BNPT dan DPR Kolaborasi Tingkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama di Padang
Minggu, 12 Oktober 2025 - 20:40 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Sudaryanto, perempuan adalah pilar utama dalam keluarga, karena dari peran merekalah nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk toleransi dan moderasi beragama, pertama kali ditanamkan.
“Perempuan adalah pendidik dan penjaga di dalam keluarga. Di sanalah nilai-nilai kebangsaan, kasih sayang, dan toleransi tumbuh. Karena itu, perempuan memiliki posisi strategis dalam mencegah paham-paham yang menyimpang,” jelasnya.
Sudaryanto mengingatkan adanya upaya sistematis kelompok tertentu untuk merekrut anak-anak muda melalui dunia digital, termasuk lewat platform permainan daring (game online).
“Sekarang sudah ada upaya menyusupkan paham radikal kepada anak-anak lewat game online. Dari bermain, mereka bisa berkomunikasi dengan orang lain. Setelah tertarik, mereka digiring ke grup WhatsApp atau Telegram tertentu, di mana mulai diberikan pemahaman intoleran dan radikal,” paparnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua, khususnya ibu untuk mengawasi aktivitas anak-anak di dunia digital.
“Tolong diperhatikan anak-anak saat bermain game atau menggunakan handphone. Kadang kita tidak sadar, mereka pun tidak sadar, bahwa pelan-pelan sudah digiring ke arah yang tidak baik. Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Meski saat ini tidak ada aksi terorisme besar yang terjadi di Indonesia, Sudaryanto mengingatkan bahwa ancaman dan potensi radikalisme tetap ada dan memerlukan kewaspadaan bersama.
“Memang sekarang tidak ada aksi terorisme, tetapi potensi itu masih ada. Ini tanggung jawab kita bersama. BNPT tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh kolaborasi lintas pihak, dan semua itu dimulai dari rumah, dari peran ibu,” katanya.
“Perempuan adalah pendidik dan penjaga di dalam keluarga. Di sanalah nilai-nilai kebangsaan, kasih sayang, dan toleransi tumbuh. Karena itu, perempuan memiliki posisi strategis dalam mencegah paham-paham yang menyimpang,” jelasnya.
Sudaryanto mengingatkan adanya upaya sistematis kelompok tertentu untuk merekrut anak-anak muda melalui dunia digital, termasuk lewat platform permainan daring (game online).
“Sekarang sudah ada upaya menyusupkan paham radikal kepada anak-anak lewat game online. Dari bermain, mereka bisa berkomunikasi dengan orang lain. Setelah tertarik, mereka digiring ke grup WhatsApp atau Telegram tertentu, di mana mulai diberikan pemahaman intoleran dan radikal,” paparnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua, khususnya ibu untuk mengawasi aktivitas anak-anak di dunia digital.
“Tolong diperhatikan anak-anak saat bermain game atau menggunakan handphone. Kadang kita tidak sadar, mereka pun tidak sadar, bahwa pelan-pelan sudah digiring ke arah yang tidak baik. Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Meski saat ini tidak ada aksi terorisme besar yang terjadi di Indonesia, Sudaryanto mengingatkan bahwa ancaman dan potensi radikalisme tetap ada dan memerlukan kewaspadaan bersama.
“Memang sekarang tidak ada aksi terorisme, tetapi potensi itu masih ada. Ini tanggung jawab kita bersama. BNPT tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh kolaborasi lintas pihak, dan semua itu dimulai dari rumah, dari peran ibu,” katanya.
Lihat Juga :