Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 07:25 WIB
loading...
Prajurit TNI melakukan pendaratan di pantai. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Operasi Seroja di Timor-Timur (Timtim) yang sekarang bernama Timor Leste masih tertanam kuat dalam ingatan Serka Mar. Nur Khamid. Prajurit Marinir Intai Amphibi Pasmar I ini selamat maut usai ditolong hantu laut setelah terombang ambing selama 3 hari dan 3 malam di lautan.
Dikutip dari buku 60 Tahun Pengabdian Korps Marinir, pada 6 Desember 1975 pukul 19.00, satu tim Marinir yang terdiri dari Kapten Mar A. Solangs, Pelda Mar (anm) Slamet Priyono, Serka Mar Nurkamid, Serma Mar (anm) Soetardi, Sertu Mar Samuri dan Kopda Mar Soeyono mendapat tugas untuk menyiapkan daerah pendaratan bagi Pasmar I di Pantai Komoro sebelah barat Dili.
Pada 6 Desember 1975 tepat pukul 24.00 tengah malam, Tim yang bertugas melaksanakan penyelidikan pantai turun dari perahu karet pada jarak ± 4 mil dari pantai, yaitu Pelda Mar (anm) Slamet Priyono, Serma Mar (anm) Soetardi dan Kopda Mar Soeyono. Mereka selanjutnya bergerak menuju ke sasaran dengan berenang.
Baca juga: Panglima TNI Tunjuk 3 Danrem Baru, Ada dari Korps Baret Merah Kopassus
Sedangkan Kapten Mar A.Solangs dan Sertu Mar Samuri bertugas menunggu di titik temu. Tiap anggota pada waktu itu dilengkapi dengan pelampung, pisau, baterai isyarat, fin, masker, 2 buah granat tangan, arloji bawah air dan kompas bawah air. Usai menyiapkan lokasi pendaratan, tim kembali berenang menuju kapal TNI AL.
Sekitar pukul 08,00 pagi posisi Tim ini sudah ± 2 mil dari kapal-kapal TNI AL, tetapi tiba-tiba arus berubah. Prajurit petarung Marinir yang belum sadar akan perubahan arah arus ini, tetap berenang ke arah kapal, tetapi tidak dapat mendekatinya. Dan akhirnya anggota terseret sampai ke dekat Lequesa sebuah kota pantai ± 25 kilometer sebelah Barat Dilli yang masih dikuasai Fretellin, kelompok bersenjata di Timtim.
Anggota Tim berenang terus dengan ganti berganti gaya dan beristirahat tidur setelah berenang 10 jam. Para anggota Tim tidur dengan meniup pelampung dan saling memikul kaki dan bergandengan supaya tidak terpisah-pisah oleh gelombang dan arus.
Baca juga: Presiden Prabowo Teken Perpres Kopassus, Marinir, dan Kopasgat Dipimpin Pati Bintang 3
Setiap beristirahat anggota dapat langsung tidur nyenyak karena kelelahan. Tetapi paling lama anggota tim dapat tidur kurang dari 10 menit. Karena kedinginan dan kelaparan sehingga mudah sekali terbangun.
Musuh terberatnya sebenarnya bukanlah gelombang, arus ataupun ikan-ikan buas seperti Paus dan Hiu yang sering dijumpai, tetapi rasa dingin, rasa lelah dan rasa kantuk yang dirasakan sangat berat. Pukul 16.00 pantai Alor mulai membayang samar-samar.
Tetapi justru bayangan daratan ini yang menggoda sehingga Tim terpecah dua. Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dengan Serma Mar (anm) Soetardi dan Serka Mar Nurkamid dengan Kopda Mar Soeyono. Karena Pelda Marinir (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi berenangnya lebih cepat maka mereka memutuskan untuk berenang duluan.
