Peran Strategis Ekosistem Aplikasi Meningkatkan Daya Saing UMKM Digital
Jum'at, 14 November 2025 - 13:25 WIB
loading...
Anastasia Putri, Country Lead (Indonesia) Digital Prosperity for Asia. Foto/Dok.Pribadi
A
A
A
Anastasia Putri
Country Lead (Indonesia) Digital Prosperity for Asia
USAHA Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) termasuk startup, adalah tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap PDB dan penyerapan sekitar 97% tenaga kerja, atau sekitar 119 juta orang. Seiring percepatan digitalisasi UMKM, peran mereka dalam mendorong transformasi digital nasional semakin nyata.
Momentum ini diperkuat dengan adanya startup yang menghadirkan aplikasi dan platform mobile baru, sehingga membuka jalan bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus menjaga daya saing.
Menurut laporan survei DPA-Evalueserve 2025, penggunaan smartphone di Indonesia akan semakin meluas dan diperkirakan akan melebihi 70% tahun ini. Lonjakan ini berarti jutaan orang Indonesia akan semakin mudah mengakses layanan dan peluang digital, terutama melalui aplikasi mobile.
Pada acara yang diselenggarakan DPA bersama Indonesia Services Dialogue (ISD) Council di pertengahan Oktober lalu, para perwakilan pemerintah dan pelaku UMKM digital menyimpulkan bahwa aplikasi lokal memiliki peran penting dalam memperkuat perusahaan dalam negeri agar mampu bersaing dan bertumbuh.
Dengan menciptakan solusi digital yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia, aplikasi lokal dapat mendorong lahirnya inovasi serta meningkatkan daya saing mereka.
Meski peluangnya besar, pengembangan aplikasi mobile tetap menghadapi tantangan. Salah satu faktor tantangan yang dihadapi adalah fragmentasi ekosistem aplikasi yang menghambat proses pengembangan.
Sebagai contoh, Sixty Two pernah bekerja sama dengan AYO, aplikasi komunitas olahraga terbesar di Indonesia, dalam mengembangkan Augmented Reality (AR) untuk berbagai komunitas bulu tangkis, tenis, dan padel. Namun, agar aplikasi AYO dapat diakses di berbagai platform, Sixty Two dihadapkan dengan biaya pengembangan dan pengujian fitur AR yang cukup besar. Kendala ini kemudian mengharuskan tim berhadapan dengan perbedaan standar di berbagai perangkat, khususnya Android dan iOS dari berbagai generasi.
Banyak pelaku UMKM digital menghadapi beban biaya besar dan system development cycle yang panjang saat membuat aplikasi untuk dioperasikan di berbagai OS dan platform, terutama ketika adanya keterbatasan interoperabilitas antar sistem. Akibatnya, banyak UMKM digital yang akhirnya tidak dapat memanfaatkan solusi digital inovatif, kesulitan dalam memperluas pasar maupun meningkatkan efisiensi operasional mereka.
Walaupun Sixty Two berhasil melewati tantangan tersebut, UMKM digital lainnya mungkin saja kesulitan dalam menghadapi situasi serupa, apalagi dengan sumber daya terbatas.
Ekosistem digital yang mendukung berperan penting dalam memastikan aplikasi dapat digunakan di berbagai sistem, platform, maupun perangkat. Interoperabilitas seperti ini tidak hanya memudahkan developer untuk berinovasi, tetapi juga membantu pelaku usaha dalam mengadopsi teknologi baru. Pengguna juga punya kebebasan dalam memilih pengalaman digital, mengelola data pribadi, dan menikmati layanan daring yang lancar.
Pengembangan dan integrasi aplikasi yang disederhanakan dapat memicu inovasi lokal. Para developer aplikasi di Indonesia, yang memahami secara langsung kebutuhan dan tantangan di lapangan, dapat menciptakan solusi yang sesuai dengan karakter pasar lokal.
Dengan menyesuaikan teknologi yang relevan bagi pelaku usaha di Indonesia, kita dapat menawarkan solusi yang tepat sasaran tanpa harus selalu mengadopsi model global yang belum tentu sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Bagi UMKM digital lokal, ekosistem aplikasi yang mendukung juga merupakan batu loncatan untuk menjangkau pengguna dan bersaing di pasar. Akses yang lebih luas ke berbagai sistem operasi dan platform memungkinkan UMKM digital menjangkau lebih banyak pelanggan, termasuk ke pengguna lintas segmen di pasar regional dan global. Lebihnya lagi, hal ini dapat mendorong peningkatan standar kualitas produk digital.
Dengan membangun ekosistem aplikasi yang inklusif dan mendukung, Indonesia dapat memaksimalkan manfaat digitalisasi, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kontribusi terhadap PDB nasional.
Banyak UMKM digital di Indonesia yang berhasil berkembang berkat aplikasi digital yang dirancang khusus sesuai kebutuhan mereka. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak agar semakin banyak UMKM digital yang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
Dukungan pemerintah sangat penting untuk memperkuat infrastruktur dan literasi digital, sekaligus menyeimbangkan daya saing bisnis digital dan perlindungan pengguna. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan benar-benar mendukung pengembangan aplikasi dan menjaga interoperabilitas sistem digital. Sebagai contoh, pemerintah dapat menerapkan hak portabilitas data secara efektif, sehingga pengguna bisa dengan mudah memindahkan data mereka dari satu layanan ke layanan lainnya dengan nyaman.
Selain itu, kerja sama yang erat antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan mitra internasional menjadi kunci dalam mendorong inovasi. Kolaborasi lintas sektor ini sebaiknya difokuskan untuk membantu UMKM agar lebih mudah mengadopsi dan memanfaatkan teknologi digital. Dengan begitu, transformasi digital di Indonesia bisa dirasakan secara merata oleh semua pelaku usaha.
Membangun ekosistem aplikasi yang mendukung merupakan langkah strategis dalam mendukung masa depan digital Indonesia. Dengan memprioritaskan interoperabilitas dan mengurangi hambatan ekosistem, Indonesia dapat membantu UMKM digital berkembang dan memaksimalkan potensinya.
Upaya ini dapat mendorong transformasi digital yang lebih luas dan inklusif, mempercepat inovasi, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh lapisan masyarakat.
Dengan ekosistem aplikasi yang kuat, UMKM digital Indonesia bisa memanfaatkan peluang baru, memberdayakan komunitas, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu ekonomi digital terdepan di Asia Tenggara.
Country Lead (Indonesia) Digital Prosperity for Asia
USAHA Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) termasuk startup, adalah tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap PDB dan penyerapan sekitar 97% tenaga kerja, atau sekitar 119 juta orang. Seiring percepatan digitalisasi UMKM, peran mereka dalam mendorong transformasi digital nasional semakin nyata.
Momentum ini diperkuat dengan adanya startup yang menghadirkan aplikasi dan platform mobile baru, sehingga membuka jalan bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus menjaga daya saing.
Menurut laporan survei DPA-Evalueserve 2025, penggunaan smartphone di Indonesia akan semakin meluas dan diperkirakan akan melebihi 70% tahun ini. Lonjakan ini berarti jutaan orang Indonesia akan semakin mudah mengakses layanan dan peluang digital, terutama melalui aplikasi mobile.
Pada acara yang diselenggarakan DPA bersama Indonesia Services Dialogue (ISD) Council di pertengahan Oktober lalu, para perwakilan pemerintah dan pelaku UMKM digital menyimpulkan bahwa aplikasi lokal memiliki peran penting dalam memperkuat perusahaan dalam negeri agar mampu bersaing dan bertumbuh.
Dengan menciptakan solusi digital yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia, aplikasi lokal dapat mendorong lahirnya inovasi serta meningkatkan daya saing mereka.
Fragmentasi sebagai Tantangan
Meski peluangnya besar, pengembangan aplikasi mobile tetap menghadapi tantangan. Salah satu faktor tantangan yang dihadapi adalah fragmentasi ekosistem aplikasi yang menghambat proses pengembangan.
Sebagai contoh, Sixty Two pernah bekerja sama dengan AYO, aplikasi komunitas olahraga terbesar di Indonesia, dalam mengembangkan Augmented Reality (AR) untuk berbagai komunitas bulu tangkis, tenis, dan padel. Namun, agar aplikasi AYO dapat diakses di berbagai platform, Sixty Two dihadapkan dengan biaya pengembangan dan pengujian fitur AR yang cukup besar. Kendala ini kemudian mengharuskan tim berhadapan dengan perbedaan standar di berbagai perangkat, khususnya Android dan iOS dari berbagai generasi.
