Antara Persepsi dan Realitas: Evaluasi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Selasa, 21 Oktober 2025 - 22:30 WIB
loading...
A
A
A
Antara Evaluasi dan Delegitimasi
Laporan kembaga kajian memang memberi ruang bagi kritik substantif, namun risko muncul ketika hasil survei semacam ini dibaca di luar konteks. Jika angka-angka persepsi digunakan sebagai bukti empiris tunggal untuk menilai performa ekonomi dan politik, maka riset berubah fungsi: dari alat koreksi menjadi instrumen delegitimasi.
Objektivitas riset kebijakan menuntut penggunaan triangulasi data—menggabungkan persepsi publik, indikator ekonomi, serta evaluasi administratif internal pemerintah. Tanpa itu, riset publik berisiko memperkuat confirmation bias masyarakat, maka siapa yang sudah skeptis akan makin yakin bahwa pemerintah gagal, sementara yang pro-pemerintah akan menolak mentah-mentah hasilnya.
Oleh karena itu, baik lembaga riset maupun pemerintah perlu berkomitmen pada keterbukaan data. Lembaga kajian bisa memperluas metodologi dengan melibatkan akademisi lintas disiplin dan indikator makro, sementara pemerintah perlu menanggapinya secara konstruktif, bukan defensif. Demokrasi yang sehat bukan yang bebas kritik tentunya, melainkan juga yang mampu mengubah kritik menjadi kebijakan yang lebih baik.
Penutup
Evaluasi satu tahun pemerintahan adalah sekadar cermin awal, bukan vonis akhir tentunya. Kritik keras dari publik versi CELIOS ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperbaiki aspek komunikasi, koordinasi, dan tata kelolanya. Namun, publik juga perlu menyadari bahwa reformasi struktural tidak dapat diukur dengan skala kepuasan jangka pendek.
Persepsi publik memang penting, tetapi kebenaran kebijakan akan ditentukan oleh hasil nyata di lapangan: misalnya apakah kemiskinan dan pengangguran menurun, investasi produktif meningkat, dan layanan publik membaik. Itulah ukuran objektif yang perlu dijadikan dasar dalam menilai pemerintahan.
Di tengah arus polarisasi opini, kebijaksanaan terbesar justru terletak pada kemampuan bangsa ini menyeimbangkan dua hal: kritik tajam dan analisis objektif. Hanya dengan keseimbangan itu, demokrasi Indonesia dapat tumbuh bukan sebagai panggung sentimen, melainkan sebagai ruang rasionalitas publik yang menghargai data, kinerja, dan harapan masa depan.
(rca)
Lihat Juga :