Dua jam setelah berpisah, sekitar pukul 18.00, Nur Kamid beserta Kopda Marinir Soeyono terjebak dalam pusaran arus, yang sangat kuat, hampir dua jam tidak mampu keluar dari pusaran tersebut, hampir-hampir menyerah. Namun kepada Tuhanlah akhirnya mereka mengadu. Mereka panggil keagungan nama Tuhan untuk dapat membebaskannya.
Mereka kemudian melantunkan adzan sekuat-kuatnya dengan cucuran air mata. Doa dan harapan mereka akhirnya di dengar Tuhan dan menerima permohonan mereka karena selesai adzan dengan mudah mereka keluar dari pusaran tersebut.
![Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari]()
Malam pada 8 Desember 1975 adalah malam yang menentukan bagi mereka. Beberapa kali mereka mengalami kejadian luar biasa. Menjelang tengah malam angin bertiup kencang menyebabkan gelombang pecah tidak teratur mengombang-ambingkan mereka yang sudah kelelahan.
Sekitar pukul 24.00 pada saat Nur Kamid terlentang, berenang dengan gaya punggung, menyaksikan di antara taburan bintang-bintang di langit muncul istana-istana yang luar biasa indahnya dengan tangga-tangga yang sangat artisitik.
Badan terasa mengambang di awang awang, Nur Kamid ajak rekan Soeyono berhenti dan naik saja ke istana tersebut. Untung rekan Soeyono menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang beres pada diri Nur Kamid mungkin karena hampir kehabisan tenaga, kesadaran Nur Kamid berkurang sehingga mengalami halusinasi. Maka diajaklah beristirahat dan Mereka berdua segera pulas.
Namun keajaiban terjadi lagi. Tiba-tiba Nur Kamid dibangunkan, entah oleh siapa, karena rekan Soeyono masih pulas. Nur Kamid melihat jam dan ternyata dia telah tertidur sekitar 3 menit. Anehnya badan Nur Kamid terasa segar dan kuat.
Laut yang tadinya bergolak seolah mendidih, menjadi tenang seperti kolam renang dan airnya terasa hangat. Sebentar kemudian terdengar suara pecahan gelombang disusul sinar-sinar baterai seolah-olah pantai sudah di depan mata.
Nur Kamid membangunkan Kopral Soeyono dan berkata: “Yon mari segera meneruskan perjalanan, pertolongan Tuhan telah datang, daratan sudah dekat”.
Tanggal 9 Desember 1975, mereka berenang dengan semangat, moril tinggi dan tenaga berlipat ganda. Dengan penuh harapan dan keyakinan mereka menuju ke arah suara dan lampu-lampu tersebut. Yang aneh lampu-lampu tersebut seperti dikomando.
![Kisah Prajurit Marinir Selamat dari Maut usai Ditolong Hantu Laut saat Terombang-ambing selama 3 Hari]()
Bila lampu padam mereka berteriak “Tolong lampu, kami akan mendarat”. Seketika lampu menyala kembali seolah-olah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di pantai. Mereka melakukan hal tersebut berulang-ulang, setiap lampu padam mereka berteriak. Tetapi sampai pagi daratan nampak masih jauh.
Dikemudian hari penduduk Alor mengatakan bahwa lampu-lampu tersebut sebenarnya hantu laut yang sering mengganggu para nelayan. Tetapi bagi mereka, lampu-lampu dan suara-suara pecahan gelombang tersebut adalah wujud dari pertolongan Tuhan yang telah berhasil mengembalikan semangat dan morilnya sehingga dapat menyelamatkannya.
Pukul 08.00 panas matahari terasa menyengat pohon-pohon di pantai Alor sudah tampak jelas, bahkan mereka sudah dapat membedakan pohon-pohon kelapa di antara pohon-pohon lainnya. Dari kejauhan mereka dapat melihat ada sebuah perahu nelayan yang menuju pantai.
Berkat kekuatan yang dikurniakan Tuhan Yang Maha Esa, pukul 12.15 tanggal 9 Desember 1975, mereka berhasil mendarat dengan selamat di pantai Peitoko Alor Timur setelah berenang selama tiga hari tiga malam dan menempuh jarak hampir 90 mil.
