APHRS Komitmen Tingkatkan Pelayanan Pasien Gangguan Irama Jantung
Jum'at, 07 November 2025 - 23:24 WIB
loading...
Kampanye MEraba NAdi SendiRI (MENARI), sebuah gerakan edukatif menuju Pulse Day 2026. Inisiatif global untuk meningkatkan kesadaran tentang gangguan irama jantung atau aritmia. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Gangguan irama jantung atau aritmia menjadi salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskular di dunia yang sering luput dari perhatian masyarakat. Padahal, deteksi dini sederhana seperti memeriksa denyut nadi sendiri dapat menyelamatkan nyawa.
Hal inilah yang menjadi semangat utama di balik kampanye “MEraba NAdi SendiRI (MENARI)”, sebuah gerakan edukatif menuju Pulse Day 2026, inisiatif global untuk meningkatkan kesadaran tentang aritmia.
Head of Pulse Day Task Force sekaligus Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) Dicky Armein Hanafy menuturkan APHRS berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pelayanan bagi pasien dengan gangguan irama jantung di kawasan Asia-Pasifik.
“Pulse Day bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi gerakan bersama yang mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk mengenal irama jantung, memeriksa denyut nadi secara rutin, dan segera berkonsultasi bila terdapat kelainan,” ujar Dicky, Jumat (7/11/2025).
“Cara mengecek denyut jantung yaitu dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, hitung denyutnya selama 30 detik dan kalikan 2 untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal biasanya berada di kisaran 60 hingga 100 detak per menit,” tambahnya.
Pulse Day diperingati setiap 1 Maret sebagai pengingat bahwa 1 dari 3 orang di dunia berisiko mengalami aritmia serius sepanjang hidupnya. Tahun ini, APHRS memimpin pelaksanaan Pulse Day di bawah bimbingan dan kolaborasi dengan sister societies yaitu EHRA, HRS, dan LAHRS, juga didukung oleh Arrhythmia Alliance (UK) dan World Heart Federation
Ketua PERITMI atau Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) Erika Maharani menambahkan dokumen ini disusun sebagai respons terhadap meningkatnya beban penyakit aritmia di Tanah Air serta masih lebarnya kesenjangan layanan dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik.
Berdasarkan data APHRS White Book 2023, Indonesia hanya mencatat 0,30 implantasi defibrillator kardioverter implan (DKI) dan 0,51 tindakan ablasi fibrilasi atrium (FA) per satu juta penduduk, masing-masing 239 kali dan 1.280 kali lebih rendah dibandingkan Selandia Baru dan Jepang.
"Kondisi ini menjadi cerminan bahwa akses terhadap layanan diagnosis dan terapi aritmia di Indonesia masih sangat terbatas dan hal ini berisiko meningkatkan angka kejadian dan kematian akibat gangguan irama jantung yang tidak tertangani dengan baik,” ujar Erika.
Hal inilah yang menjadi semangat utama di balik kampanye “MEraba NAdi SendiRI (MENARI)”, sebuah gerakan edukatif menuju Pulse Day 2026, inisiatif global untuk meningkatkan kesadaran tentang aritmia.
Head of Pulse Day Task Force sekaligus Chairperson of Public Affairs Committee Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) Dicky Armein Hanafy menuturkan APHRS berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pelayanan bagi pasien dengan gangguan irama jantung di kawasan Asia-Pasifik.
“Pulse Day bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi gerakan bersama yang mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk mengenal irama jantung, memeriksa denyut nadi secara rutin, dan segera berkonsultasi bila terdapat kelainan,” ujar Dicky, Jumat (7/11/2025).
“Cara mengecek denyut jantung yaitu dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, hitung denyutnya selama 30 detik dan kalikan 2 untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal biasanya berada di kisaran 60 hingga 100 detak per menit,” tambahnya.
Pulse Day diperingati setiap 1 Maret sebagai pengingat bahwa 1 dari 3 orang di dunia berisiko mengalami aritmia serius sepanjang hidupnya. Tahun ini, APHRS memimpin pelaksanaan Pulse Day di bawah bimbingan dan kolaborasi dengan sister societies yaitu EHRA, HRS, dan LAHRS, juga didukung oleh Arrhythmia Alliance (UK) dan World Heart Federation
Ketua PERITMI atau Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) Erika Maharani menambahkan dokumen ini disusun sebagai respons terhadap meningkatnya beban penyakit aritmia di Tanah Air serta masih lebarnya kesenjangan layanan dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik.
Berdasarkan data APHRS White Book 2023, Indonesia hanya mencatat 0,30 implantasi defibrillator kardioverter implan (DKI) dan 0,51 tindakan ablasi fibrilasi atrium (FA) per satu juta penduduk, masing-masing 239 kali dan 1.280 kali lebih rendah dibandingkan Selandia Baru dan Jepang.
"Kondisi ini menjadi cerminan bahwa akses terhadap layanan diagnosis dan terapi aritmia di Indonesia masih sangat terbatas dan hal ini berisiko meningkatkan angka kejadian dan kematian akibat gangguan irama jantung yang tidak tertangani dengan baik,” ujar Erika.
(jon)
Lihat Juga :