Legacy Buruk Jokowi, Batu Sandungan Prabowo di Tahun Pertama
Minggu, 19 Oktober 2025 - 20:25 WIB
loading...
A
A
A
Kinerja komersial Whoosh jauh dari kata sehat. Hingga akhir 2024, jumlah tiket yang terjual hanya sekitar 6,04 juta dengan harga rata-rata Rp 250 ribu per tiket. Total omzet tahunan sekitar Rp 1,5 triliun, bukan laba.
Jika diasumsikan profit margin 20 persen seperti model bisnis kereta cepat di China atau Jepang, keuntungan bersihnya hanya Rp 300 miliar per tahun. Dengan investasi Rp 110 triliun, masa balik modalnya mencapai 367 tahun—dalam kata lain, never profitable. Faktanya, laporan internal Kementerian Keuangan per Juli 2025 menunjukkan KCIC malah menanggung kerugian triliunan rupiah setiap tahun dengan okupansi rata-rata hanya 25–30 ribu penumpang per hari.
Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Semester I 2025 bahkan memperingatkan potensi kerugian kumulatif hingga Rp 17 triliun pada 2030. Angka itu bisa bertambah jika pemerintah terus menanggung bunga pinjaman dan biaya operasional tinggi. Whoosh akhirnya menjadi kereta yang berlari cepat meninggalkan akal sehat fiskal. Setiap kilometer rel yang dibangun kini dihitung bukan sebagai infrastruktur produktif, tapi sebagai liabilitas jangka panjang yang diwariskan lintas generasi.
Kegagalan finansial Whoosh hanyalah puncak dari gunung es warisan ekonomi Jokowi. Dalam satu dekade kekuasaan, pembangunan infrastruktur didorong dengan utang, bukan efisiensi. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat ke 38,49 persen, setara Rp 8.461 triliun hingga Agustus 2024.
Akibatnya, ruang fiskal pemerintahan Prabowo menyempit. Program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berjalan di bawah tekanan fiskal yang berat.
Masalah serupa terjadi pada proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Dari total kebutuhan Rp 466 triliun, investasi yang terealisasi baru sekitar Rp 62 triliun per April 2025.
Jika diasumsikan profit margin 20 persen seperti model bisnis kereta cepat di China atau Jepang, keuntungan bersihnya hanya Rp 300 miliar per tahun. Dengan investasi Rp 110 triliun, masa balik modalnya mencapai 367 tahun—dalam kata lain, never profitable. Faktanya, laporan internal Kementerian Keuangan per Juli 2025 menunjukkan KCIC malah menanggung kerugian triliunan rupiah setiap tahun dengan okupansi rata-rata hanya 25–30 ribu penumpang per hari.
Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Semester I 2025 bahkan memperingatkan potensi kerugian kumulatif hingga Rp 17 triliun pada 2030. Angka itu bisa bertambah jika pemerintah terus menanggung bunga pinjaman dan biaya operasional tinggi. Whoosh akhirnya menjadi kereta yang berlari cepat meninggalkan akal sehat fiskal. Setiap kilometer rel yang dibangun kini dihitung bukan sebagai infrastruktur produktif, tapi sebagai liabilitas jangka panjang yang diwariskan lintas generasi.
Kegagalan finansial Whoosh hanyalah puncak dari gunung es warisan ekonomi Jokowi. Dalam satu dekade kekuasaan, pembangunan infrastruktur didorong dengan utang, bukan efisiensi. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat ke 38,49 persen, setara Rp 8.461 triliun hingga Agustus 2024.
Akibatnya, ruang fiskal pemerintahan Prabowo menyempit. Program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berjalan di bawah tekanan fiskal yang berat.
Masalah serupa terjadi pada proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Dari total kebutuhan Rp 466 triliun, investasi yang terealisasi baru sekitar Rp 62 triliun per April 2025.
Lihat Juga :