Sementara kedua rekan mereka yakni Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi sampai saat ini tidak ada kabar beritanya. Dan Pimpinan TNI AL/Hankam telah memutuskan keduanya dinyatakan gugur sebagai pahlawan bangsa.
Dikutip dari buku 60 Tahun Pengabdian Korps Marinir, pada 6 Desember 1975 pukul 19.00, satu tim Marinir yang terdiri dari Kapten Mar A. Solangs, Pelda Mar (anm) Slamet Priyono, Serka Mar Nurkamid, Serma Mar (anm) Soetardi, Sertu Mar Samuri dan Kopda Mar Soeyono mendapat tugas untuk menyiapkan daerah pendaratan bagi Pasmar I di Pantai Komoro sebelah barat Dili.
Pada 6 Desember 1975 tepat pukul 24.00 tengah malam, Tim yang bertugas melaksanakan penyelidikan pantai turun dari perahu karet pada jarak ± 4 mil dari pantai, yaitu Pelda Mar (anm) Slamet Priyono, Serma Mar (anm) Soetardi dan Kopda Mar Soeyono. Mereka selanjutnya bergerak menuju ke sasaran dengan berenang.
Baca juga: Panglima TNI Tunjuk 3 Danrem Baru, Ada dari Korps Baret Merah Kopassus
Sedangkan Kapten Mar A.Solangs dan Sertu Mar Samuri bertugas menunggu di titik temu. Tiap anggota pada waktu itu dilengkapi dengan pelampung, pisau, baterai isyarat, fin, masker, 2 buah granat tangan, arloji bawah air dan kompas bawah air. Usai menyiapkan lokasi pendaratan, tim kembali berenang menuju kapal TNI AL.
Sekitar pukul 08,00 pagi posisi Tim ini sudah ± 2 mil dari kapal-kapal TNI AL, tetapi tiba-tiba arus berubah. Prajurit petarung Marinir yang belum sadar akan perubahan arah arus ini, tetap berenang ke arah kapal, tetapi tidak dapat mendekatinya. Dan akhirnya anggota terseret sampai ke dekat Lequesa sebuah kota pantai ± 25 kilometer sebelah Barat Dilli yang masih dikuasai Fretellin, kelompok bersenjata di Timtim.
Anggota Tim berenang terus dengan ganti berganti gaya dan beristirahat tidur setelah berenang 10 jam. Para anggota Tim tidur dengan meniup pelampung dan saling memikul kaki dan bergandengan supaya tidak terpisah-pisah oleh gelombang dan arus.
Baca juga: Presiden Prabowo Teken Perpres Kopassus, Marinir, dan Kopasgat Dipimpin Pati Bintang 3
Setiap beristirahat anggota dapat langsung tidur nyenyak karena kelelahan. Tetapi paling lama anggota tim dapat tidur kurang dari 10 menit. Karena kedinginan dan kelaparan sehingga mudah sekali terbangun.
Musuh terberatnya sebenarnya bukanlah gelombang, arus ataupun ikan-ikan buas seperti Paus dan Hiu yang sering dijumpai, tetapi rasa dingin, rasa lelah dan rasa kantuk yang dirasakan sangat berat. Pukul 16.00 pantai Alor mulai membayang samar-samar.
Tetapi justru bayangan daratan ini yang menggoda sehingga Tim terpecah dua. Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dengan Serma Mar (anm) Soetardi dan Serka Mar Nurkamid dengan Kopda Mar Soeyono. Karena Pelda Marinir (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi berenangnya lebih cepat maka mereka memutuskan untuk berenang duluan.
Dua jam setelah berpisah, sekitar pukul 18.00, Nur Kamid beserta Kopda Marinir Soeyono terjebak dalam pusaran arus, yang sangat kuat, hampir dua jam tidak mampu keluar dari pusaran tersebut, hampir-hampir menyerah. Namun kepada Tuhanlah akhirnya mereka mengadu. Mereka panggil keagungan nama Tuhan untuk dapat membebaskannya.
