Legacy Buruk Jokowi, Batu Sandungan Prabowo di Tahun Pertama
Minggu, 19 Oktober 2025 - 20:25 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah kini menghadapi dilema: melanjutkan proyek dengan dana APBN yang semakin terbatas atau menghentikan proyek yang sudah menghabiskan lahan dan menimbulkan persoalan sosial serta lingkungan. Kedua pilihan sama-sama politis dan berisiko tinggi.
Di atas semua itu, ada bayang-bayang lain yang lebih lembut tapi tak kalah mencengkeram: pengaruh Jokowi yang masih kuat di tubuh birokrasi dan elite politik. Loyalisnya masih menguasai posisi strategis, dari kementerian hingga komisaris BUMN. Akibatnya, setiap kebijakan baru Prabowo sering ditafsirkan sebagai kelanjutan rezim lama, bukan perubahan arah. Bahkan upaya efisiensi BUMN dan pemangkasan struktur birokrasi yang besar masih jalan di tempat.
Pemerintahan Prabowo hari ini sedang menghadapi dua medan sekaligus: tekanan fiskal akibat utang lama dan tekanan politik akibat warisan jaringan kekuasaan Jokowi. Dua-duanya sama-sama berbahaya. Yang satu menggerogoti keuangan negara, yang lain menghambat lahirnya identitas pemerintahan baru. Prabowo tidak bisa selamanya bersembunyi di balik istilah “melanjutkan yang baik”. Sebagian dari yang disebut baik itu justru menjadi sumber kerusakan ekonomi hari ini.
Masyarakat kini menunggu keberanian politik untuk melakukan koreksi. Jika Prabowo ingin mewariskan sesuatu yang benar-benar baru, maka langkah pertama adalah menghentikan logika pembangunan berbasis gengsi dan utang. Whoosh dan IKN adalah simbol kebijakan masa lalu yang dibangun bukan atas dasar kebutuhan rakyat, melainkan obsesi personal dan pencitraan kekuasaan. Tidak ada yang salah dengan ambisi besar, tetapi ambisi tanpa kalkulasi hanya menciptakan lubang bagi generasi berikutnya.
Satu tahun sudah cukup untuk melihat bahwa tantangan utama pemerintahan Prabowo bukanlah menciptakan visi baru, melainkan memutus rantai kesalahan lama. Reformasi fiskal, efisiensi BUMN, dan keberanian meninjau proyek-proyek raksasa harus menjadi prioritas nyata. Negara tidak boleh terus menjadi penanggung rugi dari kesalahan masa lalu. Jika tidak ada koreksi, maka lima tahun pemerintahan ini akan menjadi bab tambahan dari buku lama berjudul sama: “Pembangunan yang Membebani Rakyat.
Di atas semua itu, ada bayang-bayang lain yang lebih lembut tapi tak kalah mencengkeram: pengaruh Jokowi yang masih kuat di tubuh birokrasi dan elite politik. Loyalisnya masih menguasai posisi strategis, dari kementerian hingga komisaris BUMN. Akibatnya, setiap kebijakan baru Prabowo sering ditafsirkan sebagai kelanjutan rezim lama, bukan perubahan arah. Bahkan upaya efisiensi BUMN dan pemangkasan struktur birokrasi yang besar masih jalan di tempat.
Pemerintahan Prabowo hari ini sedang menghadapi dua medan sekaligus: tekanan fiskal akibat utang lama dan tekanan politik akibat warisan jaringan kekuasaan Jokowi. Dua-duanya sama-sama berbahaya. Yang satu menggerogoti keuangan negara, yang lain menghambat lahirnya identitas pemerintahan baru. Prabowo tidak bisa selamanya bersembunyi di balik istilah “melanjutkan yang baik”. Sebagian dari yang disebut baik itu justru menjadi sumber kerusakan ekonomi hari ini.
Masyarakat kini menunggu keberanian politik untuk melakukan koreksi. Jika Prabowo ingin mewariskan sesuatu yang benar-benar baru, maka langkah pertama adalah menghentikan logika pembangunan berbasis gengsi dan utang. Whoosh dan IKN adalah simbol kebijakan masa lalu yang dibangun bukan atas dasar kebutuhan rakyat, melainkan obsesi personal dan pencitraan kekuasaan. Tidak ada yang salah dengan ambisi besar, tetapi ambisi tanpa kalkulasi hanya menciptakan lubang bagi generasi berikutnya.
Satu tahun sudah cukup untuk melihat bahwa tantangan utama pemerintahan Prabowo bukanlah menciptakan visi baru, melainkan memutus rantai kesalahan lama. Reformasi fiskal, efisiensi BUMN, dan keberanian meninjau proyek-proyek raksasa harus menjadi prioritas nyata. Negara tidak boleh terus menjadi penanggung rugi dari kesalahan masa lalu. Jika tidak ada koreksi, maka lima tahun pemerintahan ini akan menjadi bab tambahan dari buku lama berjudul sama: “Pembangunan yang Membebani Rakyat.
(wur)
Lihat Juga :