. Tak lama, pintu terbuka. Sang ibu berkata, "Wahai Abu Hurairah, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Lihat Juga :