Mereka kemudian melantunkan adzan sekuat-kuatnya dengan cucuran air mata. Doa dan harapan mereka akhirnya di dengar Tuhan dan menerima permohonan mereka karena selesai adzan dengan mudah mereka keluar dari pusaran tersebut.

Malam pada 8 Desember 1975 adalah malam yang menentukan bagi mereka. Beberapa kali mereka mengalami kejadian luar biasa. Menjelang tengah malam angin bertiup kencang menyebabkan gelombang pecah tidak teratur mengombang-ambingkan mereka yang sudah kelelahan.
Sekitar pukul 24.00 pada saat Nur Kamid terlentang, berenang dengan gaya punggung, menyaksikan di antara taburan bintang-bintang di langit muncul istana-istana yang luar biasa indahnya dengan tangga-tangga yang sangat artisitik.
Badan terasa mengambang di awang awang, Nur Kamid ajak rekan Soeyono berhenti dan naik saja ke istana tersebut. Untung rekan Soeyono menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang beres pada diri Nur Kamid mungkin karena hampir kehabisan tenaga, kesadaran Nur Kamid berkurang sehingga mengalami halusinasi. Maka diajaklah beristirahat dan Mereka berdua segera pulas.
Namun keajaiban terjadi lagi. Tiba-tiba Nur Kamid dibangunkan, entah oleh siapa, karena rekan Soeyono masih pulas. Nur Kamid melihat jam dan ternyata dia telah tertidur sekitar 3 menit. Anehnya badan Nur Kamid terasa segar dan kuat.
Laut yang tadinya bergolak seolah mendidih, menjadi tenang seperti kolam renang dan airnya terasa hangat. Sebentar kemudian terdengar suara pecahan gelombang disusul sinar-sinar baterai seolah-olah pantai sudah di depan mata.
Nur Kamid membangunkan Kopral Soeyono dan berkata: “Yon mari segera meneruskan perjalanan, pertolongan Tuhan telah datang, daratan sudah dekat”.
Tanggal 9 Desember 1975, mereka berenang dengan semangat, moril tinggi dan tenaga berlipat ganda. Dengan penuh harapan dan keyakinan mereka menuju ke arah suara dan lampu-lampu tersebut. Yang aneh lampu-lampu tersebut seperti dikomando.

Bila lampu padam mereka berteriak “Tolong lampu, kami akan mendarat”. Seketika lampu menyala kembali seolah-olah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di pantai. Mereka melakukan hal tersebut berulang-ulang, setiap lampu padam mereka berteriak. Tetapi sampai pagi daratan nampak masih jauh.
Dikemudian hari penduduk Alor mengatakan bahwa lampu-lampu tersebut sebenarnya hantu laut yang sering mengganggu para nelayan. Tetapi bagi mereka, lampu-lampu dan suara-suara pecahan gelombang tersebut adalah wujud dari pertolongan Tuhan yang telah berhasil mengembalikan semangat dan morilnya sehingga dapat menyelamatkannya.
Pukul 08.00 panas matahari terasa menyengat pohon-pohon di pantai Alor sudah tampak jelas, bahkan mereka sudah dapat membedakan pohon-pohon kelapa di antara pohon-pohon lainnya. Dari kejauhan mereka dapat melihat ada sebuah perahu nelayan yang menuju pantai.
Berkat kekuatan yang dikurniakan Tuhan Yang Maha Esa, pukul 12.15 tanggal 9 Desember 1975, mereka berhasil mendarat dengan selamat di pantai Peitoko Alor Timur setelah berenang selama tiga hari tiga malam dan menempuh jarak hampir 90 mil.
Sementara kedua rekan mereka yakni Pelda Mar (anm) Slamet Priyono dan Serma Mar (anm) Soetardi sampai saat ini tidak ada kabar beritanya. Dan Pimpinan TNI AL/Hankam telah memutuskan keduanya dinyatakan gugur sebagai pahlawan bangsa.
(cip)
Lihat Juga :