Bansos Butuh Reformasi Data yang Berani dan Sistemik

Minggu, 16 November 2025 - 14:40 WIB
loading...
A A A
Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat bahwa pada tahun 2020, anggaran perlindungan sosial dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp 220,39 triliun. Riset SMERU Research Institute juga menunjukkan bahwa jumlah keluarga penerima manfaat program Sembako diperluas dari 15,2 juta menjadi 20 juta sebagai respons atas dampak sosial ekonomi pandemi.

Serangkaian langkah ini menunjukkan bahwa perangkat politik dan birokrasi tengah bergerak ke arah yang lebih modern. Namun kemajuan tersebut masih perlu dilengkapi dengan komitmen memperkuat transparansi data dan mekanisme pengawasan publik yang selama ini belum sepenuhnya terbuka.

Kerapuhan Transparansi yang Masih Menghambat


Walau sistem pendataan bansos semakin modern, transparansi masih menjadi titik lemah. Di lapangan, banyak masyarakat bingung mengapa seseorang masuk atau tidak masuk daftar penerima. Proses verifikasi dan pemutakhiran data masih dilakukan secara manual di banyak daerah, dan sejumlah operator desa maupun kelurahan belum mendapatkan pelatihan digital yang memadai.

Laporan Ombudsman RI juga menyoroti banyaknya aduan masyarakat terkait ketidaktepatan sasaran serta mekanisme koreksi data yang belum jelas, sehingga warga miskin sering kali menunggu lama untuk mendapatkan kepastian status data mereka.

Dalam dokumen Jaga Bansos agar Tidak Gembos (KPK, 2020), masalah akurasi, integrasi, dan keterbukaan data disebut sebagai hambatan utama penyaluran bansos. Ketidakterbukaan juga terlihat dari masih terbatasnya pelibatan auditor independen dalam proses pengawasan data.

Sejumlah kajian independen bahkan menyoroti potensi politisasi data bansos di beberapa daerah. Semua ini menunjukkan bahwa reformasi bansos tidak cukup hanya dengan integrasi data dan teknologi. Transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik harus menjadi fondasi baru dalam tata kelola bantuan sosial.

Reformasi Data yang Berani dan Partisipatif


Reformasi besar dalam data bansos harus menempatkan publik sebagai bagian penting dari mekanisme pengawasan. Banyak negara menunjukkan hasil positif ketika masyarakat diberi ruang mengawasi langsung.

Di Brasil, integrasi data nasional melalui Cadastro Único, penerapan verifikasi biometrik, serta keterbukaan data publik berhasil menurunkan tingkat penyimpangan secara signifikan. Meksiko dan India juga mencatat keberhasilan besar dalam memperbaiki akurasi penerima bansos melalui sistem keterbukaan data yang memungkinkan warga ikut mengawasi.

Indonesia memiliki peluang untuk melakukan hal serupa. Portal data bansos yang lebih terbuka—menyajikan daftar penerima per wilayah, status verifikasi, dan riwayat pemutakhiran—dapat menjadi alat pengawasan kolektif yang efektif. Semua ini dapat dilakukan tanpa melanggar privasi dengan menggunakan teknik data masking seperti yang diterapkan di berbagai negara.

Di saat yang sama, mekanisme keberatan perlu lebih responsif dan terukur. Setiap warga yang mengajukan perbaikan data harus mendapatkan nomor tiket, batas waktu penyelesaian, serta kemampuan memantau prosesnya melalui aplikasi atau layanan desa. Tanpa mekanisme ini, berbagai ketimpangan data akan terus berulang.

Audit independen juga harus diperkuat. Berbagai kajian Bank Dunia menunjukkan bahwa pelibatan lembaga independen dapat meningkatkan ketepatan sasaran secara signifikan, bahkan mencapai 15–20 persen dalam beberapa konteks negara berkembang.

Karena itu, Indonesia perlu membuka ruang bagi perguruan tinggi, lembaga riset, dan masyarakat sipil untuk terlibat dalam audit bansos secara berkala, dengan hasil yang dipublikasikan secara transparan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Instruksikan...
Prabowo Instruksikan Sinkronisasi Data Bansos, 88 Daerah Jadi Prioritas Pengentasan Kemiskinan
49 Pendamping PKH Diberhentikan...
49 Pendamping PKH Diberhentikan Akibat Pelanggaran Penyaluran Bansos
Selewengkan Bansos,...
Selewengkan Bansos, 49 Pendamping PKH Dipecat dan 500 Oknum Disanksi
Beredar Kabar Bansos...
Beredar Kabar Bansos Dipotong, Mensos: Itu Hoaks dan Menyesatkan
Selly PDIP: Benahi Data...
Selly PDIP: Benahi Data Penerima Bansos agar Tak Jadi Bancakan Pihak Tertentu
Soroti Penyaluran Bansos...
Soroti Penyaluran Bansos di Tengah Inflasi, Selly Gantina: Perkuat Fungsi Kemensos
Digitalisasi Bansos...
Digitalisasi Bansos Diperluas ke 42 Daerah Mulai Juni 2026, Begini Penjelasan Komdigi
Pelajar Samarinda Meninggal...
Pelajar Samarinda Meninggal karena Sepatu Kekecilan, Mensos Singgung Bansos Tak Tepat Sasaran
Belanja Pemerintah per...
Belanja Pemerintah per Januari 2026 Tembus Rp227,4 Triliun, Buat Apa?
Rekomendasi
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
Gempa 5,3 Magnitudo...
Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Maluku Barat Daya
Berita Terkini
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Presiden KSPI: Said...
Presiden KSPI: Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Berkas Sudah P21, Pakar:...
Berkas Sudah P21, Pakar: Tinggal Tunggu Penyidik Serahkan Roy Suryo dkk ke JPU
Cerita Prabowo tentang...
Cerita Prabowo tentang 2 Angka Keberuntungan di Hidupnya: 8 dan 13 Selalu Muncul
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Partai Perindo Minta...
Partai Perindo Minta Presiden Prabowo Perkuat Demokrasi melalui Revisi UU Pemilu
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved