Perempuan Jadi Salah Satu Pilar Keberhasilan Program MBG
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 11:21 WIB
loading...
A
A
A
“Ibu bisa memperkenalkan nilai gizi sejak dini, mengajarkan anak mengenal karbohidrat, protein, dan vitamin dalam makanan sehari-hari. Literasi gizi sederhana ini sangat efektif jika dilakukan secara konsisten,” ucapnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu mendukung penguatan literasi gizi melalui berbagai media, seperti Posyandu, sekolah, dan platform digital. Dengan demikian, rumah tangga akan menjadi perpanjangan tangan negara dalam memastikan generasi muda tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Kalau keluarga memahami gizi, maka efek program MBG tidak berhenti di sekolah, tapi berlanjut di rumah. Anak-anak akan tumbuh dengan kebiasaan makan sehat yang akan terbawa sampai dewasa,” kata Erlinda.
Selain dari aspek gizi dan edukasi, ia uga menilai bahwa MBG memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi lokal. Erlinda menyarankan agar dapur-dapur penyedia MBG menggunakan bahan pangan yang berasal dari petani, nelayan, dan UMKM di sekitar sekolah. Pola ini tidak hanya memperkuat rantai pasok pangan, tetapi juga mendorong pemerataan ekonomi desa.
“Kalau bahan makanan MBG diambil dari petani dan pelaku UMKM sekitar sekolah, maka dampaknya ganda. Anak-anak mendapatkan makanan segar dan bergizi, sementara perekonomian lokal juga ikut tumbuh. Ini model pembangunan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menegaskan, keterlibatan perempuan juga dapat diperluas dalam aspek ekonomi, misalnya melalui pelatihan pengolahan makanan sehat lokal dan pengelolaan dapur higienis. Dengan begitu, perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku ekonomi yang berdaya.
Erlinda menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis seharusnya dipandang bukan sekadar bantuan makanan, tetapi sebagai investasi jangka panjang negara dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Anak yang sehat dan bergizi baik adalah modal utama bangsa untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Keberhasilan MBG akan menjadi salah satu tonggak penting menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Erlinda.
Ia menambahkan, pemerintah perlu mendukung penguatan literasi gizi melalui berbagai media, seperti Posyandu, sekolah, dan platform digital. Dengan demikian, rumah tangga akan menjadi perpanjangan tangan negara dalam memastikan generasi muda tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Kalau keluarga memahami gizi, maka efek program MBG tidak berhenti di sekolah, tapi berlanjut di rumah. Anak-anak akan tumbuh dengan kebiasaan makan sehat yang akan terbawa sampai dewasa,” kata Erlinda.
Selain dari aspek gizi dan edukasi, ia uga menilai bahwa MBG memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi lokal. Erlinda menyarankan agar dapur-dapur penyedia MBG menggunakan bahan pangan yang berasal dari petani, nelayan, dan UMKM di sekitar sekolah. Pola ini tidak hanya memperkuat rantai pasok pangan, tetapi juga mendorong pemerataan ekonomi desa.
“Kalau bahan makanan MBG diambil dari petani dan pelaku UMKM sekitar sekolah, maka dampaknya ganda. Anak-anak mendapatkan makanan segar dan bergizi, sementara perekonomian lokal juga ikut tumbuh. Ini model pembangunan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menegaskan, keterlibatan perempuan juga dapat diperluas dalam aspek ekonomi, misalnya melalui pelatihan pengolahan makanan sehat lokal dan pengelolaan dapur higienis. Dengan begitu, perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku ekonomi yang berdaya.
Erlinda menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis seharusnya dipandang bukan sekadar bantuan makanan, tetapi sebagai investasi jangka panjang negara dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Anak yang sehat dan bergizi baik adalah modal utama bangsa untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Keberhasilan MBG akan menjadi salah satu tonggak penting menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Erlinda.
(shf)
Lihat Juga :