Perempuan Jadi Salah Satu Pilar Keberhasilan Program MBG
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 11:21 WIB
loading...
A
A
A
“MBG adalah investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Anak-anak yang mendapatkan gizi seimbang akan tumbuh sehat secara fisik dan mental, sehingga mampu belajar dengan baik dan berdaya saing di masa depan,” kata Erlinda.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan program MBG tidak dilakukan secara seragam di seluruh daerah tanpa memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan ketersediaan pangan lokal. Ketidaktepatan sasaran dapat terjadi jika data gizi anak tidak akurat atau mekanisme pendistribusian makanan dilakukan secara administratif semata.
“Pemerintah daerah harus didorong untuk menggunakan pendekatan berbasis data dan kontekstual. Misalnya dengan melakukan pemetaan status gizi per wilayah oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, serta melibatkan tenaga ahli gizi di sekolah. Hal ini penting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan berdampak nyata,” ujarnya.
Erlinda juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan transparansi publik dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai, keberhasilan program ini sangat bergantung pada koordinasi antar kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Sosial, serta Kementerian Desa.
“Program MBG memerlukan pengawasan lintas sektor dengan koordinasi yang kuat, misalnya di bawah Kementerian Sekretariat Negara atau Sekretariat Wakil Presiden. Monitoring dan evaluasi harus dilakukan secara berkala agar pelaksanaannya akuntabel dan transparan,” katanya.
Selain itu, partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting. Organisasi perempuan seperti PKK, Dharma Wanita, dan organisasi keagamaan perempuan dapat dilibatkan dalam pengawasan kualitas makanan, distribusi, serta edukasi gizi di sekolah dan masyarakat.
“Ketika masyarakat, terutama organisasi perempuan, dilibatkan secara aktif, maka MBG akan menjadi gerakan sosial bersama, bukan sekadar proyek pemerintah. Dengan begitu, rasa memiliki masyarakat terhadap program ini akan tumbuh, dan keberlanjutannya lebih terjamin,” ujar Erlinda.
Menurut Erlinda, perempuan khususnya ibu merupakan “guru pertama dan utama” dalam pendidikan gizi anak. Di lingkungan rumah tangga, ibu dapat menanamkan kebiasaan pola makan sehat dengan memberi contoh nyata, seperti mengonsumsi sayur dan buah, menjaga kebersihan, serta tidak membuang makanan.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan program MBG tidak dilakukan secara seragam di seluruh daerah tanpa memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan ketersediaan pangan lokal. Ketidaktepatan sasaran dapat terjadi jika data gizi anak tidak akurat atau mekanisme pendistribusian makanan dilakukan secara administratif semata.
“Pemerintah daerah harus didorong untuk menggunakan pendekatan berbasis data dan kontekstual. Misalnya dengan melakukan pemetaan status gizi per wilayah oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, serta melibatkan tenaga ahli gizi di sekolah. Hal ini penting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan berdampak nyata,” ujarnya.
Erlinda juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan transparansi publik dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai, keberhasilan program ini sangat bergantung pada koordinasi antar kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Sosial, serta Kementerian Desa.
“Program MBG memerlukan pengawasan lintas sektor dengan koordinasi yang kuat, misalnya di bawah Kementerian Sekretariat Negara atau Sekretariat Wakil Presiden. Monitoring dan evaluasi harus dilakukan secara berkala agar pelaksanaannya akuntabel dan transparan,” katanya.
Selain itu, partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting. Organisasi perempuan seperti PKK, Dharma Wanita, dan organisasi keagamaan perempuan dapat dilibatkan dalam pengawasan kualitas makanan, distribusi, serta edukasi gizi di sekolah dan masyarakat.
“Ketika masyarakat, terutama organisasi perempuan, dilibatkan secara aktif, maka MBG akan menjadi gerakan sosial bersama, bukan sekadar proyek pemerintah. Dengan begitu, rasa memiliki masyarakat terhadap program ini akan tumbuh, dan keberlanjutannya lebih terjamin,” ujar Erlinda.
Menurut Erlinda, perempuan khususnya ibu merupakan “guru pertama dan utama” dalam pendidikan gizi anak. Di lingkungan rumah tangga, ibu dapat menanamkan kebiasaan pola makan sehat dengan memberi contoh nyata, seperti mengonsumsi sayur dan buah, menjaga kebersihan, serta tidak membuang makanan.
Lihat Juga :