Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 07:25 WIB
loading...
A
A
A
Laut yang tadinya bergolak seolah mendidih, menjadi tenang seperti kolam renang dan airnya terasa hangat. Sebentar kemudian terdengar suara pecahan gelombang disusul sinar-sinar baterai seolah-olah pantai sudah di depan mata.
Nur Kamid membangunkan Kopral Soeyono dan berkata: “Yon mari segera meneruskan perjalanan, pertolongan Tuhan telah datang, daratan sudah dekat”.
Tanggal 9 Desember 1975, mereka berenang dengan semangat, moril tinggi dan tenaga berlipat ganda. Dengan penuh harapan dan keyakinan mereka menuju ke arah suara dan lampu-lampu tersebut. Yang aneh lampu-lampu tersebut seperti dikomando.
![Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari]()
Bila lampu padam mereka berteriak “Tolong lampu, kami akan mendarat”. Seketika lampu menyala kembali seolah-olah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di pantai. Mereka melakukan hal tersebut berulang-ulang, setiap lampu padam mereka berteriak. Tetapi sampai pagi daratan nampak masih jauh.
Dikemudian hari penduduk Alor mengatakan bahwa lampu-lampu tersebut sebenarnya hantu laut yang sering mengganggu para nelayan. Tetapi bagi mereka, lampu-lampu dan suara-suara pecahan gelombang tersebut adalah wujud dari pertolongan Tuhan yang telah berhasil mengembalikan semangat dan morilnya sehingga dapat menyelamatkannya.
Pukul 08.00 panas matahari terasa menyengat pohon-pohon di pantai Alor sudah tampak jelas, bahkan mereka sudah dapat membedakan pohon-pohon kelapa di antara pohon-pohon lainnya. Dari kejauhan mereka dapat melihat ada sebuah perahu nelayan yang menuju pantai.
Berkat kekuatan yang dikurniakan Tuhan Yang Maha Esa, pukul 12.15 tanggal 9 Desember 1975, mereka berhasil mendarat dengan selamat di pantai Peitoko Alor Timur setelah berenang selama tiga hari tiga malam dan menempuh jarak hampir 90 mil.
Sementara kedua rekan mereka yakni Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi sampai saat ini tidak ada kabar beritanya. Dan Pimpinan TNI AL/Hankam telah memutuskan keduanya dinyatakan gugur sebagai pahlawan bangsa.
Nur Kamid membangunkan Kopral Soeyono dan berkata: “Yon mari segera meneruskan perjalanan, pertolongan Tuhan telah datang, daratan sudah dekat”.
Tanggal 9 Desember 1975, mereka berenang dengan semangat, moril tinggi dan tenaga berlipat ganda. Dengan penuh harapan dan keyakinan mereka menuju ke arah suara dan lampu-lampu tersebut. Yang aneh lampu-lampu tersebut seperti dikomando.

Bila lampu padam mereka berteriak “Tolong lampu, kami akan mendarat”. Seketika lampu menyala kembali seolah-olah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di pantai. Mereka melakukan hal tersebut berulang-ulang, setiap lampu padam mereka berteriak. Tetapi sampai pagi daratan nampak masih jauh.
Dikemudian hari penduduk Alor mengatakan bahwa lampu-lampu tersebut sebenarnya hantu laut yang sering mengganggu para nelayan. Tetapi bagi mereka, lampu-lampu dan suara-suara pecahan gelombang tersebut adalah wujud dari pertolongan Tuhan yang telah berhasil mengembalikan semangat dan morilnya sehingga dapat menyelamatkannya.
Pukul 08.00 panas matahari terasa menyengat pohon-pohon di pantai Alor sudah tampak jelas, bahkan mereka sudah dapat membedakan pohon-pohon kelapa di antara pohon-pohon lainnya. Dari kejauhan mereka dapat melihat ada sebuah perahu nelayan yang menuju pantai.
Berkat kekuatan yang dikurniakan Tuhan Yang Maha Esa, pukul 12.15 tanggal 9 Desember 1975, mereka berhasil mendarat dengan selamat di pantai Peitoko Alor Timur setelah berenang selama tiga hari tiga malam dan menempuh jarak hampir 90 mil.
Sementara kedua rekan mereka yakni Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi sampai saat ini tidak ada kabar beritanya. Dan Pimpinan TNI AL/Hankam telah memutuskan keduanya dinyatakan gugur sebagai pahlawan bangsa.
(cip)
Lihat Juga :