Jokowi dan Jebakan Utang China

Senin, 20 Oktober 2025 - 19:03 WIB
loading...
A A A
Selain pelabuhan Kuala Tanjung, pembiayaan China juga berperan dalam pembangunan Pelabuhan Bitung dan Bitung Special Economic Zone melalui China Communications Construction Company yang melakukan MoU dengan Pemprov Sulawesi Utara. Menurut publikasi The Jakarta Post, bisnis China menanam modal sekitar Rp3 triliun untuk pengembangan infrastruktur dan kawasan industri/logistik dengan skema Public–Private Partnership dan Build–Operate–Transfer (BOT). Di mana China Communications Construction Company membiayai, membangun, dan mengoperasikan infrastruktur tersebut untuk jangka waktu tertentu (misal 25–50 tahun).

Kota Bitung sendiri secara geopolitik berada di wilayah ALKI-2 yang memberi Bitung nilai strategis sebagai titik kontrol lalu-lintas laut internasional yang menjadi pintu gerbang ke Pasifik Barat. Sebuah jalur strategis yang hanya berjarak sekitar 600-800 km ke basis militer Amerika Serikat di Mindanao (Filipina Selatan), Guam hingga Palau dan Yap. Sehingga Bitung menjadi “chokepoint strategis kedua” setelah Selat Malaka.

Maka dengan investasi dan pembangunan yang masif oleh China dalam proyek pelabuhan dan Bitung Special Economic Zone, Bitung berpotensi digunakan oleh China sebagai counterbalance terhadap kekuatan militer Amerika Serikat di Pasifik Barat. Dan China Exim Bank juga memberikan preferential buyer’s credit senilai kurang lebih USD78 juta dengan syarat 3% bunga 15 tahun tenor untuk pembangunan jalan tol Manado–Bitung sebagai infrastruktur pendukung guna menciptakan konektivitas dengan poros logistik kawasan pelabuhan/SEZ Bitung.

Di sini Indonesia berpotensi mengulangi pola awal Sri Lanka dan Myanmar. Di mana proyek Belt Road Initiative yang pada awalnya berstatus kerja sama komersial layaknya Public–Private Partnership dan Build–Operate–Transfer (BOT), tetapi perlahan berubah menjadi pengaruh strategis. Skema Public–Private Partnership sering disebut “tanpa APBN” namun ia menyimpan resiko tersembunyi (hidden fiscal liability) jika BUMN tak mampu membayar pinjaman atau tak mampu membiayai proyek lebih lanjut maka negara melalui APBN wajib menalangi.

Lebih dari itu, operator China memperoleh hak operasi jangka panjang yang bisa memberi kontrol penuh atas operasional seperti yang terjadi di pelabuhan Hambantota, Sri Lanka dan Kyaukpyu, Myanmar. Artinya, China menguasai operasi (logistik, tarif, traffic priority), yang kemudian bisa mengendalikan arus perdagangan tanpa memiliki asetnya.

Pelabuhan nasional strategis layaknya Kuala Tanjung dan Bitung berubah menjadi simpul jaringan logistik China (BRI port chain) meski tetap dimiliki Pelindo. Hal ini sangat mengancam kedaulatan ekonomi dan politik Indonesia karena akan menciptakan ketergantungan teknologi dan data logistik sebab hampir semua proyek pelabuhan yang dibiayai China, sistem pelabuhan terhubung dengan China Port Management Cloud System yang semua sistemnya, layaknya tracking, billing, dan AIS dikontrol oleh perusahaan China.

Yang dikhawatirkan, pelabuhan sipil besar dapat menjadi dual-use dimana China dapat menggunakan akses logistik untuk bantuan kapal niaga serta latihan militer (naval base) di masa depan. Apalagi pelabuhan Kuala Tanjung dan Bitung memiliki nilai geopolitik yang sangat strategis dalam kontelasi geopolitik global di Asia Pasifik.

Bukan tidak mungkin hal ini terjadi, proyek kereta cepat KCIC adalah bukti nyata tentang bahaya jebakan utang China yang apabila dibiarkan akan mengancam kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka. Pemerintah saat ini perlu mengembalikan kembali posisi Indonesia sebagai non-alignment, yang berkomitmen pada politik bebas aktif dan tidak menjadi “pion” salah satu kekuatan besar tertentu demi kebaikan rakyat Indonesia. Sehingga pemerintah dan rakyat Indonesia tidak lagi menjadi korban dari perang dingin kekuatan besar dunia.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Relawan Jokowi Sebut...
Relawan Jokowi Sebut Tudingan Roy Suryo Cs Soal Ijazah Jokowi Menguras Energi
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
Namanya Disebut dalam...
Namanya Disebut dalam Pleidoi Nadiem, Jokowi: Yang Saya Tahu Pak Nadiem Orang Baik
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Segera Disidang, Ini Respons Pengacara Jokowi
Kasus Tudingan Ijazah...
Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Segera Disidang, Roy Suryo: Kayaknya Ini Didorong Termul yang Ngamuk
Jokowi Akan Kunjungi...
Jokowi Akan Kunjungi Lampung, Relawan dan PSI Siap Kawal Seluruh Agenda
Arus Balik Long Weekend...
Arus Balik Long Weekend Padati Whoosh, Separuh Penumpang Bergerak ke Jakarta
Rekomendasi
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Kendaraan Kepala Komando Utara IDF di Lebanon Selatan
Bukan Hantu, Monster...
Bukan Hantu, 'Monster Pabrik Rambut' Sajikan Horor dari Dunia Kerja yang Melelahkan
PSN Papua Tetap Perhatikan...
PSN Papua Tetap Perhatikan Kelestarian Lingkungan dan Serap Ribuan Tenaga Kerja OAP
Berita Terkini
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved