Tulah Ambisi Kereta Cepat

Selasa, 21 Oktober 2025 - 11:35 WIB
loading...
Tulah Ambisi Kereta...
Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik dan Co-Founder FINE Institute. Foto/Ist
A A A
Kusfiardi
Analis Ekonomi Politik dan Co-Founder FINE Institute

LIMA tahun setelah beroperasi, proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) yang digadang sebagai simbol modernisasi kini menghadapi ujian finansial yang serius. Biaya yang terus membengkak, perubahan struktur pembiayaan, dan sejumlah kebijakan penjaminan fiskal membuat publik kembali mempertanyakan.

Sejauh mana proyek ini benar-benar berdiri di atas prinsip business to business tanpa membebani negara?

Ambisi Infrastruktur


Gagasan pembangunan kereta cepat muncul sejak 2011 sebagai bagian dari agenda konektivitas Jawa Barat. Pemerintah memutuskan menggandeng China melalui skema BUMN joint venture melibatkan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), dengan komposisi 60 persen saham dimiliki konsorsium Indonesia (PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia/PSBI) dan 40 persen oleh konsorsium China Railway International.

Skema ini awalnya disebut “murni B2B”, tanpa dana dan jaminan pemerintah. Namun sejak awal, risiko fiskal tersembunyi sudah tampak dari lonjakan nilai proyek. Berawal dari 5,1 miliar dolar AS menjadi lebih dari 7,3 miliar dolar.

Ketika pembengkakan biaya terjadi, BUMN pemegang saham utama seperti PT KAI dipaksa menambah ekuitas melalui pinjaman. Tindakan yang pada akhirnya menggerus batas antara tanggung jawab korporasi dan negara.

Pergeseran Regulasi


Untuk menopang keberlanjutan proyek, Kementerian Keuangan mengeluarkan sejumlah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sejak 2015 hingga 2024. Pada tahap awal, regulasi ini hanya mengatur tata cara penyertaan modal dan investasi BUMN. Namun seiring meningkatnya tekanan pembiayaan, arah kebijakan bergeser.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dugaan Korupsi Whoosh...
Dugaan Korupsi Whoosh Didalami, KPK Terus Kumpulkan Keterangan Sejumlah Saksi
Utang Whoosh: Menata...
Utang Whoosh: Menata Ulang Ambisi Infrastruktur Nasional
Mahfud MD: Negara Wajib...
Mahfud MD: Negara Wajib Bayar Utang Whoosh, Dugaan Korupsi juga Harus Diselidiki
Kasus Proyek Whoosh,...
Kasus Proyek Whoosh, KPK Duga Ada Tanah Negara Dijual ke Negara
KPK: Penyelidikan Dugaan...
KPK: Penyelidikan Dugaan Korupsi Whoosh Berkaitan dengan Pembebasan Lahan
Penyelidikan Whoosh...
Penyelidikan Whoosh Tetap Berjalan, KPK: Kalau Tak Ada Tindak Pidana Korupsi Ya Selesai
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
Arus Balik Long Weekend...
Arus Balik Long Weekend Padati Whoosh, Separuh Penumpang Bergerak ke Jakarta
Rekomendasi
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
Dikhianati Suami, Shiena...
Dikhianati Suami, Shiena Bangkit Bongkar Perselingkuhan di Microdrama V+Short Replaceable
Rencana Aksi Lagi di...
Rencana Aksi Lagi di Bundaran HI, Ketua BEM UI Ingin Dobrak Kemacetan Mobilitas Sosial
Berita Terkini
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Dharma Pongrekun Gugat...
Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan, Berharap Hakim MK 'Diketuk Hatinya oleh Tuhan'
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Infografis
Menkes: Laki-laki Celananya...
Menkes: Laki-laki Celananya Ukuran 33 Lebih Cepat Meninggal Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved