Dialog Antaragama untuk Perdamaian di Asia Tenggara
Minggu, 16 November 2025 - 12:36 WIB
loading...
A
A
A
Justru karena itu, dialog lintas iman mesti kembali dipijakkan pada pengalaman keseharian masyarakat, bukan hanya retorika moral para elite politik. Perjumpaan sederhana, seperti tatap muka para tokoh agama di desa-desa Ambon pascakerusuhan, atau kerja bersama antara komunitas Muslim dan Buddha di Mae Sot Thailand, menunjukkan satu pelajaran penting: perdamaian dibangun bukan oleh teori, tetapi oleh keberanian untuk mengakui luka dan kesediaan untuk menyembuhkan bersama. Ini adalah model-model dialog antaragama alternatif yang diupayakan oleh pegiat antaragama di Asia Tenggara.
Hemat penulis, salah satu tantangan utama dialog antaragama di Asia Tenggara adalah keberadaan silent fragmentation: masyarakat yang hidup berdampingan secara fisik, tetapi terpisah secara sosial. Mereka bekerja di pasar yang sama, menggunakan jalan yang sama, namun tidak saling memasuki dunia satu sama lain. Fragmentasi ini menciptakan ruang kosong yang rentan diisi oleh narasi ekstrem dan politik kebencian. Di sinilah dialog lintas iman menjadi praksis yang penting: ia mengisi kekosongan dengan kedekatan, bukan kecurigaan. Singkatnya, kita perlu menciptakan ruang perjumpaan untuk warga berbeda agama saling menyapa dalam kehangatan.
Baca Juga: BNPT Ajak Tokoh Agama Jadikan Keberagaman Benteng Lawan Radikalisme
Namun, dialog tidak akan pernah berhasil jika hanya berhenti pada ritual formal. Ia harus berkembang menjadi dialog praksis: kerja nyata bersama. Ketika para pemuda Muslim dan Katolik di Papua menanam mangrove bersama, mereka sesungguhnya sedang menanam kepercayaan baru. Ketika komunitas Buddha dan Muslim di Myanmar membuka dapur umum saat banjir, mereka tidak hanya menyajikan makanan, tetapi mematahkan sekat psikologis yang diwariskan sejarah konflik yang muram. Juga, banyak inisitiaf-inisiatif antaragama yang mengusung kerja nyata bersama.
Asia Tenggara membutuhkan lebih banyak ruang dialog semacam ini sebagai ruang yang tidak hanya memproduksi narasi toleransi, tetapi menghasilkan solidaritas konkret. Dalam situasi politik regional yang sering ditandai oleh populisme, minoritisasi, dan kompetisi antaridentitas, interfaith dialogue harus menawarkan sesuatu yang lebih radikal: etika keberanian. Keberanian untuk menyatakan bahwa keamanan tidak pernah dapat dibangun dengan meniadakan kelompok lain, melainkan dengan mengakui martabat setiap orang. Inilah persaudaraan manusia yang sejati.
Hemat penulis, salah satu tantangan utama dialog antaragama di Asia Tenggara adalah keberadaan silent fragmentation: masyarakat yang hidup berdampingan secara fisik, tetapi terpisah secara sosial. Mereka bekerja di pasar yang sama, menggunakan jalan yang sama, namun tidak saling memasuki dunia satu sama lain. Fragmentasi ini menciptakan ruang kosong yang rentan diisi oleh narasi ekstrem dan politik kebencian. Di sinilah dialog lintas iman menjadi praksis yang penting: ia mengisi kekosongan dengan kedekatan, bukan kecurigaan. Singkatnya, kita perlu menciptakan ruang perjumpaan untuk warga berbeda agama saling menyapa dalam kehangatan.
Baca Juga: BNPT Ajak Tokoh Agama Jadikan Keberagaman Benteng Lawan Radikalisme
Namun, dialog tidak akan pernah berhasil jika hanya berhenti pada ritual formal. Ia harus berkembang menjadi dialog praksis: kerja nyata bersama. Ketika para pemuda Muslim dan Katolik di Papua menanam mangrove bersama, mereka sesungguhnya sedang menanam kepercayaan baru. Ketika komunitas Buddha dan Muslim di Myanmar membuka dapur umum saat banjir, mereka tidak hanya menyajikan makanan, tetapi mematahkan sekat psikologis yang diwariskan sejarah konflik yang muram. Juga, banyak inisitiaf-inisiatif antaragama yang mengusung kerja nyata bersama.
Asia Tenggara membutuhkan lebih banyak ruang dialog semacam ini sebagai ruang yang tidak hanya memproduksi narasi toleransi, tetapi menghasilkan solidaritas konkret. Dalam situasi politik regional yang sering ditandai oleh populisme, minoritisasi, dan kompetisi antaridentitas, interfaith dialogue harus menawarkan sesuatu yang lebih radikal: etika keberanian. Keberanian untuk menyatakan bahwa keamanan tidak pernah dapat dibangun dengan meniadakan kelompok lain, melainkan dengan mengakui martabat setiap orang. Inilah persaudaraan manusia yang sejati.
Lihat Juga :