Banyak pelaku UMKM digital menghadapi beban biaya besar dan system development cycle yang panjang saat membuat aplikasi untuk dioperasikan di berbagai OS dan platform, terutama ketika adanya keterbatasan interoperabilitas antar sistem. Akibatnya, banyak UMKM digital yang akhirnya tidak dapat memanfaatkan solusi digital inovatif, kesulitan dalam memperluas pasar maupun meningkatkan efisiensi operasional mereka.
Walaupun Sixty Two berhasil melewati tantangan tersebut, UMKM digital lainnya mungkin saja kesulitan dalam menghadapi situasi serupa, apalagi dengan sumber daya terbatas.
Pentingnya Ekosistem Aplikasi yang Mendukung
Ekosistem digital yang mendukung berperan penting dalam memastikan aplikasi dapat digunakan di berbagai sistem, platform, maupun perangkat. Interoperabilitas seperti ini tidak hanya memudahkan developer untuk berinovasi, tetapi juga membantu pelaku usaha dalam mengadopsi teknologi baru. Pengguna juga punya kebebasan dalam memilih pengalaman digital, mengelola data pribadi, dan menikmati layanan daring yang lancar.
Pengembangan dan integrasi aplikasi yang disederhanakan dapat memicu inovasi lokal. Para developer aplikasi di Indonesia, yang memahami secara langsung kebutuhan dan tantangan di lapangan, dapat menciptakan solusi yang sesuai dengan karakter pasar lokal.
Dengan menyesuaikan teknologi yang relevan bagi pelaku usaha di Indonesia, kita dapat menawarkan solusi yang tepat sasaran tanpa harus selalu mengadopsi model global yang belum tentu sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Bagi UMKM digital lokal, ekosistem aplikasi yang mendukung juga merupakan batu loncatan untuk menjangkau pengguna dan bersaing di pasar. Akses yang lebih luas ke berbagai sistem operasi dan platform memungkinkan UMKM digital menjangkau lebih banyak pelanggan, termasuk ke pengguna lintas segmen di pasar regional dan global. Lebihnya lagi, hal ini dapat mendorong peningkatan standar kualitas produk digital.
Dengan membangun ekosistem aplikasi yang inklusif dan mendukung, Indonesia dapat memaksimalkan manfaat digitalisasi, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kontribusi terhadap PDB nasional.
Dari Visi ke Realisasi
Banyak UMKM digital di Indonesia yang berhasil berkembang berkat aplikasi digital yang dirancang khusus sesuai kebutuhan mereka. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak agar semakin banyak UMKM digital yang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
Dukungan pemerintah sangat penting untuk memperkuat infrastruktur dan literasi digital, sekaligus menyeimbangkan daya saing bisnis digital dan perlindungan pengguna. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan benar-benar mendukung pengembangan aplikasi dan menjaga interoperabilitas sistem digital. Sebagai contoh, pemerintah dapat menerapkan hak portabilitas data secara efektif, sehingga pengguna bisa dengan mudah memindahkan data mereka dari satu layanan ke layanan lainnya dengan nyaman.
Selain itu, kerja sama yang erat antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan mitra internasional menjadi kunci dalam mendorong inovasi. Kolaborasi lintas sektor ini sebaiknya difokuskan untuk membantu UMKM agar lebih mudah mengadopsi dan memanfaatkan teknologi digital. Dengan begitu, transformasi digital di Indonesia bisa dirasakan secara merata oleh semua pelaku usaha.
Membangun ekosistem aplikasi yang mendukung merupakan langkah strategis dalam mendukung masa depan digital Indonesia. Dengan memprioritaskan interoperabilitas dan mengurangi hambatan ekosistem, Indonesia dapat membantu UMKM digital berkembang dan memaksimalkan potensinya.
Upaya ini dapat mendorong transformasi digital yang lebih luas dan inklusif, mempercepat inovasi, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh lapisan masyarakat.
Dengan ekosistem aplikasi yang kuat, UMKM digital Indonesia bisa memanfaatkan peluang baru, memberdayakan komunitas, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu ekonomi digital terdepan di Asia Tenggara.
(shf)
Lihat Juga :